Home / Edukasi / Begin With The End Of Mind

Begin With The End Of Mind

Istilah yang dipopulerkan oleh Stephen Covey ini sangat mengena di pikiran saya ketika mengikuti rapat pleno Indigo 2017 yang dilakukan di JDV pada hari Jumat 19 Mei 2017 ini. Hal ini karena kesimpulan yang diberikan oleh beberapa peserta rapat.

Begin With The End Of Mind atau Mengawali Dengan Hasil Akhir Dari Pikiran merupakan manifestasi tujuan yang paling baik menurut saya untuk diterapkan oleh siapapun dalam berbagai kegiatan atau aktivitas apapun. Apalagi bila diterapkan dalam ekosistem startup yang sarat dengan berbagai perubahan yang dinamis.

Mengapa saya sebut penting? Selama acara penentuan untuk 3 startup yang akan diseleksi apakah lanjut atau berhenti di tahap ini, pertanyaan penting yang selalu muncul adalah: apakah startup sudah cukup fokus atau tidak?

Kebanyakan startup masih selalu berkutat dengan berbagai fitur yang dirasakan semakin banyak akan semakin hebat. Padahal dalam kenyataan, beberapa fitur utama yang harus menjadi penekanan penting dan tetap menjadi perhatian utama mereka. Selama presentasi banyak dari para panelis penilai yang fokus ke hal tersebut.

Apakah founder tetap menjaga fokus utamanya? Apakah sebagai eksekutor tetap memegang visi yang terpenting dan menjalankan misi yang efisien? Dengan keterbatasan resources yang dimiliki, adalah kemewahan yang sia-sia jika startup tidak fokus ke hal penting. Menjaga keseimbangan antara konsumen dan kualitas, idealisme dan profit, rencana dan implementasi langsung. Semuanya membutuhkan tingkat konsentrasi yang tingg bukan?

Memilah fitur bukanlah hal mudah, apalagi bila melibatkan ego dari founder. Bayangkan bagaimana menerima tolakan dari founder lain bila kita melibatkan ego pribadi? Sungguh tidak  mudah, apalagi kalau terbukti bahwa fitur tersebut didapat dari asumsi dan bukan validasi.

Selama presentasi, tidak hanya data saja yang ditampilkan oleh para penyaji namun juga review dan detail dari aktivitas yang selama ini dilakukan. Tentunya penilaian tidak hanya melibatkan angka kuantitatif saja, namun juga perhitungan kualitatis secara keseluruhan mempengaruhi penilaian tim panelis.

Bagaimanapun juga, startup adalah sebuah bisnis. Selain kalkulasi, ada seni dan manajemen yang terkandung didalam aktivitasnya. Perpaduan antara skill teknis, bisnis dan desain menjadi titik utama diawal pembangunan sebuah startup. Dalam perjalanan selanjutnya adalah peningkatatan kualitas jasa/produk yang dibuat. Sejalan dengan waktu, desain yang disempurnakan, proses yang diperbaiki, tim yang diupgrade skillnya akan menunjang kebeherhasilan.

Semua itu tentunya harus bisa dibayangkan sedetail dan sejelas mungkin dari awal. Bagaimana bentuk final dari layanan mungkin saja tidak bisa ditentukan segera. Namun faktor utama yang menjadi acuan penting seperti tenggat peluncuran produk, durasi pembuatan, dsb, semuanya dapat dikalkulasi dengan baik. Dan perencanaan yang detail ini akan membantu memoles hasil akhir yang diinginkan.

Jadi pertanyaan bagi anda adalah:

  1. Apakah anda sudah bisa membayangkan 3 bulan dari sekarang? Atau bentuk startup anda 1 tahun  kedepan?
  2. Kalau sudah? Bisakah anda deskripsikan detailnya menurut versi anda sendiri?
  3. Sebutkan minimal 5 hal positif yang harus anda capai dalam masa itu
  4. Sebutkan antisipasi yang anda siapkan bila terjadi hal yang tidak diinginknan (escape plan)
  5. Simpan jawaban dari 4 pertanyaan diatas dan buka kembali untuk review setidaknya sstiap 3 bulan sekali.

Penting secara berkala kita melakukan review terhadap eksekusi yang kita lakukan. Jawaban diatas bisa menjadi semacam guidelines atau menjadi acuan bila kita ingin melakukan komparasi terhadap implementasi yang sudah dilakukan selama ini. Selamat mencoba!

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.