Home / Entrepreneur / Kesempurnaan vs Menunda
have-no-fear

Kesempurnaan vs Menunda

Saya baru-baru ini mendengar penjelasan dari seorang founder yang memiliki sebuah ide menarik namun terlalu lambat mengeksekusinya. Sangat disayangkan kalau masih ada yang berpikir bahwa menunda itu tidaklah buruk dan berdampak apa-apa. Apalagi hanya sekedar ide, mungkin itu yang terlintas diawal benaknya.

Selama founder ini mempresentasikan ide dan konsepnya, jujur saja saya tertarik dan ingin melihat sampai mana ide itu bisa diuji. Sayangnya, sampai 2 tahun ternyata ide itu belum dieksekusi dan hanya menjadi ide yang menarik saja. Dimana masalahnya?

Sepanjang sesi tanya jawab, akhirnya terkuak bahwa salah satu alasan adalah karena kemampuan dari para pendiri startup yang tidak bisa menyatukan visi dan misi. Sehingga tidak ada aksi yang nyata untuk mewujudkan ide itu dalam bentuk prototype atau demo apapun. Padahal saya akui bahwa ide itu sangat menarik. Demi menjaga kerahasiaan, saya tidak akan membeberkan siapa dan apa idenya. Karena artikel ini tidak bermaksud mempermalukan atau apapun yang berdampak negatif nantinya.

Tapi jujur saja, cerita founder tadi menambah deretan dari para founder yang tidak bertindak sebagaimana mestinya. Banyak yang menunda dan menunggu agar “saat ideal” itu muncul atau datang sendiri. Sebagian lagi berpikir lain, bahwa mereka sudah melakukan cukup upaya dan kini sudah siap menunggu takdir yang baik. Sayangnya kalau seperti ini tetap tidak akan ada yang datang menurut saya.

Banyak ide menarik, unik dan spesial yang selalu dibicarakan para founder. Terlepas dari itu, mentalitas founder untuk mewujudkannya yang menjadi penentu. Bukan dana, tenaga dan alasan lainnya. Bisa saja dicari berbagai alasan lain dan tentunya tidak akan banyak yang membantah. Tapi pada akhirnya, menyerah atau tidaknya selalu terletak pada pelakunya sendiri. Dan ketika menyerah, disaat itu pula tervalidasi bahwa upaya itu sudah berakhir.

Apa yang membedakan satu ide menarik dengan ide lainnya?

Tidak lain adalah: siapa yang bisa mewujudkannya! Maka ide itulah yang menarik. Karena jika tidak diwujudkan maka tidak akan ada yang bisa memvalidasi secara nyata bahwa ide itu memang benar menarik. Pengujianlah yang menjadikannya menarik karena bisa membuktikan apakah ide itu betul-betul bisa membuat orang tertarik untuk mecoba setidaknya. Atau malah segera melupakannya.

Jadi, ketika anda memiliki sebuah ide yang anda rasa menarik, perhatian anda segera terpusat kepada satu hal: bagaimana cara mewujudkannya dengan cepat. Artinya segera menguji dan melihat hasilnya.

Banyak yang langsung tertarik ingin menyempurnakan konsep atau ide tadi. Tidak salah kalau bisa dilakukan cepat. Kenapa harus cepat? Saat ini banyak ide baru bertebaran dimana-mana dan oleh siapa saja. Bahkan ide yang bagus pun dengan mudah bisa ditiru oleh orang lain. Tapi, pada akhirnya, siapa yang bertahan?

Kecepatan sangat menentukan sebuah ide dari hanya sebuah konsep menjadi sebuah rencana yang matang dan sudah dipoles. Dengan melakukan validasi akan ditemukan banyak perbaikan. Memang harus diterima pada awalnya bahwa sebuah ide jarang bisa dikatakan bagus dan lengkap fiturnya. Umumnya bahkan tidak sempurna dan banyak cacat. Namun perbaikan yang diterima dari masalah itu yang akan menjadi tujuan utama perbaikan selanjutnya. Feedback dari pengguna yang terus menerus dipoles dan diperbaiki yang akan menentukan kualitasnya.

Jika kita memahami konsep ini dengan baik, maka tidak ada lagi dasar kita menunda terlalu lama bila kita memiliki sebuah ide. Mungkin kita perlu fokus bagaimana cara membuat ide itu bisa diuji dalam waktu singkat. Setidaknya tidak memakan waktu dan biaya yang banyak bukan?

 

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.