Home / Edukasi / Ide vs Eksekusi

Ide vs Eksekusi

Sampai saat ini masih banyak perdebatan tentang ide dibanding ekseksi. Sebagian besar startup masih memilih ide yang mumpuni dibanding memilih eksekusi. Saya akan coba membahas dari keseluruhan sudut pandang agar anda bisa menentukan apakah hal ini memang tepat atau tidak.

Ide Inovatif adalah kunci

Pernyataan ini benar. Dan tanpa ide yang inovatif maka penemuan penting tidak akan bermunculan. Namun apakah ide menjadi kunci utama? Kalau dilihat dari sisi inovasi memang benar adanya. Tanpa adanya unsur inovasi maka sebuah ide tidak akan menggerakkan teknologi atau pencapaian yang lebih tinggi. Tapi apakah tanpa inovasi sebuah ide masih bermanfaat? Ternyata dari kegiatan sehari-hari ide sederhana, yang sudah ada namun digali kembali, masih bisa memberikan manfaat. Itulah sebabnya kenapa kita lebih menyukai individu yang penuh dengan ide, baik yang inovatif maupun yang biasa-biasa saja.

Oke, sampai disini kita sependapat bahwa ide itu penting dan kita lanjutkan kepada eksekusi.

Eksekusi adalah penentu

Jika ide biasa dan inovatif dieksekusi dengan baik, maka hasilnya diharapkan akan meningkatkan peluang keberhasilan. Jika asumsi kedua dibuat dengan batasan: eksekusi yang lebih baik lagi, maka ide biasa tetap saja bagus namun peluang keberhasilan ide inovatif diyakini akan meroket. Dan kondisi ideal inilah yang diharapkan dapat dilakukan oleh banyak startup.

Namun bagaimana kalau keduanya dieksekusi dengan kurang  baik atau buruk? Semua orang akan mengiyakan bahwa ide biasa atau inovatif akan menjadi sia-sia. Hanya saja, jika dilihat dari sisi value, maka ide inovatif akan jauh lebih sia-sia dibanding ide biasa yang secara nilaipun dianggap tidak terlalu tinggi.

Sekarang mari kita bandingkan dengan menggunakan gambar yang bisa membantu sudut pandang anda. Pada gambar dibawah adalah perbandingan antara ide bagus yang dieksekusi buruk (Dumb) dibanding ide yang biasa dieksekusi dengan bijak (Smart).

goblok versus bijak

Sebagian dari anda pasti ada yang tidak setuju dengan pernyataan saya diatas. Tapi kondisi diatas memang sudah banyak terjadi dan saya akan memberikan beberapa argumentasi untuk diperdebatkan jika anda mau.

Hanya saja, saya tidak mengatakan bahwa ide biasa yang dieksekusi dengan sangat baik pasti sama nilainya dengan ide inovatif yang dieksekusi dengan sangat baik. Tapi peluang ide biasa yang dieksekusi dengan sangat baik akan jauh lebih  bernilai dibanding dengan ide inovatif yang dieksekusi biasa-biasa saja. Anda bisa melihat argumentasi saya dibagian bawah. Namun kita akan melihat kondisi startup yang umum disekitar kita saat ini.

Startup adalah eksekutor yang buruk?

Bisa jadi. Setidaknya secara statistik, jumlah startup dengan ide yang bagus tapi dieksekusi dengan buruk jauh lebih banyak dibanding startup dengan ide biasa tapi dieksekusi dengan jitu. Dibawah ini adalah gambar yang bisa menampilkan kondisi startup kebanyakan yaitu: ide yang dirasa hebat tapi kemampuan untuk eksekusi yang tidak sebanding.

kondisi startup yang umum

Kenapa kondisi demikian bisa terjadi? Wajar saja sebenarnya secara logika. Rata-rata startup adalah anak muda yang belum berpengalaman di dunia bisnis. Memang secara teknis, pengetahuan mereka sudah mumpuni. Jadi kalau bicara aplikasi dan teknologi sebenarnya sebagian besar tidak diragukan.

Bila dilihat dari segi implementasi bisnis (eksekusi) maka hasilnya akan berbeda. Lha karena belum pernah berbisnis tentu saja ada trial error, ada kesalahan disana-sini. Dibagian inilah kebutuhan untuk inkubasi, mentoring, workshop bisnis, pendampingan, dll sangat diperlukan.

Eksekusi teknis (penguasaan teknologi) memang sudah dikuasai. Karena startup biasanya dipenuhi oleh para geek alias developer freak. Tapi jangan salah, eksekusi ini hanya di awal saja. Memang dikemudian hari akan ada upgrading dari sisi teknologi lagi kalau bisnis sudah semakin stabil dan berkembang (grow).

Bisnis adalah area yang memiliki ruang berbeda dengan sisi teknis. Jika dalam sisi teknis sudah oke, maka sisi bisnis adalah bidang eksekusi yang berbeda. Kesalahan yang terjadi bisa lebih luas dan tersembunyi. Untuk itulah mengapa konsep Lean Startup lebih cocok untuk startup karena modelnya yang adaptif dengan kondisi kekinian startup yaitu: minim. Banyak sisi minim yang dimiliki startup seperti: pengalaman, resources, dana, dsb.

Nilai ide dan eksekusi

Sekarang akan saya berikan gambaran mengenai nilai dari ide dan eksekusi. Gambaran dibawah ini adalah penyederhanaan dari keduanya. Semoga anda dapat melihat secara lebih menyeluruh:

ide x eksekusi

Lihatlah nilai dari ide yang biasa (so-so idea) yang dilaksanakan dengan sangat baik (great execution) maka nilainya adalah 5 juta dollar. Apalagi kalau dieksekusi dengan sempurna (brilliant execution)?

Bandingkan dengan ide hebat (great idea) yang dilaksanakan dengan eksekusi biasa (so-so execution) maka nilainya hanya 150 ribu dollar. Kalau dieksekusi dengan buruk (weak execution) maka nilainya akan jauh lebih rendah.

Perbandingan diatas hanya sebagai ilustrasi awal saja. Tapi saya yakin dengan kalkulasi diatas anda akan bisa melihat pentingnya eksekusi dan bagaimana anda bisa meningkatkan peluang keberhasilan dengan memaksimalkan eksekusi.

Nah, bagaimana dengan startup anda sekarang? Apakah sudah melakukan eksekusi dengan baik? Eksekusi yang baik itu meliputi banyak hal. Mulai dari pemilihan co-founder, pemilihan ide, perencanaan kerja, implementasi teknis yang terencana, penggunaan modal yang terbatas, penerapan lean startup dengan baik, pencarian mentor, dsb.

Jadi setelah anda mendapatkan ide, maka selanjutnya adalah eksekusi, eksekusi dan eksekusi. Ibarat analogi tanaman, bibit yang baik akan tumbuh dengan baik bila disertai dengan perawatan dan pemupukan yang baik pula. Sayangnya, pemilihan bibit relatif lebih cepat dibanding masa perawatan yang jauh lebih lama dan memakan tenaga.

Saya kira anda sudah tahu apa maksud analogi itu bukan?

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.