Home / Entrepreneur / Gagal itu Bagus?

Gagal itu Bagus?

Biasanya orang mengejar kesuksesan dan membenci kegagalan. Lalu ketika saya memberi judul artikel ini “Gagal Itu Bagus?“, sebenarnya lebih cocok diberikan tanda seru dibelakangnya. Jadi bukan pertanyaan melainkan pernyataan. Saya akan memberikan ulasannya disini.

Artikel ini terpicu oleh diskusi antar mentor dan tenant di group JDV 2015. Muncul pertanyaan mengapa ada pandangan berbeda di Silicon Valley tentang kegagalan. Sementara kebanyakan orang menghindari kegagalan, ternyata para pelaku startup yang gagal malah mendapatkan poin tersendiri disana.

Gagal = Buruk?

Persepsi bahwa kegagalan itu buruk ternyata tidak untuk semua orang. Para pelaku startup yang beberapa kali gagal malah dianggap para VC (Ventura Capital) memiliki ketangguhan tersendiri. Artinya sudah lolos dari saringan pertama. Dianggap lebih membumi dan realistis dibanding pelaku yang belum pernah “terbentur”. Benarkah demikian? Sayangnya, menurut pengamatan saya selama ini memang demikian adanya. Sudah beberapa puluh startup berdiskusi dengan saya dan saya menemukan pattern yang sama dan mendukung pernyataan tersebut.

Pengalaman memang mampu menjadi guru yang baik. Walaupun mengalami peristiwa buruk, pengalaman bisa memberikan banyak pemahaman dibandingkan dengan keberhasilan. Hanya saja ada syarat penunjangnya yaitu: pelaku harus mau belajar dan menganalisa kejadian tersebut serta memperbaikinya.

Dalam dunia nyata, banyak yang tidak melakukan hal itu. Ibarat lagu jaman dulu: Buah semangka berdaun sirih. Artinya berharap sukses tapi melakukan yang berbeda dengan keharusan. Tidak ada korelasi yang jelas antara upaya dan target pencapaian.

Belum paham sepenuhnya? Saya coba jelaskan…

Dalam aktivitas startup, selalu ada 2 aktivitas yang terus menerus dikejar yaitu:  measure dan learn. Lihat gambar lean startup cycle dibawah ini:

lean startup cycle

Kenapa saya memfokuskan kepada measure dan learn? Apakah build tidak penting?

Biasanya startup didirikan oleh geek dan para developer. Wajar kalau mereka mahir di sisi teknis. Jadi masalah membuat produk tidak terlalu menjadi masalah pelik bagi mereka. Yang menjadi masalah adalah ketika produk tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Artinya bukan kekurangan fitur atau tidak bisa berjalan, tapi tidak ada orang yang mau membelinya, tidak ada yang tertarik menggunakannya dalam jangka panjang karena dianggap tidak terlalu bermanfaat.

Dari sisi teknis sebenarnya tidak ada yang salah dengan produk yang dibuat. Yang menjadi masalah adalah kenapa produk yang dibuat dengan susah payah ternyata tidak sukses di pasar? Kenapa penggunanya sedikit dan tidak bisa memberikan keuntungan yang setimpal? Mengapa begini dan mengapa begitu?

Dengan kata lain, ide yang dianggap inovatif di awal pun bisa blunder ketika diimplementasikan di pasar.

Potensi kegagalan inilah yang diminimalkan dengan membangun produk yang diinginkan pasar. Produk tersebut harus lolos dari tahap tertentu (idea validation dan dikonfirmasikan dengan tindakan GOOTB).

Potensi kegagalan sangat banyak dan kita tidak akan bahas disini karena akan membutuhkan banyak penjelasan yang lebih terperinci. Singkatnya, potensi kegagalan itu diantisipasi dengan membuat Minimum Viable Product (MVP) agar bisa segera diuji ke pasar “percobaan awal” sebelum di”tweaking” selanjutnya.

Disaat MVP di uji cobakan, disitulah pentingnya aktivitas measure alias pengukuran. Yang diukur banyak ragamnya dan semua dinggap sebagai satuan pengukuran  atau lebih dikenal dengan metrik. Di bagian inilah kebanyakan startup tidak melakukan proses yang baik dan benar. Metrik sangat penting sebagai tolak ukur pencapaian sebuah startup dari aktivitas yang dilakukan. Dengan selalu mengukur, maka semua kegiatan dapat dilihat dan dipelajari. Dengan kata lain, kegagalan dapat dianalisa, kekurangan dapat diperbaiki dan kesuksesan lebih berpeluang untuk diulang kembali.

Mengambil judul sub artikel, maka kegagalan/kekurangan (measure) masih dapat diperbaiki jika kita mau mengoreksi/menganalisa/mempelajari (learn) dari masalah tersebut.

Penyakit Geek

Banyak startup yang saya ajak diskusi mengidap penyakit ini. Penyakit yang terlalu teknis sentris. Saya kira, inilah salah satu alasan kenapa didalam sebuah startup selalu dituntut keberadaan orang bisnis selain teknis dan desain. Orang bisnis dianggap mampu menjadi penyeimbang dan memberikan dampak yang baik untuk menutupi kemungkinan kekurangan dari geek.

Apakah penyakit geek itu? Sederhananya: orang geek selalu mengukur dari internal dirinya (internal measurement) sementara orang bisnis tidak demikian. Orang bisnis mengukur dari orang luar (calon konsumen, pelanggan, target pasar yang dituju). Perbedaan inilah yang menjadi salah satu penyebab masalah startup. Jika hanya berfokus kepada masalah teknis, maka produk bisa saja inovatif tapi belum tentu ada pasar yang cukup dewasa untuk mengadopsinya. Jadi peluang sukses tidak akan tercapai karena pasar mungkin belum siap, belum diedukasi, dsb.

Sebaliknya, jika terlalu berorientasi kepada pasar dan tidak mengindahkan inovasi (value lebih setidaknya), maka kompetisilah yang menjadi lawan terberat karena produk yang dibuat akan relatif sama dengan produk kompetitor. Anda bisa lihat contoh produk komoditas misalnya.

Jadi, keseimbangan antara inovasi yang baik dan pasar yang cukup adalah tujuan utama.

Tidak mudah menemukan keseimbangan itu. Sehingga dari proses yang terus menerus tersebut (kompetisi bisnis yang selalu bersaing) dibutuhkan proses yang mampu selalu adaptif dengan perubahan yang dinamis. Itulah kenapa lean startup dibuat. Fase pemula ini akan lebih terjangkau dari segi teknis dan bisnis jika kita melakukan aktvitas measure dan learn diatas. Tidak hanya di fase awal ketika masih berbentuk ide, tapi terus menerus sampai produk sudah dianggap matang sekalipun.

Ingat semboyan Google? Google always beta. Sudah menjawab mengapa mereka bisa terus adaptif dengan perkembangan teknologi yang sangat dinamis bukan?

1:9

Dikatakan survey: hanya 1 diantara 10 startup yang akan lolos di tahun pertama mereka menjalankan aktivitasnya. Dan saya menemukan hasil itu masih konsisten sampai sekarang. Banyak startup yang hanya bertahan selama kurang lebih satu tahun.

Apalagi startup mahasiswa hehehe. Hanya sekedar pengisi CV saja. Lumayanlah nambah gengsi.

Jika sudah lolos tahun pertama, apakah peluang sukses makin besar atau makin kecil? Jawabannya hanya jika anda bisa mengukur semua aktivitas anda, dan menemukan cara untuk melakukannya dengan lebih baik (learn) maka peluang akan lebih dekat kepada anda tentunya.

Jadi, walau anda sudah beberapa kali gagal mendirikan startup yang sukses, bukan berarti anda segera bisa sukses atau semakin dekat. Tapi selalulah belajar dari kegagalan anda tersebut. Belajar tidak hanya sekedar menganalisa saja, tapi mencari penyebab dan solusi yang tepat untuk bisa direplikasi di tahap berikutnya dengan lebih baik adalah penentu.

Hal inilah yang dicari oleh para VC di Silicon Valley. Mereka mencari pattern kegagalan tersebut dan meneliti bagaimana para founder bisa mendapatkan pelajaran berharga darinya. Dengan kata lain, mereka menganalisa ide dan produk yang dibuat, mengukur pencapaian yang sudah dilakukan founder startup gagal tersebut serta mempelajari karakter dan mental para founder yang masih terus berupaya.

Pola ini akan anda lihat di berbagai cerita startup yang akhirnya sukses setelah beberapa kali mengalami kegagalan.

 

 

 

 

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.