Home / Entrepreneur / Bedah Kasus: Co-Founder Yang Tidak Sehati

Bedah Kasus: Co-Founder Yang Tidak Sehati

Salah satu startup yang saya bimbing mengalami masalah. Satu dari co-founder akhirnya diberhentikan karena tidak sejalan dengan kesepakatan yang dibuat diawal pendirian startup.

Beberapa hal yang saya akan bahas disini adalah mengenai:
– Mengapa bisa terjadi?
– Bagaimana menghindarinya atau setidaknya meminimalkan peluang terjadi?
– Pelajaran apa yang bisa didapat dari kejadian seperti ini?

Kenapa Anggota Keluar?
Keluar masuknya anggota tim dalam sebuah startup sudah merupakan hal biasa dan gambaran sebuah operasional entiti bisnis. Namun harus diakui kalau anggota tersebut adalah co-founder maka efeknya akan sangat terasa, apalagi kalau dia memegang posisi kunci untuk banyak aktivitas penting. Dampak terbesar akan terasa untuk startup yang masih baru berdiri dan belum pernah  mendapatkan dana/capital. Efek mental yang jadi suka khawatir dengan masa depan startup akan segera menyergap.

Umumnya co-founder yang berhenti disebabkan hal berikut:
– Tidak satu visi lagi dengan anggota yang lain
– Memiliki keinginan kuat namun tidak dipahami dan diterima oleh tim
– Dan mungkin anda tidak percaya: merasa dikucilkan dan tidak berarti dalam operasional tim

Beberapa alasan lain adalah variasi dari 3 faktor pemicu diatas. Dalam kasus startup bimbingan saya, yang terjadi adalah co-founder yang keluar ternyata memilih untuk fokus ke  bisnis yang sudah dimiliki sebelumnya. Pendirian startup dibuat oleh 3 orang yang ternyata satu diantara mereka sudah memiliki bisnis yang berjalan. Bisnis tadi tidak sama dengan startup dan dilakukan secara nyambi. Mungkin disaat pendirian startup ada godaan untuk mencoba dan menjalani bisnis yang baru dan kelihatan keren. Rasa pede muncul karena bisnis yang sudah berjalan ternyata menghasilkan dan kini saatnya mencoba yang baru.

Dugaan ini saya simpulkan setelah berdiskusi dan meneliti mengapa co-founder tersebut dihentikan. Wajar saja kalau ada peluang maka kita akan tergoda untuk  mencoba. Sayangnya, kesepakatan yang dibuat tidak terlalu tegas menetapkan berbagai kesepakatan prinsip diawal. Dengan kesepakatan “model karet” seperti ini, yang dianggap sebagai “kesepakatan yang fleksibel” diawal, maka wajar saja ketika kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi awal langkah selanjutnya adalah KELUAR… Dan biasanya cara keluar lebih sering tidak mengenakkan.

Saya sendiri sebagai mentor sudah melihat gejala ini dari awal dan sudah memberikan warning, tapi seperti biasa, ikatan emosional antar tim menutupi saran yang masuk.

Menghindari dan Meminimalkan
Tidak ada yang bisa meramal masa depan. Tapi tidak ada salahnya kalau ada persiapan untuk  mengantisipasi. Dalam kasus startup saya tadi ternyata hal inilah yang tidak diantisipasi dari awal. Tidak ada kesepakatan yang dibahas cukup detail. Ada yang mengatakan bahwa menjalankan bisnis lebih mengalir bila diikuti dengan flow yang terjadi. Saya kira untuk model bisnis solo entrepreneur hal itu sah-sah saja. Tapi bila melibatkan 2 anggota tim tambahan, maka ada hal lain yang perlu dipertimbangkan. Dan komunikasi serta kesepakatan awal sangat berperan.

cofoundersKesepakatan awal tidak perlu terlalu mendetail sampai menimbulkan perdebatan. Hal ini yang sering terjadi kepada startup yang “lebay” mengikuti prosedur pendirian startup secara ketat. Cukup menyertakan semua hal yang terpikirkan dan dianggap penting serta membuka ruang untuk perbaikan. Kapan perbaikan dibuat? Setidaknya bisa dipertimbangkan ketika ada rapat bulanan startup. Dengan selalu memantau dan mencatat dari rapat berkala yang dilakukan teratur, sudah mudah melihat bagian mana dari aktivitas yang perlu diperbaiki. Termasuk yang menyangkut kesepakatan awal tadi.

Dalam kasus startup saya, rapat berkala memang dibuat, tapi lebih membahas kepada masalah teknis/produksi dan bukan hal manajemen atau visi dan misi yang disepakati untuk direview secara berkala. Tanpa sadar, ternyata perjalanan startup yang ada tidak menjadi misi dari co-founder yang memiliki bisnis tadi. Dengan kata lain, sejalan dengan waktu, terjadi pergeseran visi dan sialnya 2 anggota lain tidak segera mengambil tindakan walau menyadarinya.

Kenapa tidak ada tindakan? Biasanya model startup yang didirikan dengan mengajak teman-teman kuliah atau pergaulan non-bisnis akan cenderung berakhir seperti ini. Ada pengaruh ikatan emosional disini. Tidak salah, tapi fokusnya yang tidak tepat. Dalam hal persahabatan ada ikatan emosional namun dalam bisnis ikatan itu biasanya berbentuk lebih konkrit yaitu tanggung jawab dan respek. Bila dalam pergaulan ada kesalahan, ruang memaafkan jauh lebih besar dibanding dalam bisnis karena didalam bisnis akan ada kerugian finansial yang nyata. Dan disinilah faktor masalah bisa membesar dan berakhir dengan pemutusan hubungan.

Co-founder-compatibility

 

Empat faktor diatas bisa menjadi bahan analisa anda ketika  mengukur co-founder baik di awal atau saat ini ketika startup anda sedang berjalan. Ukur dengan skala tertentu untuk mempermudah anda dan jika memungkinkan bahas secara terbuka agar mereka ikut mengukur secara praktis dari 4 faktor tersebut. Wajar bila ada yang naik atau turun. Tapi nilai totalnya (sebagai integritas akhir) harus bisa diatas nilai minimum yang disepakati bersama.

Anggap saja anda melakukan evaluasi dari 4 faktor tersebut tiap akhir bulan, maka secara otomatis semua anggota startup mengevaluasi diri dan anggota lain. Jika ada gejala masalah, akan bisa dibicarakan dan dicarikan solusinya.  Aktivitas ini bisa dianggap sebagai reminder activities dan team member balance meter. Luangkan waktu untuk mendiskusikan secara detail setidaknya 1 bulan sekali.

Pelajaran Yang Didapat
Walaupun kasus disetiap startup bisa bervariasi, tapi ada beberapa hal prinsip yang sebaiknya disiapkan dari awal. Atau anda siapkan saat ini kalau startup anda belum melakukannya.

  1. Buat kesepakatan dengan co-founder lain untuk berbagai hal yang dianggap penting. Jangan hanya lisan, sebaiknya tertulis dan ditandatangani semua anggota tim agar semua sadar bahwa yang dinyatakan akan diingat dan bisa dibuktikan di masa depan. Naikkan level kepercayaan teman menjadi kepercayaan partner usaha dengan cara ini.
  2. Buat diskusi khusus untuk mengevaluasi kinerja founder dan co-founder dari 4 faktor diatas tiap bulan. Selain menjaga komunikasi yang terarah dan bermanfaat untuk sisi manajemen, hal ini juga lebih membuat ruang kejujuran dan keterbukaan bisa berjalan baik. Efeknya, jika memang ada yang berhenti atau diberhentikan, suasana emosional tidak akan sampai mengganggu jauh atau meminimalkan kegaduhan yang tidak perlu.
  3. Antisipasi diatas akan bermanfaat untuk 2 hal: edukasi pribadi sebagai Founder atau Co-founder dan penghematan waktu. Dengan kata lain, anda mempersiapkan pengalaman yang lebih baik dan terarah (edukasi) ketika menjalankan startup anda. Kalaupun startup anda mengalami masalah diatas, anda sudah menghindari penyia-nyiaan pikiran dan emosional karena sudah bisa mengantisipasi dan menyikapi dengan lebih awal dan relatif lebih tenang.

Penutup: Ketika berdiskusi dengan saya, founder dari startup bimbingan saya itu akhirnya menyadari kesalahannya. Sudah dari awal mereka berdiri saya wanti-wanti akan resiko co-founder tersebut. Walaupun akhirnya jadi pelajaran berharga dan dia menerimanya dengan lapang dada, dia menyadari kalau startupnya menyia-nyiakan waktu yang berharga.

 

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.