Home / Gamification / Gamification in Classroom

Gamification in Classroom

Jika anda tertarik dengan Gamification, pasti anda pernah berpikir: apakah gamifikasi bisa diterapkan di dunia pendidikan?  Hal yang sama juga terjadi pada saya. Sebagai dosen, saya tertarik mengimplementasikannya didalam kelas dan melihat dampaknya kepada mahasiswa . Artikel ini adalah awal dari proyek riset awal saya terhadap implementasi gamifikasi di dalam kelas.

Pada mulanya saya agak skeptis karena mahasiswa saya bukanlah segmen utama yaitu anak SMP atau SMU, malah bisa dibilang  segmenya agak “dewasa” alias “tua dikit”. Mereka adalah mahasiswa S2 dimana saya mengajar sebagai dosen Game Design. Dengan sedikit pendekatan di awal, saya memaparkan kepada mereka bahwa kelas mereka akan saya jadikan proyek riset tentang gamifikasi didalam kelas. Untunglah mereka setuju, mungkin berharap ada pengaruhnya dengan nilai akhir nanti. Dan ya, saya juga mengkaitkan hal itu untuk penilaian tiap mahasiswa. Mari kita bahas prosesnya secara ringkas.

Konsep Awal

Saya akan membagi mahasiswa kedalam tim kecil karena menurut saya sebaiknya mereka juga diajarkan konsep kerjasama tim dan belajar taktik strategi bermain tandem dalam bentuk kelompok. Tapi saya juga membuat penilaian untuk individu sebagai pembanding yang lebih fair kepada masing-masing individu mahasiswa.

Seperti didalam game, saya membagi tiap sesi pertemuan menjadi bentuk level permainan. Dalam satu semester ada 12x pertemuan, plus 2x ujian yaitu mid dan ujian akhir semester. Jadi total ada 14 level game perkuliahan. Di awal kuliah, tugas yang diberikan tidak terlalu sulit. Level-level berikutnya semakin kompleks dan rumit. Dan pada 2 sesi ujian, akumulasi poin bisa dikonversikan untuk membantu nilai. Kalau nilai mahasiswa dianggap kurang, saya bisa mengkonversikannya menjadi lebih baik karena nilai/poin yang dikumpulkan selama kuliah (menjawab pertanyaan, diskusi dan debat, presentasi, dsb) akan membantu nilai ujian mid dan ujian akhir semester mereka. Semua mahasiswa menyetujui kesepakatan yang dibuat tadi.

Penilaian

Seperti yang umum diketahui tentang gamifikasi, saya memberikan poin untuk item atau aktivitas tertentu. Baik secara individu maupun kelompok. Yang saya desain antara lain sbb:

  • Setiap menjawab pertanyaan mendapat 5
  • Setiap mengerjakan tugas sebelum tanggal pengumpulan mendapat 10 poin
  • Tugas yang telat dikumpulkan namun tetap dikumpul sebelum ujian akan diberi 0 poin
  • Tugas yang tidak dikerjakan akan mendapatkan pengurangan 10 poin
  • Menyebabkan gangguan di kelas (ring tone berbunyi, berdebat keras/kusir) mendapat pengurangan 15 poin
  • Kelompok yang aktif akan mendapatkan badge khusus dan akan diumumkan berkala di deoan kelas

Saya berusaha membuat penilaian dengan sistem poin yang mudah dan sederhana. Yang penting adalah melihat dampaknya, apakah baik dan mendukung kuliah atau tidak. Sistem penilaian ini juga saya rencanakan akan bertambah seiring dengan waktu dan proses terjadi. Mirip seperti bermain game, tentu ada bonus poin, wild card (kartu khusus untuk event penting), dsb. Kapan itu diimplementasikan, saya belum bisa memastikannya saat ini, namun secara konsep saya sudah medesainnya sedemikian rupa agar “permainan kuliah” bisa bertambah ramai dan bersemangat.

Penilaian ini penting untuk mengukur tingkat keterlibatan (engagement) mahasiswa (player) dengan materi kuliah (game) dan melihat nilainya (score, level, badge).

Gamifikasi di Bidang Edukasi

Saya termasuk yang merasa bahwa sistem pendidikan di Indonesia harus diubah. Sistem pendidikan sekarang lebih mengedepankan hapalan dan logika saja. Sekilas memang itu yang diharapkan kalau melihat kondisi pasar yang menginginkan tenaga kerja model budak. Tidak heran kalau sedikit anak Indonesia yang sejak muda bernalar tinggi atau kritis terhadap dirinya. Semuanya seperti dipaksa untuk menerima blueprint baku yang sudah ditetapkan.

Menurut saya, dengan gamifikasi, pendidikan bisa jauh lebih menyenangkan dan “hidup”. Bila guru-guru menerapkan gamifikasi sejak pendidikan usia dini (yang mana sebenarnya sudah ada sejak dulu tapi belakangan ini malah hilang dan diganti dengan model pendidikan normal) maka perkembangan nalar, mental, logika dan juga rasa bisa berkembang dalam kecepatan yang sama kalau tidak bisa dikatakan sejalan dan seiring.

Argumentasi saya sederhana saja. Kalau saja mengerjakan PR bisa dibuat seperti layaknya anak asyik bermain game, atau saja anak bisa menjelaskan materi pelajaran seperti dia menjelaskan karakter game kesukaannya, pasti ada sesuatu yang “hebat” dalam video game itu. Dan saya kira desain dan model implementasinya bisa ditiru dan diterapkan ke bidang lain.

Ok, saya akan beri laporan berkala tentang perkembangan Gamification in Classsrom ini. Semoga saja bisa menjadi ide dan sumber inspirasi serta motivasi bagi pendidik lainnya.

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.
Samuel Henry says:

Terima kasih. Bisa kirimkan ke samuelhenryx@gmail.com saja 😀