Home / Desain Game / Kerja Itu Main Versi Saya
Kerja Itu Main - kerjaitumain

Kerja Itu Main Versi Saya

Iklan promosi dari Acer One 10 ini segera menarik perhatian saya. Pertama, bukan karena detail produk atau iming-iming hadiah 20 juta perbulan, tapi lebih karena teks “…hanya untuk main?“. Maklum saja, motto hidup saya adalah Gamer for Life, tentu wajar kata “main” segera mengundang perhatian hehehe…

Segera saja koran Tribun itu saya lipat dan fokus membaca keseluruhan isi iklan. Wow.. 20 juta per bulan hanya untuk main?  Teks yang sangat menarik perhatian. Sebagai praktisi bisnis & mentor segera saya duga bahwa ini adalah bagian marketing unik dari Acer. Dan dugaan saya itu segera terbukti ketika saya mendaftar di situsnya.

Implementasi Gamification

Yang menarik adalah, konsep pemasaran ini menerapkan gamification (Mau tahu apa itu gamification? Atau baca juga beberapa implementasi gamification yang saya lakukan). Sebagai dosen, saya seperti mendapatkan kasus baru yang berhubungan dengan implementasi game design. Tidak banyak perusahaan di Indonesia yang serius menerapkan gamification selain Garuda & beberapa perusahaan besar nasional lainnya. Tapi entiti vendor hardware IT? Langka rasanya…

Setelah proses registrasi singkat via website, saya diberi pilihan untuk mengunjungi toko komputer yang disediakan. Kebetulan saya sering melintas di Jalan Demangan Baru, jadi Acer Center Demangan menjadi pilihan praktis. Dan hari itu juga ada waktu luang, segera saya memilih kunjungan kesana. Rasanya ada keasyikan tersendiri ketika membayangkan kira-kira challenge apa yang akan diberikan nanti di toko?

Betul saja, ketika sampai di toko & disambut ramah dengan mbak yang cakep, saya diberi penjelasan singkat dan langsung mengikuti kuis. Seperti dugaan saya sebelumnya, dilakukan untuk produk promosi yaitu Acer One 10. Sampai disini saya belum mendapatkan sensasi unik. Maklum, saya sudah paham konsep gamification ini jadi tidak terlalu surprise bagi saya.

Tapi otak gamer saya muncul. Saya menduga kuis ini pasti soal produk Acer One 10 baik dari sisi fitur atau spesifikasinya. Secara sengaja  saya mencoba memberikan jawaban yang salah untuk 2 soal setelah menonton video produk. Kenapa saya lakukan? Saya ingin melihat apa efeknya hehehe….

Acer One 10

Feedback yang saya dapat tidak banyak dan tidak ada hukuman berarti, masih sesuai dengan dugaan awal saya. Akhirnya saya menjawab dengan jawaban yang benar dan kode unik untuk mengikuti tahap selanjutnya keluar. Segera saya foto dengan HP saya.

Tapi dasar mindset praktisi dan mentor, saya melakukan sedikit interview dengan mbak penjaga untuk mengetahui bagaimana sambutan publik dengan sistem promosi ini. Ternyata banyak yang mengikuti mulai pelajar sampai PNS. Siapa yang tidak mau mencoba menguber rezeki 20 juta per bulan hanya dengan bermain bukan? Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, hook yang sangat mengena untuk banyak orang…

Senang mendapatkan kode unik, segera saya pulang. Namun di perjalanan pulanglah muncul pencerahan bagi saya. Selain mendapatkan product knowledge yang baik tentang Acer One 10, tanpa sadar saya mengambil brosur produk Acer terbaru. Bukan hanya brosur lomba saja yang diberikan otomatis oleh mbak penjaga tadi. Dan ketika melihat lebih seksama, saya secara otomatis membandingkannya dengan produk kompetitor lainnya. Demi alasan etis, saya tidak sebutkan disini, tapi sebenarnya bukan alasan etis itu, saya dengan sengaja dan terarah memancing ingatan anda akan produk kompetitor tersebut bukan? Hehehe… Ya, segera saya membuka web dan membandingkannya. Dan … wow.. saya menjadi kepincut dengan Acer One 10. Kenapa? Silahkan melakukan komparasi sendiri ya, baik dari segi fitur atau harga, saya yakin kesimpulan anda dan saya saat itu adalah sasaran yang ditargetkan pihak Acer dengan konsep promosi “kerja itu main”.

Bravo buat Acer, implementasi gamificationnya berjalan mulus di benak saya setidaknya!

Alasan Ikut

Tujuan saya mengikuti lomba ini sebenarnya sederhana saja. Hobby saya adalah memberikan mentoring dan coaching kepada pelaku bisnis pemula atau startup. Passion saya itulah yang membuat saya menjadi dosen, pembicara, motivator dan mentor.  Tapi saya juga adalah seorang gamer dan suka melakukan eksperimen dengan konsep bermain (playing game) di berbagai bidang termasuk dalam memberikan kuliah di kampus.

Dalam 4 tahun belakangan ini saya terlibat di 2 inkubator bisnis (I2TY oleh Kemenkominfo dan Indigo Incubator oleh Telkom). Banyak suka duka menjadi mentor, namun passion saya memang di bidang coaching sehingga asyik-asyik saja menjalaninya. Berbagai pengalaman itu menjadi bahan sharing saya di seminar, workshop, diskusi khusus di berbagai event lokal maupun nasional. Tapi sejalan dengan waktu saya melihat ada peluang unik yang ingin saya explore lebih lanjut.

Selama ini saya lebih banyak melakukan kegiatan offline. Beberapa rekaman video ataupun materi webinar saya publish di internet. Banyak yang meminta materi lebih. Saya tidak keberatan dan berusaha untuk selalu memberikan materi secara berkala. Dari beberapa waktu lalu sudah muncul di benak saya untuk membuat channel khusus bagi startup baik dari segi materi pelatihan, diskusi, dan berbagai informasi yang akan membantu proses bisnis mereka.

Kenapa channel video untuk startup ini penting? Tidak semua daerah di Indonesia bisa saya atau teman-teman mentor baik di BDV (Bandung Digital Valley) atau JDV (Jogja Digital Valley) bisa jangkau. Selain dibatasi kegiatan rutin di lokasi masing-masing, ada beberapa batasan ekslusif branding Telkom karena saya menjadi mentor residensial. Bukan berarti Telkom membatasi kegiatan atau penyebaran materi, tapi saya harus membuat konten-konten materi baru dan bekerjasama dengan berbagai pihak lain (kampus, vendor, club mahasiswa, dsb). Sudah berjalan dengan baik beberapa tahun ini. Tapi saya tetap tidak puas dan ingin mencoba lebih atau di dunia game dikenal dengan istilah mencoba level berikutnya.

Blog pribadi, Youtube, situs Slideshare menjadi pilihan saya. Khusus di Youtube, saya melihat bahwa infrastruktur telco nasional untuk video streaming sudah lumayan saat ini dan jangkauannya sudah meluas sampai ke tingkat kabupaten. Nah, tantangan yang diberikan oleh Acer menjadi pemicu ulang kepada saya untuk terus bermain dengan ide yang sudah ada di benak saya sebelumnya.

Bagaimana jika saya jadi pemenang dan hadiahnya saya buat menjadi modal awal untuk mensetup studio mini? Studio ini akan bisa digunakan untuk merekam berbagai diskusi secara langsung baik para mentor, praktisi, pelaku startup, dll. Peralatan seperti kamera, mic khusus, lampu dsb, akan sangat bermanfaat baik acara yang direkam khusus maupun kegiatan live. Pelaku startup di daerah bisa belajar dan aktif lebih dari yang sekarang bukan?

Kesimpulan

Menang atau tidak bukan menjadi tujuan paling utama. Toh saya sudah melakukannya dan akan terus melakukannya. Tapi tantangan “Kerja Itu Main” dari Acer ini berhasil memotivasi dan menginspirasi saya untuk naik ke level berikutnya… Semakin berani bermain dengan berbagai ide atau mencoba mengeksplorasi ulang ide lama. Hidup terlalu membosankan untuk hal-hal rutin bukan?

Bagaimana dengan Anda? Semoga artikel ini bisa menginspirasi anda juga untuk mencari tantangan lain baik di benak atau lingkungan anda. Dan mencobanya seperti bermain game.

Catatan:
Saya nyaris lupa untuk mensubmit foto dan cerita ke website kerjaitumain.com karena keasyikan main game Shadow Fight 2. Memang game itu benar-benar membuat saya ketagihan hehehe…

 

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.