Home / Desain Game / Alat Bantu Ajar

Alat Bantu Ajar

Game sebagai serious learning tools

Bisakah game non-edukasi digunakan sebagai alat bantu belajar? Apakah game yang bisa digunakan harus game bertema edukasi spesifik saja?

Biasanya kita menterjemahkan game edukasi sebagai game yang menampilkan materi pelajaran. Diluar itu kita anggap game hiburan. Secara sederhana, kita menganggap game edukasi membosankan dan melulu berisi teori yang sekedar ditempelin fitur multimedia interaktif. Dulu mungkin anggapan itu benar, tapi sekarang tidak lagi!

Kini sudah banyak game non-edukasi yang memiliki nilai edukasi. Bahkan bisa dikatakan nilai edukasinya cukup banyak. Bagaimana memilih game yang memiliki nilai edukasi yang baik diantara game tersebut? Ada beberapa tips yang bisa anda perhatikan:

  1. Pastikan game tersebut memiliki kesamaan tema dengan pengajaran dari materi pelajaran Anda. Tidak harus 100% sama, bisa berbeda sedikit, karena bisa saja cukup sulit menemukan game yang spesifik dengan materi belajar Anda.
  2. Yang perlu anda perhatikan adalah konteks dari pengajaran harus sesuai dengan poin yang ingin Anda berikan kepada murid. Bisa saja Anda menggunakan beberapa game untuk memenuhi beberapa poin yang berbeda dengan materi Anda dan itu tidak menjadi masalah.
  3. Mainkan terlebih dahulu dan pastikan Anda bisa memberikan materi tambahan dari game itu kepada materi utama Anda. Bisa saja berupa kuis, diskusi tanya-jawab, menganalisa output dari game dengan menggunakan bahan dari materi ajar Anda, dsb.

Mari kita lihat contoh game yang bisa digunakan sebagai alat bantu ajar. Kebetulan saya mengajar mengenai game designer dan game production, jadi saya memberikan contoh terkait dengan industri game.

Kesamaan Tema

Ada 2 game yang cocok digunakan sebagai alat bantu ajar untuk bidang game development, yaitu Gamedev Tycoon yang merupakan clone dari game asli yaitu Gamedev Story. Kedua game ini membuat gameplay unik dengan memberikan kesempatan kepada pemain untuk merasakan bagaimana menjadi seorang game developer pemula (Startup) dan meniti perjalanan panjang membangun perusahaan game sampai sukses.

Gamedev Tycoon lebih spesifik dibanding dengan Gamedev Story. Gamedev Story lebih menekankan secara umum / general dibandingkan dengan Gamedev Tycoon yang sedikit lebih kompleks dan detail. Namun keduanya bisa digunakan sebagai alat bantu simulasi kepada mahasiswa yang tertarik melihat bagaimana sebuah perusahaan gamedev dibangun dan beroperasi.

gamedev tycoon 1

Game Dev Tycoon: Startup GAME: Memulai usaha dengan membuat game di kamar

gamedev tycoon 2

Gamedev Tycoon: Sampai akhirnya sukses menjadi pemimpin di perusahaan Game

gamedev story 1

Game Dev Story tersedia di Apple Appstore dan Googleplay

gamedev story 2

Anda memulai karir sebagai pimpinan perusahan game kecil

game dev story 3

Sejalan dengan waktu, perusahaan akan Anda berkembang

Setelah memainkannya sampai puluhan kali, saya menemukan bahwa kedua game ini sangat membantu saya menjelaskan bagaimana sebuah perusahaan gamedev dibangun dan menjalani operasional sehari-hari. Memang ada penyederhanaan disana-sini demi menjaga gameplay yang enak dimainkan. Tapi tidak kalah seru adalah penekanan berbagai aspek seperti riset, pemilihan SDM, pemasaran, strategi pasar, dsb. Suatu materi yang sulit dibahas jika tidak dibantu dengan alat simulasi / alat ajar seperti kedua game tersebut.

Kalau kedua game diatas itu  Anda anggap spesifik dengan industri tertentu dan terkesan “terlalu teknis”, maka saya akan memberikan contoh lagi dimana game ini selain cocok dimainkan untuk umum, bisa sekaligus digunakan sebagai alat bantu ajar kepada siswa yang mempelajari bidang tersebut yaitu kuliner.

Fokus Kepada Konteks

Gamenya cukup banyak. Saya akan berikan beberapa saja agar anda bisa mempelajarinya dan cukup mudah menemukan game tersebut di internet. Anda bisa download dan coba sendiri. Game itu adalah: Cooking Academy, Cooking Academy 2 dan Top Chef.  Game sejenis lainnya bisa anda temukan juga.Saya memilih ketiga game itu karena saya sudah meminta teman pengajar di lembaga pelatihan kerja di bidang kuliner untuk mencobanya. Dan ternyata teman pengajar itu yakin bahwa game tersebut sangat membantu di dua bidang yang berbeda tapi saling melengkapi yaitu: belajar memasak dan bahasa Inggris.

Teman saya itu mengajar di LPK  untuk pelatihan kru kapal pesiar. Jadi Anda bisa bayangkan betapa game ini membantu murid-muridnya belajar dua hal sekaligus. Hasilnya? Selain tahu puluhan resep masakan dan cara memasaknya, mereka juga semakin paham prosedur memasak karena secara praktek mereka sudah melakukannya. Game itu semakin melatih pemahaman mereka akan resep, cara memasak, bahasa Inggris yang digunakan dalam industri kuliner, dsb.

cooking academy 1   cooking academy 2

Coba Anda lihat video dari Cooking Academy 1 dari Youtube dibawah ini. Video itu dimainkan dalam mode cepat, namun Anda masih tetap bisa melihat bagaimana proses game tersebut dimainkan didalamnya

Dari dua contoh diata, saya yakin bahwa Anda bisa melihat penggunaan game sebagai alat bantu ajar walaupun mungkin materi ajar Anda cukup unik. Batasan bahasa atau fokus materi janganlah dijadikan alasan bahwa game tersebut tidak 100% sesuai dengan kondisi kita di Indonesia. Yang penting disini adalah tingkat kepraktisan dan bagaimana Anda menggunakan alat bantu ajar Multimedia untuk mendukung pengajaran yang dilakukan.

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.