Home / Edukasi / Learn from Failure!

Learn from Failure!

Beberapa waktu lalu di awal Mei 2014, ada peristiwa menarik ketika sebuah game bertema FPS diluncurkan. Game ini mengusung nama Battle of Yogyakarta dan dalam promosinya menampilkan kata “Ini adalah game bikinan anak negeri yang WAJIB kita dukung.. Kapan lagi Indonesia bisa melahirkan game dengan kualitas gameplay dan Graphic sekeren ini?”

battle of yogyakarta 2

Saya mengetahui hal tersebut dari salah satu posting tim Aliansi saya di GITS. Karena saya penggemar FPS segera saja saya ke lokasi thread tersebut di forum Kaskus. Sayangnya setelah melihat isinya, saya jadi miris. Silahkan anda melihat keseluruhan posting dan komentar pembaca. Saya hanya akan membahas sedikit mengenai attitude dan teknik promosi serta model penawaran yang diberikan developernya. Tujuan saya hanya satu: agar developer pemula lain bisa belajar dari kesalahan developer tersebut. Tidak ada maksud untuk merendahkan, karena sebenarnya saya juga sudah berpartisipasi mengajak developer tersebut dan bersedia untuk sharing ilmu. Baca posting saya disini dan yang ini.

Terlepas dari kontroversi itu, saya memfokuskan kepada beberapa item untuk diperhatikan oleh para game developer atau startup lainnya (silahkan menyesuaikan konten produk anda):

  1. Profil Tim Anda harus jelas dan dapat dijejak. Tidak ada yang lebih aneh jika nobody tiba-tiba muncul dan mengaku beberapa keunggulan. Orang akan sulit percaya jika tidak bisa menjejak siapa anda, apa produk anda dimasa lalu dan track record anda yang lain. Plus, buatlah sebuah website yang berisi profil lengkap dan detail baik mengenai anda, tim anda dan produk serta layanan terbaru serta yang sudah pernah dibuat.
  2. Buat Press Release yang baik. Sering sekali arti dari press release ini tidak dianggap penting dan hanya sekedar pengumuman biasa. Padahal banyak detail dan informasi lain yang masuk didalam sebuah press release. Cari tahu bagaimana membuat press release yang baik.
  3. Sertakan demo selain screenshot dan video. Mau lebih meyakinkan? Buat link untuk mendownload demo dari game/app anda. Video dan screenshot tidak cukup lagi saat ini. Dan untuk apa tanggung-tanggung, para pengunjung website/forum/blog anda bisa saja tertarik dan menjadi tester tidak resmi. Banyak masukan yang akan anda terima.
  4. Tampung Feedback. Akan selalu ada yang memuji dan mencela. Tapi anda bisa belajar dari keduanya. Yang paling baik adalah yang mencela karena anda bisa memastikan apakah produk anda memang buruk seperti yang dikatakan, atau ada yang masih bisa anda perbaiki. Tidak ada manfaat ngeles dan ngotot mempertahankan kualitas saat ini karena mereka adalah calon pembeli. Malah anda bersyukur mereka bisa memberikan input. Semakin anda dengarkan, maka mereka akan semakin merasa dihargai dan dengan senang hati memberikan masukan (baik yang mendukung maupun yang mencela).
  5. Lakukan Perbaikan dan Informasikan. Kalau anda sudah menampung masukan, maka pilah masukan yang prioritas dan umumkan kepada pengunjung website/forum/blog anda. Kini mereka akan mulai menjadi pengikut anda karena tidak ada yang lebih merasa terasa terhormat jika masukan mereka didengar. Cara ini adalah satu trik membangun fanbase. Dengan memberitahukan perbaikan, mereka akan memberi masukan positif lagi, dan ini akan dilihat pengunjung lain dan efeknya akan bagus kedepan.

Kembali ke kasus game FPS Battle of Yogyakarta, saya menggaris bawahi beberapa hal seperti:

  • Tidak haram menggunakan asset yang dibeli. Tapi sebaiknya dimodifikasi sedemikian rupa dan tidak perlu mengaku bahwa game itu adalah buatan “anak bangsa” kalau menggunakan asset belian tanpa ada modifikasi berarti. Contohnya adalah game BoY ini, jadi mendapat kecaman karena mengusng tema Yogyakarta sementara levelnya tidak menggambarkan kota Yogyakarta sama sekali, hanya menempelkan tugu Yogya saja sebagai pemanis.
  • Alpha Version Bisa Cukup Asal… Beberapa developer game luar memang sudah berani menampilkan game mereka yang masih dalam tahap Alpha. Tapi perhatikan, bahwa game-game jenis itu memiliki keunikan dan daya jual yang besar. Sehingga dengan faktor itu para gamer tetap tertarik mendonasikan dana. Hanya saja, model alpha stage funding seperti ini biasanya tidak besar dan berjenjang, sehingga para donatur tidak merasa dirampok. Ada pembagian tahapan untuk funding dari mulai alpha, beta, rilis awal sampai gold rilis. Dengan mentargetkan funding 75.000 USD sudah membuat beberapa donatur terheran karena tingkatan yang dibuat hanya 2 yaitu 75.000 dan 100.o00. Terkesan sangat tidak profesional.
  • Jangan Sombong Berlebihan. Bahkan jika asset game tersebut dibuat sendiripun tidak perlu menyombongkan diri dan memancing komentar negatif dari pembaca. Suka atau tidak, komen negatif ini akan bisa mempengaruhi pendapat dan pandangan pengunjung lain. Buruk untuk promosi. Malah sebaliknya bisa membuat manuver jawaban yang cerdas tanpa harus emosi jika ada komen negatif dan mencela. Pembaca lain akan respek dan ikut komentar juga, namun mereka akan lebih bijak kali ini.

Saya pada dasarnya mendukung pembuatan game ini lepas dari kontroversinya yang masih sangat prematur tapi langsung masuk ke crowdfunding atau tidak ada modifkasi yang cukup ketika menggunakan asset belian.

Apapun itu, lebih bijak jika bisa belajar dari kegagalan ini dan membuatnya lebih baik dikemudian hari.

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.