Home / Entrepreneur / Cerita di saat Pre-Inkubasi Indigo (2)

Cerita di saat Pre-Inkubasi Indigo (2)

Artikel kedua ini akan membahas beberapa trend yang berulang yang menjangkiti para startup di pre-inkubasi indigo 2015. Sebelumnya saya memberikan catatan bahwa pendapat saya ini berdasarkan pengamatan saya dari diskusi dengan para startup yang mengikuti program bootcamp Indigo 2015, dan bukan menjadi referensi bahwa semua startup di Indonesia akan melakukan hal yang sama. Walaupun demikian, saya melihat trend ini masih tetap ada.

Abai dengan: Think Global Act Local!
Maksud saya adalah: Kebanyakan startup datang dengan ide yang menurut saya bahkan terlalu kecil pasarnya. Ada tidaknya calon pelanggan saja masih menjadi eksperimen. Tapi yang menjadi perhatian saya adalah banyak startup yang mengabaikan besarnya pangsa pasar (market share) yang realistis bisa mereka coba untuk raih bahkan di tahap awal ini. Jarang startup yang mencoba riset seberapa besar kira-kira pasar yang mau diraih di tahap awal. Bahkan banyak juga yang sama sekali tidak tahu secara statistik berapa besarnya pasar menurut referensi industri, pemerintah, atau sumber resmi lainnya.

Memang banyak startup yang memulai dengan market yang kecil tapi itu ada di era dulu ketika startup masih belum sepopuler sekarang. Kini pendekatan sudah berbeda dan harus mencakup 2 pertimbangan yaitu: potensi realistis dari pasar yang bisa diraih pada saat eksperimen dan potensi pasar yang ada di industri lokal saat ini. Artinya, sebelum kita percaya bahwa produk/layanan yang kita buat bisa menembus pasar global sebaiknya kita juga perhatikan pasar lokal karena notabene pasar ini yang sebenarnya lebih mudah kita masuki.

Cobalah menghitung berapa besar pasar lokal yang tersedia untuk anda raih  bulan ini, kemudian tahun depan dan bagaimana kira-kira prospeknya secara bisnis dan ekonomi? Apakah insight yang bisa anda dapatkan dari angka tersebut?

Banyakan Mikir daripada Aksi!
Ya, banyak sekali startup yang curhat tentang berbagai kekhawatiran, asumsi pribadi, masalah, dsb. Menurut saya mereka kebanyakan mikir dan terus berpikir hehehe. Padahal yang seharusnya mereka lakukan adalah Get Out Of The Building alias keluar dan temukan calon pelanggan untuk menguji apakah benar asumsi masalah yang anda yakini dimiliki oleh mereka? Ini adalah hal fundamental di Lean Startup.


Startup selayaknya sebuah media eksperimen, harus berani melakukan percobaan berulangkali untuk memastikan asumsi masalah dan hal lain dari problem yang akan dibuat solusinya. Bagaimana kalau asumsi salah? Ya tidak apa-apa, karena metode Lean memang tidak mempermasalahkan kesalahan/kegagalan asal didapat pelajaran/learning yang pada tahap berikutnya akan membuat asumsi baru yang diupayakan lebih tepat dari sebelumnya.

Masalah lain yang sering dikeluhkan adalah berapa kali harus melakukan eksperimen? Kalau sering gagal? Kurangnya pengetahuan fundamental tentang Lean Startup adalah penyebab dari masalah ini. Eksperimen bisa dilakukan sebanyak mungkin sampai kita yakin dan kriteria minimum yang kita targetkan tercapai (Minimum Success Criterion). Artinya, jika tidak tercapai maka kita bisa mengubah asumsi dan melakukan eksperimen lagi sampai akhirnya asumsi itu kita yakini benar dan layak untuk dilanjutkan ke tahap berikutnya.

Alternatif lain adalah melakukan pivot. Dan ada beberapa ketentuan yang bisa dijadikan acuan untuk melakukan pivot. Saya tidak akan membahasnya secara detail disini karena itu adalah hal fundamental yang harus dipahami dengan benar oleh startup.

Catatan lain untuk hal ini: Anda bisa melihat bahwa mengisi Javelin Board sebagai experiment tool hanya membutuhkan sekitar setengah jam saja. Artinya, sesi diskusi dan mikir itu dibatasi dengan jelas. Sementara untuk eksperimen keluar (interview dengan calon pelanggan) malah tidak dibatasi waktunya, hanya dibatasi jumlahnya serta berapa persentase kesuksesan yang ingin diraih. Dari sini bisa disimpulkan bahwa sebaiknya anda lebih banyak melakukan pengujian setelah membuat asumsi dengan cepat.

 

 

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.