Home / Edukasi / DEMONSTRASI atau DEMOCRAZY?

DEMONSTRASI atau DEMOCRAZY?

Kali ini saya membahas topik diluar bidang saya. Saya sengaja membahasnya karena merasa prihatin dengan gejala anarkisme yang muncul diantara demo teman-teman mahasiswa. Saya tetap membahas dengan kacamata dari seorang game designer, karena didalam ilmu desain game, aspek psikologi dan sistem prosedural banyak dibahas. Tak terkecuali juga masalah feedback dan output yang diharapkan. Semoga artikel ini menjadi bahan masukan dan pemikiran bagi teman-teman aktivis.

Latar Belakang Saya

Sebelum membahas, saya menjelaskan sedikit latar belakang aktivis saya ketika mahasiswa. Walaupun sudah tamat kuliah, saya masih aktif di kampus karena bekerja di PJK USU dan juga di Inkubator CIKAL USU. Tahun 1998 menjadi tahun aktivis sebelum peristiwa Mei 1998. Saya ikut membantu teman dari segi logistik dan mengatur pertemuan mereka dalam menyusun strategi. Bahkan ketika bentrokan terjadi di kampus USU di akhir bulan April 1998, sebelum akhirnya semua pergerakan mahasiswa pecah dan menjalar ke seluruh Indonesia, saya masih terlibat dalam konfrontasi langsung dengan pihak keamanan.

Perang lempar batu, pelontaran gas air mata, semprotan air dari mobil polisi, membakar ban, kursi dan meja dari kampus menjadi kegiatan seru pada masa itu. Disatu sisi saya menikmatinya, walaupun saya melihat langsung banyak juga yang terluka. Semua kejadian seakan-akan menjadi medan perjuangan dengan teman-teman kampus yang lain. Tapi disisi lain juga saya berpikir mengapa harus selalu seperti itu. Apakah tidak ada cara lain yang lebih elegan tapi hasilnya maksimal?

Masa Kini

Tak disangka saya, 15 tahun kemudian saya menjadi penonton acara demonstrasi secara langsung di Yogyakarta. Tepatnya di persimpangan kampus UIN hari senin dan selasa 13-14 Juni 2013 lalu. Jalan Solo jadi macet, bahkan saya merasakannya sejak mulai dari UII Demangan yang merupakan jalan alternatif. Biasanya tidak pernah macet, tapi saat itu macet sampai di depan Gedung Pacific Building. Saya sempat melihat bekas ban dibakar. Mahasiswa berteriak dan berorasi di persimpangan jalan. Puluhan polisi berjaga-jaga di sekitar mereka sambil mengatur lalu lintas.

Jujur saja. saya terganggu dengan demonstrasi ini. Jalanan macet dan banyak orang mengeluh karena kegiatan dan aktivitas mereka terganggu. Saya harus memutar jauh dan bahkan ketika pulang dari jalan Timoho, saya harus memutar sampai Kaliurang agar bebas macet. Akibatnya waktu tempuh makin panjang dan saya semakin lama di jalan. Walaupun tidak setiap hari, tapi gangguan itu membuat saya tidak bersimpatik dengan demo mahasiswa.

Kembali saya teringat ketika masih menjadi aktivis mahasiswa di era 90-an. Disini saya melihat bahwa pola demonstrasi masih tetap sama sampai sekarang. Masih dengan pola dan gaya yang sama persis bahkan pada beberapa bagian mengalami kemunduran dibanding jaman yang sudah berubah. Model pemaksaan kehendak, massa yang cenderung mudah anarkis, suka saling caci maki dan semau udel menganggu aktivitas publik. Dahulu kala (hehehe… 15 tahun lalu tepatnya), pola seperti itu masih menarik perhatian masyarakat. Jumlah yang bersimpati masih jauh lebih banyak dan mereka masih mau memaklumi ketidaknyamanan yang terjadi.

Tapi kini sudah berbeda, gaya dan pola demonstrasi yang sama yaitu dengan model berorasi dan berteriak2 tanpa ada strategi dan prosedural yang jelas akan membuat masyarakat tidak simpatik. Bahkan peristiwa perusakan restoran fastfood KFC di Medan malah membuat banyak pihak mentertawakan mahasiswa. Ini merusak kemurnian aspirasi yang ada. Di Makassar bahkan sampai berhadapan dengan warga. Kenapa bisa menjadi kontradiksi begitu? Di tempat lain sampai menganggu SPBU. Hei… kalau ketemu dengan orang tuamu disitu yang sedang ketakutan melihat mahasiswa mengamuk disamping mobilnya bagaimana?

Apakah mahasiswa sudah terpengaruh budaya instan: Isu + Status Mahasiswa + Emosi sesaat + Bakar Ban +Teriak2 sampai serak + Cuek ama pengguna Jalan = Demo Aspiratif?

Pemikiran Saya

Dari kacamata seorang game designer saya mencoba mencari beberapa alternatif masukan untuk teman-teman mahasiswa. Pada dasarnya saya setuju bahwa mahasiswa adalah suara aspirasi rakyat, mewakili keinginan murni masyarakat. Namun, saya tidak setuju pola prosedural aspirasi itu dilakukan dengan gaya yang tidak simpatik. Kita tidak bisa mengharapkan hasil (reaksi) yang positif dari perbuatan yang rawan anarkisme (aksi). Ingat, saya katakan “rawan” saja sudah memicu peluang negatif, apalagi kalau memang disusupi tindakan anarkis seperti menghentikan kendaraan plat merah dan sejenisnya. Sekilas aksi tersebut kelihatan “menegangkan” namun bisa mudah menuju suasana blunder. Lihat saja aksi dorong-mendorong yang terjadi selama ini. Mudah untuk ditunggangi dan efeknya harus selalu ada korban.

Kalau kita tidak percaya dengan wakil rakyat di DPR atau ragu dengan sikap pemerintah. Mengapa kita melakukan hal yang lebih buruk dibandingkan mereka? Yaitu tindak kekerasan dan pemaksaan kehendak. Spontanitas dan empati dengan keadaan bangsa itu mutlak perlu. Tapi disertai strategi dan prosedur. Ingat peristiwa yang harus dilalui Soekarno Hatta? Belajarlah dari situ.

Saya tidak mengharapkan demonstrasi yang ideal, dimana tidak ada korban, yang ada hanya diskusi konstruktif dan adem ayem. Nggak usah mimpi bro! Tidak seperti itu. Tapi yang saya lihat saat ini adalah: teman-teman mahasiswa perlu menggunakan strategi lain dan semua strategi itu sebaiknya menggunakan pemikiran kreatif dengan target: korban seminimal mungkin, bahkan kalau perlu tidak ada yang terluka akibat perkelahian fisik. Perlu dihitung biaya dan tenaga yang keluar serta peluang output yang didapat atau bisa diraih. Kalau toh hanya bentrokan saja, untuk apa membuat demo? Kalau toh banyak korban yang bermunculan, untuk apa perkelahian fisik? Mudah untuk menuding pihak keamanan yang memprovokasi, mereka juga akan mengatakan mahasiswa yang duluan. Ini akan menjadi perang tak berkesudahan mengenai siapa yang salah dan benar. Banyak mahasiswa yang mengira demo harus dibayar dengan perselisihan fisik.

Apa harus begitu?

Coba googling dengan kata kunci demonstrasi mahasiswa, maka akan banyak gambar yang bermunculan. Banyak sekali gambar demonstrasi yang hanya bersifat lokal. Sayang sekali, ditengah era internet dan telekomunikasi canggih saat ini, mahasiswa masih tetap sulit untuk mengatur pertemuan akbar agar bisa bersinergi seperti gambar dibawah ini:

mei 98   aksi-1998

Lihat ciri kedua gambar diatas. Berada di tempat yang strategis dan massa semua bersatu. Dalam beberapa hari jadi membludak. Bagaimana kita bisa membuat perubahan lebih cepat dan lebih bergaung saat ini jika tidak bersatu? Sedangkan demonstrasi yang bersifat lokal sering berakibat seperti:

Petugas kepolisian mengamankan seorang mahasiswa   saat  aksi demonstrasi di Kampus Universitas Pamulang, Pamulang, Tangerang Selatankorban

Selain bersifat lokal (jumlahnya hanya puluhan sampai ratusan) sering pula menimbulkan efek merugikan publik seperti diwakili gambar berikut ini: hambat jalan2bakar banbakar meja

Menurut anda, berapa peluang masyarakat bersimpati? Anda pasti setuju bahwa banyak pihak merasa dirugikan. Padahal maksud awal adalah membuat sebuah “sentakan” yang tujuannya menyadarkan banyak orang akan kejadian nyata disekitar kita. Ibarat seorang pangeran yang membangunkan seorang putri yang sedang tertidur. Tapi disini, putrinya merasa terganggu dan mendamprat (mungkin juga menampar 😀 ) sang pangeran.

Bagaimana kalau:

  • Berdemo di satu lokasi strategis? Dalam hal ini misalnya di alun-alun selatan atau utara sekaligus. Lebih baik bersatu (ribuan bahkan puluh ribu mahasiswa berdemonstrasi secara damai). Saya yakin di kota lain ada juga lokasi yang bisa menampung massa dalam jumlah banyak. Mengapa hal ini penting? Kini demo asal jadi tidak lagi bergaung di Indonesia. Ibarat keributan. Semua orang akan menghindari kegiatan seperti itu karena akan menghubungkan demonstrasi dengan keributan, kericuhan, huru-hara, perkelahian fisik, saling memaki dan secara keseluruhan hanya untuk memuaskan emosi. Dalam hal ini tentu emosi si demonstran dan bukan publik yang diwakili.
    Tapi, kalau  teman-teman mahasiwa bisa mengumpulkan massa di satu titik strategis, maka hal ini akan dilirik publik. Tantangannya kini jauh lebih rumit. Yaitu menjaga keamanan dan demo secara damai. Saya setuju kalau mahasiswa meminta izin dari pihak keamanan untuk hal ini. Agar secara prosedural tidak disalahkan dan kemungkinan penyelusup bisa diminimalkan dan kalau saja ada bentrokan maka mahasiswa bahkan bisa meminta bantuan mereka. IDE Kontradiktif? Ya, harus kontradiktif, kalau tidak maka demo yang dilakukan akan sama saja. Ambil pengeras suara dan bakar ban 2-3 biji. Tidak ada efek berbeda 🙁
  • Menggunakan internet, social media, dan semua teknologi komunikasi – Tentu untuk  membuat ekspos yang lebih besar agar dilirik oleh pihak yang berkepentingan. Mengundang media ketika demo akbar, melakukan live interview, menulis press release juga bagian dari strategi itu. Manfaatkan blog, buat rekaman video dan upload ke Youtube. Ajak teman dari Twitter.
    Tentu masukan seperti ini banyak dicibir mahasiswa, karena terkesan bukan aksi spontan. Hehehe… saya sudah mengalami apa yang namanya demo instan, setengah instan sampai demo yang batal. Semuanya perlu perencanaan. Semakin direncanakan maka semakin baik dan banyak hal yang bisa diantisipasi. Umumnya demo sporadis adalah demo dadakan dan bersifat emosional dan enak bagi si demonstran tapi dikutuk oleh publik yang terganggu.
    Internet sudah terbukti menjadi alat pemersatu antara demo di dunia nyata dengan dunia maya. Banyak orang yang tidak berkesempatan ikut demo secara langsung, tantangannya adalah bagaimana agar mereka jadi tahu lalu bagaimana mengikut sertakan mereka. Jika kita bisa membuat kondisi simultan dimana teknologi sangat berperan dalam hal ini, maka demo yang dibuat akan jauh lebih efektif dan efisien hasilnya.
    Dan YA, anda lebih aman membakar ban dan mengekspresikan kejengkelan anda lewat gambar dan animasi di dunia online tanpa ada yang merasa dirugikan, tapi mereka tetap mengerti kegusaran anda bukan? Hehehe…
  • Buang ego kampus per kampus, kini saatnya demo tanpa jaket kampus – Saya tertawa melihat mahasiswa selalu memaksakan demo hanya dikampusnya bila menyangkut masalah nasional. Kalau jaket kampus digunakan sebagai tanda pengenal it’s okaylah… tapi kalau hanya dengan alasan lebih mudah berkonsolidasi, lebih mudah bergerak… maka, selama itu pula demo akan bersifat lokal dan gaungnya jangan harap meluas. Kalaupun meluas akan memakan waktu yang lama… sayangnya ketika mulai membesar, banyak isu baru muncul. Bandingkan berita sore hari:
    “Demo di beberapa kampus di beberapa kota di Indonesia… bla..bla…bla…”
    “Ratusan mahasiswa berdemo di… bla…bla…bla..”
    Dibandingkan dengan:
    “Demo sebelas ribu mahasiswa di lapangan ….. diwakili 6 kampus …. didukung semua BEM dari kampus terkait…. bla. bla..”
    “Jumlah demonstran mahasiswa terus memadati alun-alun kota…. hampir sepuluh ribu orang… aksi berlangsung damai dan dijaga oleh polisi….bla…bla…bla”

    Dengan bersatunya BEM dan semua forum mahasiswa, akan memudahkan pergerakan demo, implementasi di lapangan dan manajemen demo yang bergaung luas. Kalau bisa sampai tahap ini, maka saya akan mengangkat tangan dan berkata “SALUT BUAT MAHASIWA NEGERIKU!!”. Disinilah aspirasi itu akan mulai didengar, dilihat, diikuti, diamini dan diberi simpati. Kalau tidak, hehehe… lebih ribut suara knalpot motor RX King daripada suara-suara anda Bung!….
  • Anti Kekerasan dan memilih jalan Damai – Beranikah para teman-teman mahasiswa menggunakan penjagaan pihak keamanan dan memanfaatkan mereka untuk kepentingan demo? Sebuah keniscayaan? Jika mindset para pendemo masih memusuhi mereka, maka selama itu pula setengah dari jalan aspirasi akan selalu terganggu. Jika kita melihat polisi selalu sebagai musuh, pasti selama itu pula musuh akan bertambah.
    Sun Tzu saja berkata: rangkullah musuhmu melebihi temanmu. Hehehe… saya bukan mengatakan musuh dalam arti sebenarnya, teman-teman mahasiswa menganggap pihak keamanan itu penghalang. Salah besar! Mereka memiliki kewajiban dan tugas menjaga keamanan. Ini dunia nyata. Tidak semua harus seperti yang anda inginkan.
    Tapi, ada peluang secara formal untuk bersama-sama dengan mereka bekerjasama melakukan kegiatan demo yang damai. Ingat, demo damai tidak pernah dilarang dan disini kita sadari bahwa demo tidak selalu identik dengan kerusuhan, perkelahian fisik, caci maki dan sebagainya. Demo yang kita akan gunakan adalah “DEMONSTRASI DAMAI dengan UNJUK GIGI melalui JUMLAH MASSA YANG BESAR” sebagai perwakilan aspirasi. Ingat, JUMLAH bisa mewakili KEKUATAN. Bentrokan, perkelahian dan sejenisnya, hanya mewakili huru-hara. Tujuan menjadi kabur. Dan syukur-syukur gigi depan masih nempel baik. Kalau copot terkena tinju aparat, pacar anda bisa manyun keki karena wajah tampan anda berkurang nilainya. Percayalah… jumlah massa yang besar namun bisa tanpa kekerasan mengeluarkan pendapat akan membuat banyak orang berpikir… publik, penguasa, politisi, bahkan dunia luar pun akan melirik.

Penutup

Apakah masukan saya ini aneh? Bisa saja, bahkan pasti ada yang keki dengan ide saya, mungkin menertawainya. Masalahnya adalah: dari tahun 1998, apakah banyak demo mahasiwa yang berhasil dalam mengusung aspirasi nasional? Sedikit sekali bukan? Kenapa? Mungkin karena hal-hal yang saya bahas diatas. Jadi, kenapa kita tetap melakukan hal-hal yang sama namun ingin melihat hasilnya berbeda? Konyol sekali rasanya….

Sebagai kalangan akademik, tidak ada yang salah, malah bisa dikatakan wajib jika kita selalu berupaya meningkatkan hasil dari aktivitas yang kita perbuat. Jadi, wajar saja kalau saya menantang generasi demonstran saat kini untuk lebih kreatif memanfaatkan kondisi dan situasi dalam menyampaikan aspirasinya, tanpa menimbulkan efek negatif dari kegiatan demo. Jangan meniru model demo masyarakat lain. Ingat, anda adalah kalangan intelektual, generasi pemikir… bukan hanya sekedar generasi Facebookan atau komunitas bakar ban.. Jangan merasa nyaman di zona “demo tanpa kerusuhan dan korban terasa makanan tanpa garam”…. Itu pola lama dan sudah saatnya dirubah.

Media online bisa menjadi wahana demo yang baru dan cocok dikombinasikan dengan demo di dunia nyata. Banyak wahana lain yang sekilas tidak relevan bisa jadi alternatif. Misalnya: Seni mural dan grafiti bisa digunakan sebagai ekspresi aspirasi untuk menuntut perubahan tanpa merugikan publik (saya rasa di Jogja menjadi pelopor di Indonesia untuk hal ini). Suarakan saja aspirasi melalui seni…

Social media sudah terbukti ampuh untuk menggalang kesadaran masyarakat. Teman-teman mahasiswa bisa membuat berbagai artikel argumentasi dan solusi dari kalangan generasi akademik. Saya rasa hal ini akan dikenang lebih lama, dan tentunya efeknya lebih baik karena dengan dokumentasi online akan bisa diakses banyak pihak dan tentunya hal ini akan mendidik publik pada akhirnya. Bandingkan dengan demo sporadis yang “cenderung” hanya beberapa saat dan saya tidak yakin publik mengerti semua masalah secara lengkap dibanding dengan cara sebelumnya.

Memang tidak mudah membuat kegiatan demonstrasi, apalagi yang bersifat damai dan bergaung. Tapi demo bukan media ekspresi emosi saja. Demo adalah media ekspresi intelektual dan sekaligus pencitraan. Tentu kedua faktor ini yang kita kedepankan secara positif dan bukan negatif. Saya sangat berharap demikian….

Catatan: Semua gambar diambil dari berbagai sumber via Google dengan kata kunci: demonstrasi mahasiswa, demo anti bbm. Semua gambar hanya untuk ilustrasi tambahan.

 

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.