Home / Entrepreneur / Finance Control and Decision for Startup
finance-control-and-decision-for-startup

Finance Control and Decision for Startup

Salah satu masalah yang sering dialami startup yang diinkubasi adalah kehabisan cadangan dana. Terlepas dari berbagai alasan penggunaan dana oleh founder, sebenarnya ada pelajaran penting yang harus selalu diingat oleh para pelaku Startup: Uangmu terbatas!

Kenyataannya banyak yang tidak benar-benar menyadari hal tersebut dan cenderung bertindak sporadis dan tidak terkontrol. Sebagian lagi melakukan keputusan yang kurang tepat dan cenderung lemah argumentasi maupun analisa awal dari keputusan yang akan diambil mengenai penggunaan dana.

Satu hal yang saya selaku tekankan kepada banyak startup adalah: diawal tampaknya dana inkubasi yang diterima seakan-akan cukup sehingga para founder cenderung menyesuaikan diri dengan jumlah yang diterima. Dengan kata lain bisa saja para founder menggaji dirinya melebihi yang pantas bahkan merekrut pegawai yang sebenarnya belum signifikan.

Jangan Terpaku Hanya Ke Periode Inkubasi

Selalu memperkirakan yang berbeda dan terburuk. Artinya: buat cadangan penggunaan dan pengaturan dana melebihi masa inkubasi yang ditetapkan. Bila inkubasi 2 bulan maka setidaknya cadangkan untuk ekstra 2 bulan perpanjangan, bila 3 bulan maka setidaknya 2 bulan ekstra harus bisa anda biaya juga. Artinya anda harus menghemat selama inkubasi plus masa ekstra tersebut.

Seoptimis apapun startup anda bergerak, selalulah bersikap pesimis terhadap penggunaan uang. Hal inilah yang akan menjadi panduan anda dalam menentukan berapa kencangnya ikat pinggang dari operasional startup anda. Jangan merekrut tenaga kerja yang tidak signifikan dan sangat krusial bagi kelangsungan pengembangan produk. Jangan pula bertindak gegabah dengan berusaha secepat mungkin mandiri padahal dana yang digunakan kebanyakan bukan untuk pengembangan produk, malah ke berbagai hal pendukung lain seperti: menyewa kantor dan lainnya.

Bila berhadapan dengan masalah uang, startup selalu bersikap paranoid dalam artian harus ekstra hati-hati bahkan cenderung pelit. Ingat pelit, bukan serakah. Serakah berarti bertindak gegabah dan tidak kuat argumennya seperti: merekrut tenaga marketing padahal produk belum jadi, menambah kendaraan operasional padahal masih bisa menggunakan kendaraan pribadi, malu diledekin teman sekitar karena masih beroperasi dari garasi, rumah atau numpang di kantor teman. Anda bisa menambah daftar itu sendiri sebenarnya.

Hemat, Hemat dan Hemat

Ketiga kata itu selalu harus diingat oleh para founder, terutama founder berbasis geek. Itulah sebabnya praktisi founder sebaiknya mau terbuka dan membicarakan ini ke mentor. Banyak startup yang melakukan sebaliknya. Mengira mereka bila membuka berarti memberikan akses dan keleluasaan yang tidak terbatas kepada mentor untuk mengobok-obok isi perut startup sendiri. Padahal mentor bertindak lebih menjadi seorang sparring partner alias teman diskusi terdekat. Bila teman terdekat kita saja ragu akan keputusan kita mengenai penggunaan dana, bukankah bagus kalau kita jadikan pertimbangan dan bahan diskusi?

Mentor bukan hanya menjadi teman diskusi mengenai teknologi dan masalah teknis. Lebih dari itu, mentor juga bisa diajak sebagai teman untuk membicarakan logika dan mengukur urgensi dari sebuah keputusan yang berdampak kepada penggunaan dana. Memang sering para founder berkilah, setelah diskusi akan membuat mereka menjadi ragu. Mending mana jadi ragu atau blunder?

Jika  muncul keraguan setelah berdiskusi dengan mentor, seorang founder bisa mencari solusi dengan melihat alternatif yang lain yang bisa ditempuh. Atau menunda sementara dan mencari jawaban yang bisa menghapus keraguan tadi dengan kata lain mencari data tambahan sebagai validasi dari keputusan yang akan diambil.

Penutup

Janganlah pembahasan saya ini dianggap menjadi pelemah semangat. Tapi sebagai warning agar para founder bisa lebih berhati-hati dan mau meningkatkan pengetahuan dan kemampuan di bidang keuangan. Banyak founder yang malas dan menyerahkan masalah ini kepada pihak lain dengan kata lain menggaji orang lain. Sebenarnya bukan tidak baik, tapi jika founder bisa memahami arus kas, penggunaan dana dan semua alirannya, maka para founder dapat mengantisipasi dengan lebih baik  sebelum masalah datang.

Sepanjang yang saya tahu, banyak founder startup yang ahli di bidang teknologi tapi kacau di bidang keuangan. Saya kira tidak ada salahnya jika founder mau belajar secara khusus mengenai keuangan sejak dini.

 

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.