Home / Entrepreneur / Fokus ke Lomba atau Bisnis?

Fokus ke Lomba atau Bisnis?

Dari beberapa tenant inkubator Indigo, ada keunikan yang saya lihat dari para peserta yang tidak lolos maupun yang lolos seleksi. Saya tidak membahas faktor kelulusannya menjadi tenant disini. Yang saya soroti adalah masalah yang lebih fundamental bahwa sampai sekarang masih banyak teman-teman mahasiswa yang salah kaprah dengan menjadi spesialis lomba dibanding menjadi startup.

Sebenarnya perbedaannya cukup jauh dan diketahui oleh para pelakunya. Tapi ada kesalahan yang cukup fatal di  mindset pelaku. Ada beberapa pemikiran yang beranggapan bahwa startup itu seperti bentuk proyek atau aktivitas sampingan sementara. Tidak jauh berbeda dengan berfokus kepada satu perlombaan sebenarnya.

Perbedaan
Perbedaan mendasar yang paling kentara adalah soal waktu dan komitmen. Para pelaku spesialis lomba hanya fokus dan berkomitmen penuh dalam jangka waktu pendek saja. Yaitu selama mempersiapkan produk yang akan dilombakan. Kalau disini, semua tenaga dan pikiran dicurahkan mati-matian dan diharapkan bisa menjadi pemenang. Masalahnya, kalau tidak menang lalu bagaimana? Ada yang mencoba peruntungan ke lomba lain (kalau ada) atau membuat produk baru dan mencari acara lomba di lain waktu tentunya.

Sementara menjadi pelaku bisnis (dalam hal ini adalah startup) tidak mempunyai batas waktu dan tetap menuntut komitmen yang panjang. Bahkan nyaris seakan-akan tidak ada batas. Selama tidak patah semangat, maka perlombaan masih berlanjut. Kemungkinan menang bagaimana? Tidak ada jaminan juga dan lebih serunya, tidak  hanya satu bentuk kemenangan. Bisa banyak, mulai dari mendapatkan pelanggan yang cukup banyak, mengalahkan kompetitor produk sejenis lainnya, mendapatkan suntikan modal dari ventura, diakuisisi perusahan besar, dsb.

Dasar Memulai
Jika spesialis lomba lebih mengejar portofolio bagus yang akan ditampilkan di CV, maka startup lebih mengejar keinginan pribadi akan pencapaian yang lebih kompleks.  Dasar mengikuti lomba biasanya dimulai dari ingin mendapatkan pengakuan atau apresiasi yang lebih dalam akan kemampuan pribadi / skill pelaku maupun timnya. Sementara pelaku startup lebih didorong faktor melihat peluang dan ingin menguji apakah peluang yang dilihat itu bisa dieksploitasi menjadi sebuah bisnis.

Tidak ada yang salah menjadi spesialis lomba. Dan memulai bisnis bukan menjadi tujuan dari segalanya. Namun, melihat perkembangan disekitar kita selama ini, ada kecenderungan bahwa semangat kewirausahawan memang harus lebih ditonjolkan dibanding semangat menjadi juara.

Dengan kata lain, menjadi pemenang lomba tidak akan bisa mempengaruhi publik dalam skala yang lebih luas dibanding dengan pelaku bisnis. Disinilah letak perbedaan yang saya fokuskan.

Aktualisasi Diri
Abraham Maslow yang terkenal dengan model hirarki kebutuhan manusia mengatakan bahwa puncak pencapaian tertinggi adalah aktualisasi diri pribadi. Dengan kata lain, seorang manusia dianggap bisa mencapai tingkat tertinggi jika sudah memiliki dorongan untuk aktualiasi diri dibanding kebutuhan lain (lihat gambar dibawah ini).

maslow-needs

 

Hanya dengan melihat grafik diatas anda sudah bisa menebak bahwa spesialis lomba masih mencapai 1 tahap dibawah aktualisasi diri. Tidak buruk sebenarnya. Artinya tinggal satu langkah lagi ke puncak.

Pelaku bisnis tidak lagi fokus menjadi juara. Karena dia sudah menjadi juara atas dirinya dengan berani memulai satu petualangan yang menantang dan bisa berlangsung lama. Inti dari menjalankan sebuah bisnis sebenarnya tidak hanya merealisasikan visi yang dimiliki, atau menunjukkan kemampuan dengan mampu menjalankan berbagai misi, tapi lebih dari itu.

Inti terdalam dari menjalankan sebuah bisnis adalah bentuk pengakuan atas diri sendiri dengan segala kemampuan internal, keahlian yang dipelajari, kepercayaan diri dan juga keinginan berguna bagi sesama.

Memulai bisnis memang tidak mudah. Tidak ada jaminan akan sukses, sama dengan lomba. Tidak ada batas waktu yang fix, tidak seperti lomba yang memiliki batas periode. Hasil yang diterima dari kesuksesan juga tidak instan, tidak seperti lomba yang jauh lebih cepat baik dari proses pengerjaan dan ada kejelasan durasi/periodenya. Semua itu tentu jauh lebih memudahkan jika anda memilih menjadi spesialis lomba.

Sebagian orang berpendapat bahwa memulai dari juara lomba tidak salah. Pada akhirnya bisa dijadikan bisnis. Tapi itu cerita lain yang saya rasa untuk saat ini kurang menarik untuk diimplementasikan. Jika lomba anda perlakukan sebagai batu lompatan atau validasi dari produk anda maka tidak ada salahnya. Sayangnya, ada bias yang tidak kecil yang bisa menyesatkan anda yaitu: Menjadi juara maka kemungkinan peluang bisnis jadi besar! Tidak semuanya bung! Malah bisa dikatakan hanhya sedikit dari juara lomba yang bisa sukses menjadi bisnis? Kenapa?

Perbedaan Model & Kriteria
Yang menilai keberhasilan dari lomba adalah juri. Jumlah mereka tidak banyak. Penilaian mereka juga terbatas. Sementara yang menilai keberhasilan sebuah bisnis adalah pelanggan. Dan jumlah mereka bisa dari sedikit (gagal) sampai sangat banyak (sukses).

Jika anda menang lomba, maka hadiah yang didapat sebanyak jumlah tertentu. Biasanya tidak cukup banyak untuk dijadikan biaya hidup untuk lomba berikutnya. Sementara bisnis berbeda. Jika sukses maka anda bisa menjadi sejahtera kalau tidak sampai kaya raya sekalipun. Tapi jika gagal maka efeknya bisa lebih buruk dibanding ikut lomba dan kalah. Bisnis menuntut fokus, komitmen, waktu dan modal yang jauh lebih besar dibanding lomba.

Jadi, jika anda menjadi juara, belum tentu anda sukses berbisnis.

Kesimpulan
Di era kini, menjadi wirausaha sudah menjadi tantangan yang jamak dan kita bisa melihat dampak wirausaha terhadap kemakmuran suatu negara. Bagaimana kalau semangat untuk memenangkan lomba bisa diarahkan ulang menjadi semangat berwirausaha? Toh saat ini kondisi menjadi pelaku industri kreatif di bidang teknologi sudah sangat dimudahkan baik dari infrastruktur maupun pendukung lainnya seperti permodalan dan akses jaringan.

Mungkin sebenarnya peluang untuk itu sudah ada dan terus berkembang, hanya saja kita belum percaya diri untuk pindah ke level tertinggi tersebut. Apakah kita semua sudah terjangkiti menyukai model instan (lomba) dibanding model berkelanjutan (bisnis)? Saya juga belum bisa mengambil kesimpulan pasti….

 

 

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.