Home / Startup / Apa Yang Bisa Dipelajari dari Evaluasi Indigo Batch I 2016

Apa Yang Bisa Dipelajari dari Evaluasi Indigo Batch I 2016

Pada tanggal 24 Januari dari pagi sampai sore, saya menjadi salah satu penilai dari tim penilai untuk evaluasi startup Indigo Batch I 2016. Ada 4 startup yang dievaluasi. Ada yang lulus, ada yang disertai catatan dan ada pula yang gagal. Saya tidak akan membahas startup secara individu namun lebih membahas hal apa yang bisa diambil sebagai pelajaran bersama.

Perlu saya beritahukan di awal bahwa pembahasan saya bersifat umum dan bukan mengacu ke satu startup tertentu. Dari ke-4 startup yang dievaluasi, saya mendapati beberapa pattern perilaku yang sudah nampak atau dapat diduga sebelumnya. Sehingga keputusan bersama para penilai sudah bisa saya tebak sebenarnya. Maka dari itu saya membuat artikel ini karena bisa menjadi pelajaran bagi semua startup yang tertarik menelaah apa saja kelemahan yang bisa terjadi didalam timnya.

Banyak startup mengira bahwa produk yang tervalidasi dan memiliki traction adalah segalanya. Ternyata hal positif dan menggembirakan itu bisa menjadi bumerang atau ilusi tersendiri. Jika startupmu mengalami kejadian yang sama dimana ada traction yang tadinya kamu duga bisa menjadi pengungkit, ternyata dalam perjalanan waktu selanjutnya bisa saja tidak bertumbuh alias datar. Lalu ilusi traction tadi menjadi hilang dan para founder pun bingung apa penyebabnya.

Pada tahap idea validation umumnya masih banyak startup yang lolos. Filter pertama yang lumayan rumit ada di tahap Product Validation, dimana produk tersebut harus bisa anda buat dengan final alias selesai. Lebih bagus kalau tepat waktu selain fitur yang dibuat juga seharusnya sudah memadai alias tersedia fitur utama. Bagaimana pun juga pada tahap ini harus ada fase early adapter yang bertumbuh dan harus ada penggunaan ulang dari produk anda oleh pelanggan yang tertarik menggunakannya. Kalau hanya mencoba saja lalu berhenti maka ada yang masih harus ditweak-ing dalam produk tersebut.

Minimnya Komitmen Founder

Data yang didapat dari early adapter sering sekali berulang  kali dan membutuhkan effort tersendiri. Fokus bekerja dan disiplin dalam waktu adalah salah satu bukti komitmen yang bisa diukur disini. Variabel ini nampak dari konsistensi perbaikan produk, mentoring, interaksi dengan pelanggan, dsb. Dengan kata lain, disini para founder menjadi multitasking karena mengerjakan produk yang baik bersamaan dengan fokus membaca kemauan pelanggan.

Banyak startup yang fokus atau asyik membangun produk dan lupa dengan suara dan masukan para pelanggan. Padahal masukan dari early adapter inilah yang penting untuk ditampung sekaligus membuktikan bahwa produk yang dibuat memang sudah sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka.Bagaimana tidak, sering founder merasa kritikan dan masukan tadi menganggu dan membuat mereka tidak fokus. Padahal sebaliknya, suara dan kebutuhan merekalah yang menjadi fokus dari produk yang dibuat.

Alasan bahwa para founder sibuk dengan pekerjaan lain adalah salah satu masalah yang sering dibuat jadi alasan. Padahal jangankan startup yang sudah mendapatkan dana inkubasi, bahkan startup yang tidak memiliki danapun harus berani fokus terhadap produk yang dibangun. Jika tidak maka lebih baik tidak mendirikan startup.

Alasan memiliki kesibukan karena melakukan bootstrapping demi mendapatkan dana tambahan malah membuktikan bahwa startup harus bekerja ekstra keras. Bukan malah memberikan alasan pembenaran sebagai tameng ketidakmampuan bekerja.

Kerjasama Tim Yang Kurang

Harus diakui bahwa banyak startup yang muncul dari kalangan geek alias teknis. Sering pula perlakuan mereka terhadap sistem kerja bersama bersifat teknis pula. Padahal dalam membangun tim pola tersebut tidak selamanya menguntungkan.

Startup sebenarnya adalah bentuk manajemen perusahaan yang terkecil namun fungsi maupun operasionalnya nyaris sama. Hanya dalam skala yang kecil dan beberapa tugas dipegang oleh satu individu. Perbedaan lain adalah dana yang dimiliki umumnya masih minim di tahap awal. Bahkan masuknya investor pun tidak menjamin kalau startup tersebut bisa survive karena modal hanya mencakup satu poin dari beberapa poin penting lainnya.

Dalam berbisnis memang dibedakan fungsi dan tugas dari para founder dan co-founder, namun dalam menjalankan perusahaan tidak hanya dibutuhkan skill teknis saja melainkan skill sosial dimana bentuk nyatanya adalah kerendahan hati, kerjasama terus menerus antar founder dan tentunya pengorbanan tersendiri baik di bidang uang, tenaga dan pikiran.

Kerjasama disini tidak bisa hanya mengandalkan rasa keadilan saja, namun juga empati dan kalkulasi. Karena sering kali empati berlebihan malah membuat kerjasama antar tim menjadi canggung karena tiap founder malah sibuk membela dan memalingkan wajah dari kelemahan founder yang lain. Alih-alih menasehati dan mencari solusi, malah mengelak dan menganggap hal itu lumrah ditahap awal startup berjalan. Padahal jika sudah menjadi kebiasaan maka perilaku ini tidak akan mudah diubah dan sering menjadi standar bersama. Bayangkan buruknya…

Kalkulasi bersama bersifat internal dalam artian ada self assesment dari tiap founder untuk startup secara bersama-sama membuat penilaian berkala. Baik dari pencapaian kerja, implementasi misi dari startup sampai target yang disasar. Semua harus terjadwal dan terencana alias memiliki deadline dan spesifik target tertentu pula. Sehingga bisa diukur dan dievaluasi agar ada perbaikan yang dijalankan. Bila tidak maka tanpa sadar startup akan masuk ke zona zombie. Dimana ada pertumbuhan tapi sangat lambat. Ada perbaikan tapi tidak terasa. Dihasilkan dengan angka statistik yang datar alias flat.

Kesimpulan

Komitmen dan kerjasama tim sangat penting dalam startup. Upayakan untuk bisa menilai atau mengukur kedua variabel tersebut dari waktu ke waktu didalam tim anda. Tidak mudah memang dan belum tentu semua founder nyaman dengan self assesment seperti itu. Tapi ibarat kompas, semakin sering melakukan evaluasi maka hasil akan semakin akurat.

Semakin sering startup melakukan penilaian internal maka akan semakin kuat kerjasama tim karena suka atau tidak penilaian bersama akan membuat para founder belajar menyadari kelemahan, mencari solusinya dan menjadi saling terbuka. Mungkin di awal akan ada konflik atau upaya untuk mengelak, tapi harus diingat bahwa itu hanya sementara saja karena belum terbiasa terbuka dari waktu ke waktu antar founder. Apalagi sampai menerapkan sistem penilaian. Tapi itu pula pemahaman yang perlu dirubah berdasarkan manajemen modern yang saat ini sudah menjadi keharusan untuk mengembangkan entiti bisnis.

Walaupun startup anda masih kecil, namun perlakuan serius tetap penting. Bagaimanapun itu adalah bisnis anda bukan?

 

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.