Home / Entrepreneur / Benarkah Hanya 2% Startup Yang Bertahan?

Benarkah Hanya 2% Startup Yang Bertahan?

Ketika muncul artikel dari situs KataData.co.id dengan tajuk “GDP Venture: Dari Seribu Startup, Hanya 2% yang Bertahan “, saya menjadi sedikit terkejut. Disatu sisi memang terkejut tapi disisi lain mengamini apa yang dikatakan oleh Chief Marketing Officer GDP Venture Danny Oei Wirianto tersebut.

Mengapa saya terkejut? Sebenarnya karena saya menunggu munculnya kesimpulan dari seorang tokoh nasional di bidang startup atau VC. Dan untuk itu Danny Oei Wirianto memang memenuhi kriteria tersebut. Sempat saya merasa skeptis karena melihat kondisi riil di lapangan agak berbeda dengan kondisi yang dianggap ideal. Tidak salah memang kalau pemerintah kita terus mendorong pertumbuhan startup. Tapi sekali lagi itu hanya tugas di awal saja.

Tugas yang lebih berat adalah membuat startup yang dirintis tadi menjadi sukses dan besar. Setidaknya dari banyak startup harus ada yang menjadi tuan rumah di negeri sendiri kalaupun tidak bisa bermain di ranah global. Sayangnya tingkat keberhasilannya sangat kecil dan cenderung menipis. Kalau dulu saya sering mengatakan dari 10 startup maka hanya akan bertahan 1 saja dalam tahun pertama, lalu bagaimana dengan kalkulasi mas Danny, dimana rasionya mengecil menjadi 2 dari 100 (2% dari 1000).

Yang menarik adalah pernyataan mas Danny yang mengatakan bahwa pemerintah terlalu fokus ke penciptaan startup baru dan bukan fokus ke pengembangan startup yang sudah berdiri.

Mari kita analisa perlahan-lahan. Memang lebih mudah membangun karena kenyataan di lapangan banyak mahasiswa yang dengan skill tanggung dan ego sesaat berlomba-lomba mendirikan startup. Saya menyebutnya startup semesteran, alias setelah 6 bulan maka nasib founder dan co-founder menjadi tidak jelas… hehehe. Kenyataan memang begitu. Banyak yang bertahan karena ego semata alias belum dapat kerja. Jadi setidaknya masih bisa bergaya dengan perusahaan rintisan startupnya.

Sementara bagi startup yang serius dan fokus, jalan bukan berarti lebih mudah. Malah banyak masalah yang siap menghadang dan menerjang. Salah satunya adalah kesiapan skill bisnis dan manajemen. Mungkin dari sisi teknis para pelaku startup mendapatkab rasa pede. Tapi bisnis tetaplah bisnis. Dibutuhkan seni dan pengalaman yang cukup untuk memanajemeni perusahaan rintisan baru tersebut. Banyak yang salah kaprah dengan salah menterjemahkan membangun sama dengan menjalankan.

Membangun mungkin terkesan sulit, tapi sebenarnya lebih mudah dalam penerapannya. Karena ada perbedaan kondisi dimana sebelumnya belum berdiri, kini sudah ada dan berjalan. Jadi ada perubahan fase. Tahap berikutnya adalah menjalankan perusahaan dan disinilah banyak para founder dan co-founder tidak memahami bahwa skill teknis masih harus dibackup oleh skill bisnis. Dan sayangnya skill bisnis minim menjadi melekat di startup rintisan baru.

Lalu solusi apa yang seharusnya dilakukan?

Saya berpendapat bahwa skill bisnis menjadi acuan perhatian pemerintah. Setidaknya untuk melengkapi skill teknis perlu keseimbangan skill bisnis yang bisa diajarkan berdampingan selama startup mulai dirintis. Jadi saya memahami mengapa mas Danny mengatakan bahwa pemerintah terlalu terfokus ke masalah pendirian saja. Dan bukan kepada pengembangan atau pembekalan.

Kita harus belajar dari kondisi tidak seimbang ini. Dalam hal mendirikan startup kita terbukti sudah cukup berhasil dengan berbagai program dan kolaborasi kerjasama selama ini. Namun sayang sekali kalau benih-benih potensial ini tidak dilanjutkan dengan pengembangan level berikutnya. Disinilah pemerintah juga harus mengambil peranan setidaknya melanjutkan keberhasilan tahap awal mendirikan 1000 startup.

 

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.