Home / Entrepreneur / Apakah Startup cocok untuk Anda?

Apakah Startup cocok untuk Anda?

Beberapa startup yang saya temui beberapa waktu selama ini memiliki keunikan tersendiri. Beberapa diantara mereka langsung mencoba mendirikan startup. Banyak yang gagal dan banyak yang masih berjalan di zona zombie. Apakah tidak ada  yang berhasil? Apakah startup tidak cocok untuk mahasiswa?

Banyak yang mengira bahwa jika sudah memiliki ide yang dianggap mumpuni dan skill IT yang cukup, maka dunia startuplah yang cocok untuk dijalani. Benarkah demikian? Apakah dunia kerja biasa tidak cocok lagi untuk kalangan muda saat ini?

Startup failure

Tidak dipungkiri memang startup sudah menjadi trend 5 tahun belakangan ini. Namun jangan salah mengira, startup masih bertumbuh dan menjadi bentuk kedewasaan dan masih banyak mengalami perubahan. Startup yang kita kenal umumnya adalah hasil adaptasi dari dunia Barat. Salah satu yang harus diingat oleh para pelaku startup dalam negeri adalah ekosistem pendukung yang belum maksimal di Indonesia. Jadi wajar saja kalau dunia startup di Indonesia jauh lebih berdarah-darah dibanding diluar negeri.

Selain itu, dunia pendidikan di sana juga memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan disini. Salah satunya adalah kemampuan menulis (bukan mengarang). Sejak dini di luar negeri (khususnya Amerika) sudah menanamkan kebiasaan menulis esai (pendapat pribadi catau opini). Cara ini ditengarai mampu melatih pola pikir dengan baik dan logis bagi para murid. Jadi wajar jika masuk ke mahasiswa, mereka sudah lebih dalam memahami cara berpikir intelektual. Ini penting untuk belajar mengenal dan memahami diri tiap-tiap individu.

Kita bandingkan di Indonesia. Hal berbeda yang akan muncul. Bahkan dosen pun malas menulis dan lebih banyak mengerjakan hal lain yang ‘maaf’ bisa dikatakan jauh dari dunia intelektual dan lebih condong ke dunia bisnis murni. Apa korelasi dengan startup?

Startup juga berasal dari dunia kampus atau akademisi. Bisa dikatakan, jiwa dasar startup adalah kewirausahawan dan umumnya bentuk startup muncul dari kampus dimana para mahasiswa belajar menjadi pebisnis. Dan para pebisnis pemula ini biasanya dikeloni oleh inkubator dan ventura capital.

Diluar negeri seperti Amerika, sudah jamak para peneliti, pelaku akademisi bahkan mahasiswa yang memulai bisnis dilirik oleh banyak pihak. Tidak hanya pemerintah saja, ada ventura capital baik dari swasta maupun perseorangan yang siap membantu jika startup tersebut memang memiliki ide dan kemampuan tim yang mumpuni.  Selain itu, para akademisi di luar negeri juga banyak terlibat dalam gerakan startup dengan membuat berbagai penelitian mengenai startup, mulai dari model bisnis, cara bertindak bahkan sampai trend ide yang layak untuk dikembangkan. Jadi, bisa dikatakan, ekosistem startup di Amerika sebagai salah satu negara maju yang sangat mendukung pertumbuhan startup sudah sangat mendukung dan hal ini berdampak positif kepada para pelaku startup secara umum.

Di Indonesia, ekosistem itu baru mulai bertumbuh dan belum matang. Malah bisa dikatakan masih mencari bentuk. Jadi masih banyak kendala dan halangan yang bisa menjadi masalah bagi pelaku startup lokal. Saya bukan membuat anda menjadi patah semangat dan meremehkan pertumbuhan startup lokal. Bukan itu maksud saya.

Yang ingin saya katakan adalah: Anda perlu memahami bahwa tantangan masih berat dan berbeda dengan apa yang anda baca, dengar atau tonton di luar sana. Anda perlu menambah nyali dan semangat.

Kembali ke masalah apakah startup untuk Anda? Saya memberikan nasehat kepada para adik-adik mahasiswa: Startup tidak harus langsung dilakukan ketika anda masih mahasiswa. Ada baiknya anda bekerja dulu (magang) ke perusahaan lain yang mendukung perkembangan, pertumbuhan dari diri Anda.

Apakah anda tahu bahwa startup adalah sebuah bisnis? Sebuah bentuk atau entiti perusahaan? Walaupun  masih hanya anda seorang diri atau dengan teman lain?

Nah, menjalankan perusahaan memerlukan banyak skill dan kemampuan. Sekilas anda mengira bisa sambil jalan mendapatkannya? Bisa jadi, tapi lebih banyak yang frustrasi ketika menghadapi masalah. Jadi apa salahnya anda training dulu di perusahaan lain untuk beberapa lama. Pengalaman yang anda dapatkan akan menambah wawasan dan kemampuan anda terutama di bidang yang selama ini anda anggap tidak penting seperti disiplin waktu, perencanaan dan pemasaran.

Ingat bahwa startup adalah kondisi ekstrim dimana anda berhadapan dengan ketidakpastian. Jadi, saya berpendapat, kalau anda sudah menyiapkan diri dengan bekal pengalaman magang kerja, saya lebih yakin akan mental anda dalam menjalankan startup karena salah satu yang membuat startup gagal adalah ketidakmampuan skill non-teknis. Padahal kemampuan non-teknis cukup berperan terhadap kesuksesan startup. Jadi dari mana anda bisa dapatkan pelatihan yang baik dibanding terjun langsung bekerja di perusahaan?

Berapa lama dan berapa perusahaan? Saya kira cukup maksimal 1 tahun untuk 1-2 perusahaan yang memiliki korelasi dengan skill dan minat anda. Banyak hal yang akan menjadi modal penting ketika anda memulai startup impian anda.

Jadi pertanyaannya sekarang berubah: Apakah saya mau melakukan hal yang penting untuk memperbesar peluang sukses dari startup saya? Karena jika anda sudah mau melakukannya, maka pertanyaan apakah startup cocok dengan saya sudah tidak relevan lagi.

 

 

 

 

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.