Home / Edukasi / Bedah Kasus: Founder Mentality

Bedah Kasus: Founder Mentality

Kali ini saya akan mengisahkan sebuah kasus yang unik. Kelanjutan dari artikel Bedah Kasus: Founder Yang Tidak Sehati. Ternyata kisah seru di startup tersebut tidak berhenti disitu saja dan masih berlanjut sampai saat ini. Jadi artikel ini merupakan babak selanjutnya dan saya berharap bisa menjadi satu kasus pelajaran bagi anda semua.

Sebagai mentor, saya sudah berusaha memberikan yang terbaik kepada tenant yang saya bimbing. Tapi saya juga sudah mempersiapkan untuk worst case scenario, walau untuk kasus yang ini benar-benar ada kejadian diluar ekspektasi saya.

Akhirnya Dia Menyerah

Begini kelanjutan kisahnya. Founder startup tersebut, setelah memutuskan hubungan dengan 1 co-founder, mencoba menjalankan startupnya dengan hanya 1 partner di bagian bisnis. Yang menjadi persoalan adalah adanya ketimpangan dari aktivitas keduanya. Sebelumnya saya menduga bahwa co-founder bagian bisnis yang tidak serius mengerjakan perannya dan founder (yang sekaligus memegang bagian teknis) memang mengeluhkan hal tersebut. Saya memberi saran untuk founder agar mencoba berdiskusi dan kalau tidak bisa terpaksa harus mengambil keputusan sulit. Saran ini saya berikan setelah berbagai pertimbangan sebelumnya. Disisi lain, produk dari startup tersebut sudah laku dan sedang dipesan beberapa klien selama masalah itu terjadi.

Singkat cerita, akhirnya founder menyadari bahwa produknya masih bisa disempurnakan (berdasarkan masukan dari klien) dan diputuskan untuk dibuatkan aplikasi versi mobile. Setelah berjanji untuk menyelesaikannya sampai akhir lebaran, ternyata founder tersebut tidak pernah muncul lagi. Bahkan sialnya, tidak ada penjelasan yang detail mengenai alasan kenapa dia tidak muncul. Dia hilang begitu saja. Yang terjadi (inilah yang diluar ekspektasi saya) adalah co-founder bagian bisnis yang malah datang setelah saya minta. Yang dipercaya menghilang, yang diragukan malah muncul.

Pelajaran yang saya dapat: Penampilan tidak selalu mewakili yang kita persepsikan. Co-founder yang saya anggap tadinya tidak serius malah berani muncul dan berani mengambil alih tanggung jawab. Sementara foundernya malah menghilang dan menutupi sesuatu. Hehehe… Tapi yang saya tekankan disini adalah betapa mental founder benar-benar membentuk perjalanan sebuah startup.

Secara etis saya tidak akan menyebutkan nama startup tersebut disini. Tapi saya tahu, dia akan membacanya dan semoga artikel ini bisa sekaligus menjadi nasehat dan kritikan kepada dirinya agar berani dan bermental baja dalam menjalankan startup. Kenapa? Karena akhirnya saya tahu bahwa founder tersebut ternyata sudah diterima bekerja di perusahaan lain yang sebelumnya adalah startup yang sukses. Gubraaakk!!!

Anda mengira alasan bagi dirinyanya adalah mencari pengalaman yang bagus lebih dahulu? Hehehe… sayangnya founder tersebut sudah punya produk bagus (artinya dia punya skill mumpuni), menang di perlombaan (artinya dia berjiwa kompetitif dan mau tampil), dipilih oleh Telkom untuk lolos program inkubasi Indigo (artinya pihak lain pun melihat produknya berpotensi bagus), dan yang paling ironisnya adalah: sudah ada pelanggan (artinya sudah valid bahwa solusi yang dia berikan ada pasar/kustomer). Singkat cerita: produknya laku. Untuk tahap seed funding, sebenarnya tahap yang dilaluinya tidaklah buruk. Malah ada potensi yang masih harus digali agar bisa diperbesar skalanya. Dan untuk itu, program DBA Accelerator (masih dari Telkom) sudah siap menunggu. Enak apa lagi coba?

Pentingnya Mental Baja

Banyak startup lain yang tidak seberuntung startup tersebut. Mungkin produk tenant saya ini bagus dan sudah ada pembelinya (bahkan sampai saat saya menulis ini pun masih ada yang memesan). Tapi mental foundernya yang tidak kuat, membuatnya memilih jalan lain. Memilih untuk  sembunyi dan memajukan temannya sebagai pengganti penanggung jawab. Kalau anda menjadi salah satu startup yang gagal lolos di program Indigo Incubator 2015 lalu, apa yang terlintas di benak anda sebagai founder?  Bisa jadi anda mengumpat bukan? Kenapa tidak tim saya saja? Mental saya jauh lebih siap dari dia… itu suara benak anda?

before you give up

Menjalankan startup memang tidak mudah. Tapi tidak menjadi alasan untuk mudah give-up, apalagi di tahap seperti startup tadi. Anda bisa membaca 9 poin yang perlu anda renungkan sebelum menyerah kalah, seperti gambar diatas.

Jadi adanya produk bagus dan modal awal, ternyata tidak cukup! Bagi anda yang belum memiliki 2 hal tersebut, saya sarankan: bentuklah mental anda sebagai founder yang tangguh. Dengan mental baja tersebut anda akan bisa bertahan mencari solusi/produk yang bagus dan tentunya peluang anda mendapatkan modal akan lebih besar.

Kenapa ada startup yang bermental seperti itu? Mungkin ada persepsi yang salah sejak pendirian startup. Mungkin bukan membanhgun usaha yang menjadi tujuan akhir. Tapi bisa jadi hadiah atau menjadi startup spesialis Bounty Hunter. Apakah salah? Saya tidak tahu pasti. Yang saya ketahui dengan jelas adalah: kesia-siaan jika anda melewatkan peluang seperti program inkubasi Indigo Incubator ini. Memang program inkubasi ini bukan segalanya, tapi program ini adalah salah satu yang bisa membukakan pintu peluang dan potensi yang luas. Dengan syarat: kalau anda mau dan bekerja keras!

Saya melihatnya dari sudut mental kaya dan miskin (kebetulan saya adalah penggemar Robert Kiyosaki, di akhir artikel akan saya analisa dari sudut itu juga sebagai penambah wawasan anda). Kalau anda mau tahu perbedaan mental miskin dan mental kaya dari sebuah founder, anda bisa lihat grafik dibawah ini (saya ambil dari situs sebuah penyedia infografik startup). Cukup bisa memberikan gambaran bentuk mental yang bisa anda jadikan acuan yang ingin anda capai atau anda hindari.

rich-poor-mentality-startups-chart

Dalam kasus startup tenant saya tersebut, poin “think he is missing something” menjadi pilihan saya untuk dia. Kenapa? Karena alasan apapun dia memilih bekerja di perusahaan lain (yang notabene adalah startup) menunjukkan dia merasa ada yang hilang dan tidak didapatnya dari startupnya sendiri.

Apakah benar itu? Saya tidak tahu pasti dan hanya bisa menduga apa kira-kira faktor utamanya. Bisa jadi kepastian gaji di akhir bulan. Bisa pula kehilangan kenyamanan karena harus bekerja di berbagai bidang baru (bisnis, pemasaran, komunikasi, pelayanan pelanggan, dsb). Dengan kata lain, tidak mau atau tidak berani belajar yang baru? Entahlah… Founder tersebut tidak pernah berani berterus terang soal ini.

Analisa Ala Kiyosaki

Seperti yang saya janjikan didepan, saya akan membahas dari sudut pandang Kiyosaki dengan menggunakan diagram CashFlow Quadrant.

Lihatlah grafik dibawah ini dan tentukan di kuadran mana anda sekarang berada. Berkaca di kasus startup tenant saya tadi, sebenarnya dia sudah ada di kuadran Business Owner. Di kuadran ini, menurut statistik dunia nyata 95% kekayaan muncul dari sini selain kuadran Investor (dalam hal kasus ini adalah Telkom). Lihatlah persamaan kuadran tersebut. Bukankah menguntungkan bagi startup tersebut mendapatkan modal dari Telkom melalui seed funding Indigo Incubator? Sama-sama di kuadran yang memberikan potensi kekayaan bukan? Tapi perhatikan pula, persentase populasi yang menjadi pelakunya. Sedikit bukan? Artinya? Mencapai tingkatan kuadran ini tentu tidak mudah. Kompetitif dan menuntut kerja keras. Telkom juga menghadapi problema tersendiri. Pihak Telkom harus selektif dan memilih startup yang berpotensi bukan? Dan jumlahnya memang sedikit. Jadi startup tenant saya tersebut memang sudah terpilih dari seleksi tertentu: artinya, dari kriteria tertentu dia adalah yang terbaik menurut kriteria Indigo Incubator.

the-cash-flow-quadrant

Lihat gambar penjelasan di tiap kuadran. Pada kuadran pemilik bisnis, dimana startup tenant saya tadi memulai, digambarkan semakin banyak klien yang didapat maka semakin banyak profit yang dikumpulkan dan di dunia bisnis digital: tenaga kerja tidak ekuivalen dengan potensi profit. Yang menjadi penentu adalah jumlah kustomer. Semakin banyak maka akan semakin besar keuntungan yang diraih.

Lihat pula kuadran Investor dimana Telkom adalah penanam modal startup tersebut. Andaikan saja startup tenant saya tadi sukses dan berhasil menaikkan valuasinya, maka persentase kepemilikan modal (saham) dari Telkom akan naik pula bukan? Itulah makna gambar tersebut dimana pihak investor menanamkan sejumlah uang dan akhirnya mendapatkan profit dari modal yang ditanamkan.

Lalu bagaimana dengan kuadran Employee dan Self-Employed? Dari populasi pelaku, kuadran inilah yang terbesar, mencapai 95%. Namun kekayaan yang didapat terbatas? Yaitu secara statistik hanya sekitar 5%. Kok sedikit?

Karena adanya batasan untuk mendapatkan lebih: yaitu batasan waktu. Anda hanya bisa bekerja sekian jam sehari, sekian hari seminggu. Anda tidak bisa bekerja tanpa henti dan istirahat. Anda tidak mungkin mempekerjakan orang lain, kalau itu artinya anda sudah pindah kuadran bukan?

Kalau anda bekerja sebagai karyawan, maka anda bekerja kepada orang lain (produk lain). Kalau anda pemilik bisnis, maka produk milik andalah yang seharusnya anda kembangkan bukan? Sederhana sebenarnya. Dan di kuadran pemilik bisnis, anda membangun sistem bisnis anda. Jadi setelah punya produk, anda tidak terhenti disitu saja.

Jadi, dari sudut pandang ala Kiyosaki diatas, langkah founder dari startup yang menjadi tenant saya adalah blunder alias kemunduran. Dia sudah berada di kuadran bisnis sebelumnya dan diberi modal oleh investor, sekarang dia malah mundur ke kuadran Employee tanpa ada pemodal dan dia sekarang dibatasi oleh jam kerja.

Tapi itu adalah pilihannya. Hanya dari sisi mentor, saya hanya menyayangkan keputusannya.

Semoga kasus seperti ini bisa menjadi pembelajaran tambahan buat anda

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.