Home / Edukasi / E-LEARNING SUCK, GAMES RULEZ! – Part 2

E-LEARNING SUCK, GAMES RULEZ! – Part 2

Coba bayangkan, sejak kecil anda sudah mengenal video games. Bahkan kita tidak asing lagi dengan berita tentang kecanduan bermain game (kita akan bahas persoalan ini di lain waktu), dan mungkin anda pernah mengalami kecanduan bermain game. Lalu saat ini anda menggunakan e-learning. Bagaimana rasanya? Jawaban 99%: Tidak menarik!

Saya pernah berdiskusi dengan teman, seorang dosen juga. Dia mengeluh bahwa program e-learning yang diterapkan dikampusnya tidak berjalan sesuai dengan harapan. Saya memberi saran dengan model penerapan Gamified E-learning atau sederhananya e-learning berbasis game. Sekilas dia tertarik, tapi sewaktu saya katakan bahwa didalamnya banyak game, dia langsung menolak. Game itu untuk bermain, sementara e-learning itu untuk hal serius. Benarkah?

Walaupun saya sudah diatas 40 tahun dan bekerja sebagai dosen, jujur saja, saya menertawai argumen teman saya itu. Saya katakan kepadanya, kalau memang serius dan penting, lalu mengapa  program e-learning kebanyakan gagal dan hanya menjadi bahan “pamer kampus” saja? Mengapa kita tidak mau belajar dan mencoba mengimplementasikan mekanik game kepada e-learning? Toh video game sudah terbukti mampu “membius” mulai anak-anak sampai manula bukan?

Belum lagi jika melihat konten game, jutaan orang tua dan muda melempar burung ke babi-babi pengganggu. Hitung sendiri berapa orang remaja berperan sebagai pasukan elit bertempur melawan teroris. Pasti anda bisa menduga game apa yang saya sebutkan tadi bukan?

Tapi pernahkan guru menggunakan Angry Bird untuk menjelaskan hukum fisika? Atau organisasi LSM menggunakan game simulasi militer untuk mensosialisasikan dan menumbuhkan semangat anti terorisme sejak muda? Ternyata bisa juga digunakan untuk hal serius bukan? Walaupun kebanyakan game itu bersifat menghibur, game itu bisa digunakan sebagai alat bantu ajar. Itu masih menggunakan game yang sudah ada. Bagaimana kalau kita membuat “game yang belum ada” atau “game yang sesuai konten” kita?

reachforthesun

Game “Reach for The Sun” mengajarkan tentang resource management
dan pengaturan tanaman. Apakah video game atau pelajaran, atau keduanya?

Memang mendesain sebuah e-learning yang terintegrasi game tidak mudah. Membutuhkan desain unik untuk memenuhi tantangan yang berbeda dibanding dengan game biasa yang bersifat menghibur, ataupun e-learning biasa yang terlalu formal dan kaku. Tapi masalah ini bukan berarti mustahil.  Dengan kreativitas dan mekanik game, e-learning yang membosankan akan bisa menarik dan lebih melibatkan peserta.

Mahasiswa tidak lagi merasa bosan dan monoton dengan konten pelajaran, tapi kini mereka bisa bermain, berkompetisi dengan siswa lain, narsis berinteraksi aktif dengan siswa lainnya dan pamer kemampuan atau skor mereka di topik tertentu. Tidak bisa dipungkiri lagi kalau generasi sekarang yang lebih dikenal dengan generasi Y menjadi bersifat pemilih. Bayangkan saja betapa biasanya mereka dengan perkembangan teknologi digital yang masif. Teknologi 5 tahun lalu saja sudah terasa jadul saat ini. Jadi wajar saja kalau mereka melihat e-learning yang tidak banyak berubah (termasuk kasus Power Point di artikel bagian 1 tadi) menjadi membosankan. Dan itu sayangnya tidak hanya di e-learning saja, bahkan masuk sampai ke dalam kelas.

Jadi perbedaan mencolok antara e-learning dengan game adalah model deliver yang menjadi semakin berbeda. E-learning tidak banyak berubah dari 15 tahun lalu menurut perkiraan saya. Sementara video game sudah jauh berubah bahkan dari 5 tahun lalu. Selalu ada inovasi dan hal baru. Sebagai dosen, saya mencoba hal itu dengan membuat metode pembelajaran berbasis game. Dengan mekanik game dan menerapkan game design kedalam topik serius seperti pengajaran kuliah, hasilnya jauh berbeda. Saya sudah membuktikan hal itu. Setidaknya menurut testimoni mahasiswa saya… sedikit promosi deh… hehehe.

Apakah praktisi e-learning tidak paham dengan dunia video game? Atau mereka sebenarnya perlu belajar dengan para praktisi gamedev untuk mencoba menerapkan model gamified learning itu? Bagimana menurut anda?

 

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.