Home / Edukasi / Implementasi Gamifikasi di JDV

Implementasi Gamifikasi di JDV

Salah satu tugas saya sebagai pengelola inkubator Jogja Digital Valley yang dimiliki Telkom adalah membuat dorongan yang mampu membangkitkan semangat dan keaktifan para penggiat startup, khususnya di kota Jogja. Sebuah tugas yang tidak mudah karena para pelakunya datang dari berbagai latar belakang.

Salah satu upaya yang saya lakukan adalah mengimplementasikan gamifikasi di JDV dalam bentuk penerapan berbagai program yang diharapkan mampu mendorong aktivitas dan partisipasi dari para member JDV tentunya. Keputusan ini saya ambil setelah memperhatikan dan mengamati perilaku para startup dan penggiat IT di JDV yang selama ini memang sudah cukup dinamis tapi masih belum bergerak selaras. Setidaknya menurut pendapat saya.

Saya melihat bahwa banyak potensi dari para member JDV yang belum tersalurkan dalam artian masih berbentuk potensi. Ada yang sudah memiliki skill tertentu tapi interaksinya masih kurang dengan lingkungan. Ada yang sudah melakukan networking tapi masih butuh komunitas untuk berkembang.

Memilah keaktifan dan partisipasi para member JDV tidak mudah dan membutuhkan perubahan perilaku yang harus juga dianalisa dari waktu ke waktu. Karena saya datang dari industri game serta memahami manfaat dari gamifikasi maka saya memutuskan untuk melakukan implementasi gamifikasi dengan target member JDV.

Tujuannya sebenarnya sederhana, membuat para member menjadi lebih aktif dan termotivasi dalam komunitas. Bisa dikatakan selama ini berbagai fasilitas di JDV nyaris didapatkan dengan gratis sehingga banyak yang menggunakannya namun tidak maksimal. Dalam arti kata, kebanyakan member datang dari kalangan mahasiswa. Sekilas memang menumbuhkan semangat dan partisipasi mengenal dunia IT, namun dibalik itu ternyata banyak yang hanya memanfaatkan fasilitas gratis tanpa ada keseriusan membangun bisnis atau startup.

Ketika pola pembatasan member dengan menyeleksi anggota diperketat, terjadi peningkatan kualitas dan atmosfir kerja di JDV sebagai co-working space. Dan sekarang penerapan gamifikasi dengan membagi berbagai aktivitas serta partisipasi yang diganjar dengan berbagai fasilitas dan akses level yang berbeda akan semakin menggiatkan para member.

Program ini tidak terlalu sulit untuk dimengerti. Member hanya perlu mendaftar di Front Office, lalu mencatat berbagai aktivitas yang memberikan mereka poin. Pada waktu tertentu dapat ditukarkan dengan berbagai fasilitas yang ada dan dipilih sesuai kebutuhan dari masing-masing member. Baca detailnya di tabel gamifikasi JDV.

Penerapan ini tentunya sudah saya perkirakan akan mendapatkan respon yang beragam. Sebagai salah satu bentuk program yang saya harapkan bisa mengubah dan memotivasi perilaku dari member, tentu membutuhkan waktu untuk melihat hasilnya. Saya kira dalam waktu 3-4 bulan sudah bisa kita ukur dengan survey yang lebih mendetail.

Terlepas dari kesulitan dan kerumitan mengelola sebuah komunitas, pada akhirnya interaksi dari para pelakunya adalah hal yang terpenting. Membangun komunikasi dan interaksi bisa saja dengan penerapan sistem atau aturan apapun. Namun selalu harus diawali dengan proses belajar, menangkap data yang sudah ada sebelumnya. Agar sumber informasi awal ini dapat menjadi tolak ukur nantinya kedepan.

Dalam penerapan gamifikasi ini, kebetulan JDV juga mendapatkan bantuan dari 5 tenaga magang yang kebetulan mendapatkan peluang bekerja selama 3 bulan. Selain memberikan tenaga fresh baru di JDV, kami juga berkesempatan meningkatkan performa JDV sebagai inkubator bisnis dengan menerapkan gamifikasi. Mungkin baru inilah program gamifikasi diterapkan di lingkungan inkubator. Sebuah bentuk eksperimen tersendiri sebenarnya. Mari kita lihat dan tunggu hasilnya nanti.

 

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.