Home / Entrepreneur / Aliansi + Kolaborasi = Strategi?

Aliansi + Kolaborasi = Strategi?

Kali ini saya membeberkan kejadian yang baru-baru ini saya lakoni. Saya beraliansi dengan GITS Amikom beserta 3 studio game indie lainnya untuk tujuan kolaborasi.

Saya mengangkat topik ini dengan alasan kolaborasi itu bukan hal mudah. Apalagi untuk studio game indie yang masih sarat dengan idealisme. Salah satu penyakit (kalau boleh saya katakan kesalahan untuk istilah lainnya) dari startup adalah idealisme yang cenderung berlebihan atau kepercayaan diri yang kurang realistis.

Latar belakang pendirian aliansi ini adalah untuk menjawab ajakan dari Abyor International, sebuah perusahaan IT dari Indonesia yang beroperasi di Eropa (tepatnya berkantor di Jerman dan Belanda). Mereka melihat peluang industri gamedev dan mencari resources di dalam negeri.

Mendirikan startup itu tidak gampang, menyamakan visi dan misi beberapa orang dan membentuk kerjasama dalam kondisi terbatas apalagi. Tapi disitulah memang tantangan startup sebenarnya. Hanya saja, banyak studio game yang tidak mau memikirkan beberapa aspek lain misalnya aspek bisnis yang ternyata sangat berperan penting untuk kelangsungan startupnya.

Kebanyakan startup sering hanya berkutat di masalah teknis, sebagian lagi sudah memikirkan aspek bisnis tapi tidak mau “dijamah” oleh pihak lain. Maunya hanya oleh investor, ventura dan pihak sejenis yang ujung-ujungnya hanya minta dana. Didalam dunia bisnis hal itu tidak mudah dan saat ini semakin tidak mudah walaupun investor bertabur dimana-mana. Era dapat duit dari investor sudah tidak trend lagi. Mereka semakin selektif dan kejam kalau kita meminjam istilah Sun Tzu dalam memastikan bahwa dana mereka “worth it” untuk diberikan.

Secara mudah kita melihat, ada unsur survival of the fittest disini. Berapa startup yang bisa lolos seleksi menurut kondisi diatas? Sedikit bukan? Lalu bagaimana startup yang kurang beruntung lainnya?
Saat ini kecenderungan model crowdfunding menjadi trend lagi. Ya, itu salah satu solusi kreatif  yang muncul dalam menyikapi kondisi saat ini. Tapi ingat, tetap ada batasnya. Masih terjadi  ada kondisi dimana hanya segelintir yang mendapatkan “durian runtuh”. Lalu bagaimana dengan yang lainnya?

Kondisi ini yang memicu peluang dimana beberapa startup saya tawarkan kesempatan untuk menjalin aliansi dengan perusahaan IT yang secara core business tidak sama namun memiliki ketertarikan untuk memanfaatkan peluang game development. Tepatnya saya menjadi middleman dalam kasus ini. Ada 4 studio dengan kondisi yang berbeda, masalah yang bervariasi, tapi niatnya satu yaitu bagaimana menjadi eksis secara profesional dan bisa menjalani bisnis dengan lebih mudah.

Syukurlah ke 4 studio game indie itu terbuka terhadap perubahan. Memang tidak mudah menjalin kerjasama dalam bentuk aliansi apalagi ketika masih posisi infant (bayi). Tapi dengan strategi aliansi hal itu tidak menjadi penghalang.

PT. GITS  tertarik dengan trend game development dan ingin berkiprah. Saya menawarkan bentuk kerjasama publisher-studio game. Sederhana saja sebenarnya. Yang sulit adalah membangun trust di awal antara studio game dengan GITS. Seperti yang saya paparkan diatas, ada ego dan ada idealisme yang pada mulanya sulit untuk dibuang dan memilih bergabung denga GITS. Tapi para pelaku game studio itu menyadari bahwa posisi mereka masih infant, masih fragile dan butuh induk. Akhirnya mereka terbuka setelah melewati diskusi yang cukup panjang.

Ada beberapa hal yang penting harus diperhatikan dalam aliansi seperti ini:

  1. Kejelasan siapa leader dalam operasional.
  2. Kepastian pembagian tugas dan posisi dalam operasional manajemen.
  3. Ketentuan hak cipta dan pembagian profit.
  4. Masa berlaku kerjasama dan sistem kesinambungannya.
  5. Model untuk pengambilan keputusan maupun kesepakatan.

Sepertinya masalah baru? Ya, beraliansi juga memiliki masalahnya sendiri. Namun disamping masalah itu ada beberapa peluang yang menjadi menarik untuk dicermati seperti skalabilitas pekerjaan yang bisa dilakukan bersamaan. Tidak kalah penting adalah sistem pemasaran yang lebih bertenaga dan akhirnya membuat “penampilan” menjadi lebih besar dan lebih menjual.

Banyak startup lupa  dan mengira bahwa membuat produk adalah yang terpenting, yang lainnya akan mengikuti. Padahal pada kenyataannya bisa terbalik. Produk yang dihasilkan bisa saja inovatif tapi tanpa model bisnis dan pemasaran yang tepat, maka produk tadi tidak akan memiliki kekuatan yang berarti untuk dewasa dan bertahan. Bagian inilah yang sering diabaikan oleh startup.

Kesimpulan secara sederhana: lakukan apa saja yang secara logis bisa memperbesar peluang untuk bertahan dan berkembang sampai startup anda bisa mandiri 100%. Ketika anda belum dewasa, berhentilah bersikap dewasa, dan gabung kekuatan yang cukup untuk bertindak seperti itu.

 

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.