Home / Edukasi / Games Mindset: Produktivitas – part 2/2
lifeproductivity

Games Mindset: Produktivitas – part 2/2

Kembali ke konsep games mindset dari artikel pertama, bagaimana menerapkannya dalam kasus nyata? Kita ambil saja sebagai contoh bagaimana kita menguasai bahasa asing dalam waktu 3 bulan misalnya. Kita buat target bahwa minggu terakhir bulan ketiga kita akan bisa fasih berbahasa Jepang misalnya.

Kita pecah 3 bulan dalam beberapa level. Pembagiannya bisa kita sederhanakan menjadi 12 minggu atau 12 level dan tiap minggu kita pecah menjadi 5 hari atau 5 level kecil. Anda tentu setuju kalau belajar bahasa itu memerlukan teori dan praktek. Untuk teori butuh juga buku dan latihan audio. Nah, disini kita buat timeline agar tantangannya bisa menanjak perlahan-lahan sesuai teori game dimana pada level awal kita buat tantangan yang mudah (hanya membaca buku belajar bahasa Jepang 2-3 halaman tiap hari), lalu minggu depan kita tambah jumlah halamannya (bisa jadi 4-5 halaman tiap hari). Lalu pada pada minggu ketiga kita tambah dengan menonton video sewaan dengan bahasa Jepang misalnya.

Pada bulan kedua, kita tambah tantangannya dengan mendengarkan audiobook (rekaman audio latihan bahasa Jepang) dimana anda bisa mengulangi kata dan kalimat yang diberikan sambil tetap membaca buku bahasa kedua dengan jumlah halaman yang semakin banyak tentunya.

Pada akhir bulan kedua, anda menaikkan tantangan lagi dengan membuat jadwal komunikasi dengan turis atau orang Jepang yang bisa anda jumpai dan ajak komunikasi. Ini adalah bentuk tantangan yang lebih “berat” tapi itulah fungsinya anda membuat level desain yang menanjak dan akan semakin intens pada minggu berikutnya. Bisa saja pada minggu kedua dan terakhir anda berbicara setidaknya 2-3 kali setiap minggu untuk memperlancar kemampuan bahasa Jepang anda.

Pernahkah anda mencoba model seperti yang saya sebutkan diatas. Kalau melihat model video game, tentu anda tidak heran. Tapi untuk kehidupan nyata pun kita sebenarnya sudah melaluinya dengan model sekolah. Hanya saja, sekolah memberikan hadiah (reward) dan pencapaian (achievement) yang terlalu lama bagi kita. Paling cepat adalah bulanan dengan model ujian bulanan. Sementara untuk konsep diatas, kita bisa membuat feedback yang lebih cepat sehingga kita bisa termotivasi dan secara konsisten selalu menjaga performa dari tugas (task) yang kita kerjakan.

Cara termudah adalah membuat score board kepada diri kita sendiri, dan enaknya kita bisa membuat reward setiap kali kita berhasil menyelesaikannya. Buat juga punishment jika tidak. Contoh untuk saya adalah: setiap kali saya berhasil mengerjakan satu tugas dengan tepat waktu, biasanya saya memberikan hadiah kepada diri saya berupa cemilan dan softdrink. Hehehe… itu adalah kegemaran saya, jadi wajar saya selalu termotivasi. Bagi anda, pilihlah apa hal kecil yang selalu membuat anda semangat. Sebaliknya jika saya tidak berhasil atau mengabaikan tugas tadi, saya menghukum dengan tidak menghidupkan televisi dan menonton film action yang menjadi kegemaran saya. Cukup menyiksa saya, tapi dibawah sadar, saya jadi suka mengerjakan tugas dengan efisien. Percaya atau tidak, cobalah…

Biasanya setiap minggu saya memberikan hadiah yang lebih besar seperti mengajak pasangan, teman atau keponakan menonton atau mentraktir mereka makan. Ada kepuasan tersendiri bisa mencapai target dan memberikan kesenangan kepada orang lain setelah kita merealisasikan target kita tadi. Bandingkan dengan hanya memberi tanpa terlebih dahulu memberi kepada diri anda.

Tanpa sadar, saya sekarang tidak menganggap bahwa belajar, kerja atau kegiatan sejenis menjadi membosankan atau tidak menarik. Banyak diantaranya bisa saya kerjakan dengan lebih santai karena saya memecahnya menjadi beberapa level dan saya menjabarkan tantangan, pencapaian, hadiah dan hukuman sehingga target dan feedback bisa lebih mudah saya pahami.

Jadi kini anda paham bukan kenapa motto hidup saya adalah Gamer For Life hehehe…

Oke, sampai disini dulu. Saya sudah selesai menulis artikel ini. Saya mau minum Coca Cola Zero sebagai rewardnya 🙂

 

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.