Home / Edukasi / E-LEARNING SUCK, GAMES RULEZ! – Part 1
samuel-henry-elearning-vs-games

E-LEARNING SUCK, GAMES RULEZ! – Part 1

Pertama, saya mau jelaskan terlebih dahulu. Saya seorang praktisi di bidang  gamedev dan sekaligus jadi dosen dengan mata kuliah gamedesigner. Saya bukan anti e-learning, tapi menurut saya baik secara pribadi maupun praktisi, saat ini kebanyakan e-learning itu membosankan dan tidak menarik sama sekali.

Anda bisa saja berkata lain, tapi kalau anda saat ini berumur dibawah 30-an, maka anda pasti setuju. Anda mengikuti e-learning bukan karena minat, tapi karena kewajiban dari kampus bukan ? Hehehe… ayo ngaku saja deh…

Artikel ini fokus kepada pertanyaan: Mengapa e-learning buruk dan membosankan? Padahal kontennya bagus dan kita mengakui ilmu yang ada didalamnya bermanfaat.  Jawaban praktisnya: Karena mayoritas e-learning saat ini tidak mampu menarik perhatian, minat apalagi keterlibatan penuh dari pesertanya.  Nah, disini saya mengacu kepada segmen pelajar khususnya mahasiswa, walaupun hal ini berlaku juga kepada semua segmen pelajar tua maupun muda.

Bagaimana mau menarik, kalau model “delivery” dari e-learning hampir tidak berubah dari jaman baheula dulu. Kita ambil Microsoft Power Point sebagai contoh.  Walaupun sekarang ditambah dengan berbagai fitur, tapi bagi kalangan anak muda, e-learning berbasis powerpoint tetap tidak menarik. Modelnya itu-itu saja. Paling tampil lebih manis dengan fitur multimedia, hanya saja monoton secara umum. Mau dipaksa apapun, ya tetap monoton bagi mereka, kecuali bagi yang sudah berumur 35 tahun keatas alias sudah terbina kebiasaan melihat presentasi Power Point dengan gaya seperti itu. Saat ini sudah ada beberapa software yang mencoba mengupgrade Power Point ke level yang lebih tinggi seperti yang dilakukan Articulate Presenter. Bagaimana hasilnya? Yah… lumayanlah.. tapi tetap ingat, bahwa model seperti itu hanya model “describe and deliver” saja. Keterlibatan atau engagement? Masih sedikit alias
meragukan.

Tampilan Articulate dengan basis Power Point Walaupun sudah berbasis multimedia, tapi masih bersifat 1 arah

Tampilan Articulate dengan basis Power Point
Walaupun sudah berbasis multimedia, tapi masih bersifat 1 arah

 

Video game, walaupun produk akhirnya bisa beragam, pada dasarnya adalah sebuah lingkungan terstruktur dan terbatas yang memberikan kesempatan kepada pemain untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan baik yang terukur sejak awal maupun yang tidak. Kata kuncinya adalah memberikan kesempatan alias memberikan tugas pengambilan keputusan kepada pemain. Dalam lingkungan terstruktur, itu berarti pemain sebenarnya diarahkan secara “halus” untuk mengikuti alur yang ditetapkan dan maksud dari lingkungan terbatas adalah fokus ke area/subjek/topik tertentu.

Yang mengasyikkan adalah, kita sebagai pemain bisa menduga, mengkalkulasi, mempelajari atau mengantisipasi masalah yang akan selalu timbul selama permainan berlangsung.  Disini, faktor keterlibatan otak dan emosional digerakkan bersamaan. Akhirnya kita menjadi terlibat sedemikian jauh kedalam dunia permainan itu sendiri. Cukup berbeda secara signifikan dengan simulasi walaupun banyak kemiripannya, dimana unsur pengambilan keputusan itu direduksi agar anda (pemain) lebih bertindak sebagai peserta yang harus mengikuti langkah demi langkah dari konten yang diberikan.  Hal ini dimaksudkan karena tujuan dasar dari simulasi adalah memberikan tampilan visual dan konten secara tersruktur dengan meminimalkan kesalahan yang bisa terjadi. Sementara didalam game, kita bebas melakukan kesalahan, toh nanti bisa kita ulang. Dan sebenarnya game memberikan pelajaran penting bahwa kegagalan itu bagus selama kita terus belajar darinya.

Di artikel bagian kedua, kita akan melihat bagaimana generasi muda lebih memilih game daripada e-learning.

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.