Home / Entrepreneur / Learn from Your Failure and Friends

Learn from Your Failure and Friends

Saya ingin membahas mengenai hasil seleksi pre-inkubasi dari Indigo Incubator 2015 awal bulan Mei 2015 lalu. Sebagai salah satu penilai dari program pre-inkubasi tersebut tentu banyak yang bisa saya berikan agar bisa menjadi masukan buat startup yang mengikuti namun masih gagal masuk ke program inkubasi Indigo Incubator 2015.

Catatan pertama: dari 600 lebih proposal yang masuk untuk kriteria ide, produk dan bisnis hanya dipilih 40 startup yang akan mengikuti seleksi final sebelum ikut di program inkubasi.  Bahkan seleksi final ini kemungkinan besar akan memangkas lagi sehingga jumlahnya semakin sedikit.

Mengapa sedikit yang diterima? Selain memilih yang terbaik dari semuanya, Telkom juga menganut prinsip untuk membina dalam jumlah yang terukur dengan tingkat kualitas semaksimal mungkin. Banyak faktor yang mempengaruhi, tapi disini saya bisa berikan bocoran sedikit bahwa di program Indigo Incubator 2015 salah satu faktor utama di awal seleksi adalah kualitas founder dan co-founder.

Jadi bila startup anda tidak lolos, bukan berarti ide, produk atau bisnis anda tidak bagus. Bisa jadi faktor founder dan co-founder ini yang berpengaruh lebih besar. Kenapa sangat besar pengaruhnya? Jawabannya sederhana sekali: Tim kualitas A namun dengan ide atau produk kualitas B lebih berpeluang berhasil dibanding dengan Tim kualitas B walaupun ide atau produknya dianggap kualitas A.

Lantas pertanyaan berikutnya pasti: Darimana tim penilai bisa memastikan kualitas founder / co-founder belum maksimal padahal belum ada seleksi interview?

Penilaian pertama adalah berdasarkan pengumpulan challenge yang diberikan. Di bagian ini saja banyak startup mengalami kegagalan (failure) melaksanakan challenge secara lengkap dan detail. Artinya, founder dan co-founder gagal melaksanakan tugas yang diberikan. Komitmen menjadi landasan pelaksanaan tugas. Kalau tidak lengkap maka komitmen founder / co-founder dianggap kurang.

Selain itu, kualitas pengerjaan challenge juga dilihat dari berbagai aspek. Hasilnya bervariasi memang, tapi ada challenge yang menunjukkan kualitas founder / co-founder yaitu surat pernyataan komitmen. Di bagian ini juga banyak menumbangkan startup yang cukup bagus sebenarnya. Walaupun ide, produk atau bisnisnya lolos, tapi karena tidak mau berkomitmen untuk mengikuti aturan dan kesepakatan dari program Indigo Incubator maka terpaksa digagalkan. Seperti yang anda ketahui, sebelum seleksi final semua startup diminta untuk berkomitmen sepenuhnya selama 6 bulan di program Indigo Incubator. Masih ada beberapa kesepakatan lainnya dan beberapa startup menjadi ragu ketika akan menandatangani karena merasa beberapa aspek tidak sesuai dengan keinginan mereka.

Sebagian penilaian dilakukan tim penilai dengan melakukan analisa dari berbagai aspek seperti kemampuan teknis dari tim, peluang pasar, dsb. Saya tidak akan membahasnya karena sebagian besar adalah rahasia dapur dari tim penilai. Tapi dari beberapa info diatas sudah bisa memberikan gambaran kepada anda untuk bisa mengintrospeksi tim startup anda atau startup yang lain baik yang lolos maupun gagal.

Tentu ada rasa tidak puas bagi yang gagal. Namun rasa tidak puas tidak akan menghasilkan apa-apa selain kekecewaan jika tidak disikapi dengan baik dan benar. Saran saya: jangan larut dalam kekecewaan. Masih ada lomba, seleksi, program inkubasi lain. Indigo Incubator hanyalah salah satu dari program yang ada di negara kita.

Yang saya yakini adalah, program pre-inkubasi ini pasti sudah memberikan banyak pengalaman berharga terhadap startup anda. Baik dari sisi ide, tim, kerjasama dan komitmen yang diujikan. Itu sebenarnya yang paling berharga. Beberapa startup mengamini pendapat saya ini dan memberikan pernyataannya di milis peserta.

Mengapa mereka bisa menerimanya dengan baik? Karena mereka menganggap kegagalan hanyalah bagian dari proses pembelajaran sebelum mencapai keberhasilan. Bahkan ada cerita yang menarik: ada startup yang malah lolos seleksi di program seleksi dari luar negeri walau mereka gagal lolos seleksi di pre-inkubasi Indigo Incubator 2015. Artinya, peluang tidak hanya ada di lokal saja. Tidak hanya ada di Indigo Incubator saja.

Jadi kalau anda sebagai founder atau co-founder merasa tidak nyaman dan menyalahkan berbagai pihak lain selain startup anda terhadap  kegagalan startup anda di pre-inkubasi Indigo Incubator 2015 ini, itu tandanya kualitas anda sebagai founder / co-founder memang meragukan.

 

 

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.