Home / Entrepreneur / Business Model for Start Up – Bag.1

Business Model for Start Up – Bag.1

Banyak startup yang gagal dalam bertahan hidup. Bahkan ada penelitian yang menyatakan bahwa 9 dari perusahaan startup atau produk yang dihasilkan berakhir dengan kegagalan.

Padahal kini kita hidup ditengah berlimpahnya berbagai produk dan layanan teknologi yang seharusnya memudahkan dan mampu membantu berbagai aktivitas bisnis. Apa penyebabnya dan mengapa hal itu masih terjadi sampai sekarang? Lalu apa solusi untuk menghindari peluang kegagalan itu muncul?

 


Penyebab Kegagalan

Setelah melalui penelitian, ditemukan bahwa penyebab terbesar kegalan dari bisnis startup adalah terlalu banyak menghabiskan waktu, uang dan perhatian untuk membangun produk yang tidak tepat. Jadi bukan karena kegagalan membuat produk yang tidak berfungsi. Jika dilihat dari sisi teknis, banyak produk yang dihasilkan merupakan karya yang inovatif dan menarik untuk dikembangkan lebih sempurna lagi. Tapi sayangnya, kebanyakan pelaku startup cenderung jatuh cinta dan terlalu menyayangi produk atau karyanya melebihi yang seharusnya dilakukan yaitu membuat bisnis yang berjalan.

Para pelaku startup berusaha untuk menyempurnakan produknya sebaik mungkin. Mereka berasumsi, jika produknya semakin baik, semakin banyak fiturnya maka pelanggan kan semakin puas dan bertambah jumlahnya. Benarkah demikian?

Sayangnya, secara realistis sering sekali bahkan hampir dapat dikatakan kebiasaan itulah yang menyebabkan startup gagal karena mereka fokus kepada hal teknis dan bukan kepada bisnis. Padahal bisnislah yang membuat produk atau solusi yang dibuat menjadi dikenal, dibeli, disukai dan dipertahankan oleh pelanggan. Mereka mau membayar dan bayaran itu pulalah yang membuat bisnis startup bisa berjalan. Tanpa ada bisnis dan uang masuk, bisa dikatakan pada akhirnya resources dari startup akan habis.

Lalu apa yang seharusnya dilakukan pelaku startup? Apakah langsung membuat bisnis? Bagaimana memulainya padahal situasi masih memulai? Banyak startup yang mengajukan pertanyaan seperti ini jika dijelaskan betapa poin bisnis memegang peranan yang sangat penting setelah produk atau solusi dibuat. Bahkan jika produk belum sempurna sekalipun, tidak ada salahnya pelaku startup sudah mulai memikirkan aspek bisnis tersebut. Ingat, waktu termasuk resources yang terbatas disamping dana dan tenaga. Jika bisa dimulai dari sekarang, mengapa harus menunggu sampai sempurna?

Apa Yang Harus Dilakukan?

Langkah awal yang harus segera dipersiapkan oleh pelaku startup adalah membuat sebuah model bisnis yang akan menggambarkan bagaimana operasional perusahaan mulai dari memilih segmen pelanggan sampai membahas biaya yang terlibat.

Membuat model bisnis (business model)  berbeda dengan membuat rencana bisnis (business plan). Keduanya adalah hal yang berbeda, walau bisa dikatakan saling berkaitan.

Rencana bisnis dibuat dalam waktu yang lumayan lama, bisa mingguan sampai bulanan. Sementara model bisnis dibuat lebih singkat. Bahkan hanya memakan waktu beberapa puluh menit. Mengapa bisa berbeda jauh? Rencana bisnis berisi asumsi dan hipotesa yang lebih komplek dan detail.
Sementara model bisnis bisa dibuat lebih ringkas dan simpel. Keduanya tetap berdasarkan asumsi dan hipotesa.

Di era berdirinya berbagai bisnis startup beberapa tahun belakangan ini, banyak pelaku bisnis IT yang sukses (mereka juga bermula dari startup sebelumnya) menemukan bahwa rencana bisnis sering tidak sesuai dengan kondisi startup yang masih sangat muda, belum memiliki produk yang sempurna dan pangsa pasar yang jelas. Seringkali mereka bahkan tidak memiliki pelanggan dan masih mengandalkan bantuan dan dukungan finansial dari luar.

Pada tingkat realita, sering sekali investor bahkan tidak tertarik untuk membaca rencana bisnis dari pelaku startup. Lalu apa yang mereka baca? Mereka memilih 5-10 menit pitching atau membaca ringkasan executive summary dari rencana bisnis. Bahkan tidak jarang mereka hanya melihat sekilas materi presentasi yang dibuat.

Apa yang sebenarnya mereka cari? Investor, atau pihak manapun yang berkepentingan untuk mendukung keberhasilan startup lebih tertarik kepada model bisnis yang akan dijalankan. Dengan model bisnis, bisa dilihat tingkat persiapan, kematangan dan berbagai hal penting lainnya dari pelaku startup untuk terus hidup, bertahan dan berkembang.

 

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.
Samuel Henry says:

Senang bisa membantu anda. Terima kasih sudah mampir…