Home / Gamedev / Memilih Game Engine Yang Sesuai – 2 dari 2

Memilih Game Engine Yang Sesuai – 2 dari 2

Di artikel kedua ini kita akan melihat dari beberapa sisi lain untuk menentukan game engine mana yang paling sesuai buat game development dari studio anda.

Jangan hanya berdebat dari sisi fitur teknologi saja, karena fitur itu hanya sebagian dari faktor penentu dan jika anda hanya berdasarkan itu bisa jadi game anda tidak akan maksimal karena secara bisnis game development adalah industri yang keras dan sangat kompetitif. Untuk jangka panjang, belum tentu sebuah studio bisa survive hanya dengan mengandalkan fitur game engine yang dipilih. Dan faktor fitur ini sering membutakan seorang “geek” developer. Sebaiknya anda lebih berwawasan dari pribadi seperti itu.

Kalau hanya untuk belajar, sudah banyak engine yang bisa digunakan gratis. Tapi biasanya fase belajar berbeda dengan fase profesional apalagi ketika anda menggunakan software berbayar dan bekerja dalam bentuk tim.

Di artikel sebelumnya dengan mudah anda melihat bahwa UDK dan CryEngine tidak sekelas dengan Unity. Dan memang tidak ditujukan seperti itu. UDK dan CryEngine sendiri masing-masing memiliki kekuatan tersendiri dan secara spesifik bisa berbeda bagi developer yang sudah berpengalaman. Bagi developer pemula, masalah fitur akan selalu diributkan. Bagi developer berpengalaman, banyak faktor lain yang diperhatikan dan biasanya itu berhubungan dengan budget, workflow, durasi pembuatan, target pasar dan juga besarnya tim.

Budget & Workflow
Walaupun anda bisa mendapatkan Unreal Engine 4 versi bajakan sekalipun, bukan berarti anda sudah bisa membuat game. Walau anda sudah mempelajarinya lama dan cukup mahir, bukan berarti game anda bakal bisa rilis dengan cepat. Budget atau biaya selalu menjadi momok bagi game development. Berbeda dengan era dulu, membuat game saat ini sudah tidak terlalu “murah” lagi dibanding dengan banyaknya game yang berkualitas grafis  menarik.

Artinya, untuk membuat game anda menarik dari sisi grafis, anda harus bermain secara tim dan bagaimana soal gaji mereka? Untuk hobbyst memang bisa bermodal semangat tapi untuk tim yang lebih besar hal ini sering membawa masalah.

Jadi faktor budget bisa berakibat ke sisi semangat tim karena menggunakan engine sekelas Unreal dan CryEngine menuntut kerjasama tim. Ya, untuk belajar anda bisa sendirian. Untuk  membuat sebuah game yang layak dimainkan dan bisa dipamerin ke publik (bukan teman-teman ya) maka anda butuh biaya lebih.

Kelebihan Unity ada disisi ini. Versi Free sekalipun sudah bisa memberikan keleluasaan membuat game 2D atau 3D yang ditujukan untuk Web dan Mobile Games. Kebetulan kedua platform itu masih menjadi pasar yang besar saat ini. Dan biaya untuk masuk ke segmen platform itu cukup mudah dan mulus dibanding platform konsol yang menjadi kelebihan dari Unreal dan CryEngine.

Banyak yang berdebat dengan saya bahwa menguasai engine anyar seperti Unreal dan Cryengine adalah investasi. Benar, tidak ada salahnya. Hanya mereka mungkin lupa, investasi selalu dituntut membuahkan hasil dan disinilah banyak yang lupa atau menafikan bahwa investasi di Unreal dan CryEngine memang membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan Unity. Kalau anda kuat modal atau tim anda memang super solid (dalam artian rela bekerja keras selama belum menghasilkan – model startup) silahkan mencoba. Tapi kalau anda dalam kondisi biaya terbatas dan tim yang kecil akan lebih realistis jika saat ini anda memilih engine yang lebih “sesuai dengan kantong” baik dari sisi kurva belajar (menguasai engine tersebut) serta membuatnya menjadi mesin uang.

Durasi Pembuatan
Membuat game yang final dan lengkap jauh lebih mudah dengan Unity yang memang difokuskan ke platform “ringan” seperti web dan mobile. Jangan salah tangkap, saya tidak membela Unity saja dalam hal ini. Beberapa tools dari brand lain seperti Corona SDK misalnya masuk kedalam kategori ini. Anggap saja ini sebagai tingkatan kelas dan olahraga tinju. Unreal dan CryEngine masuk ke kelas berat sementara Unity “lebih sering” berlaga di kelas yang lain.

Sudah mudah ditebak, durasi pembuatan game dengan Unreal dan Cryengine lebih lama dibanding dengan Unity yang bisa digunakan membuat game dalam durasi beberapa hari. Ya, beberapa hari. Disinilah kelebihan Unity dengan assetstore yang memanjakan para developer di kelas “mobile games” dan “web”. Developer pemula sekalipun bisa membeli template dan memodifikasinya agar berbeda dan langsung bisa mengkompilasinya menjadi game final.

Cloning menurut anda? Ya, memang trend cloning saat ini sedang marak terjadi. Namun cloning sekalipun membuktikan bahwa proses itu jauh lebih mudah dilakukan di Unity (dan engine lain yang sekelas) dibanding Unreal atau CryEngine.

Ingat: cloning sudah terbukti berjalan lebih sukses di platform mobile dan web. Besarnya konsumen seakan-akan menjadi target pasar tersendiri dan banyak studio game yang tetap bisa hidup dalam kondisi extreme competition seperti itu.

Target Pasar
Sekilas anda melihat Unity tertinggal di kategori ini karena target pasar Unreal dan CryEngine adalah hardcore gamer. Sayangnya, hardcore game kini sudah menjadi minoritas dan bukan mayoritas lagi. Hardcore gamer masih banyak bertahan di konsol dan PC. Sementara di mobile dan web yang jumlahnya sudah mengalahkan kedua platform itu tidak terlalu banyak mengadopsi kedua engine anyar. Bukan karena tidak mampu, namun anda bisa menebak dari sisi apa.

Untuk lebih mudahnya anda bisa menyederhanakannya sebagai berikut:

  1. Target pasar Unreal dan Cryengine adalah hardcore gamer, sementara Unity mulai dari casual sampai hardcore gamer, tapi Unity memang kalah di kelas hardcore.
  2. Target pasar Unity tidak fokus ke bentuk tampilan grafis realistis tapi ke yang lain, bahkan 2D. Sementara Unreal dan Cryengine memang secara khusus memfokuskan diri ke tampilan realistis seperti itu.
  3. Unreal fokus ke developer dan komunitasnya, Unity juga demikian, namun CryEngine sedikit lebih fokus ke kelas yang lebih “geek” dibanding kedua engine sebelumnya. Artinya, secara target market, Unreal dan Unity memiliki jumlah developer yang lebih banyak dan bervariasi. Ini berdampak ke jumlah game yang diproduksi (baca artikel 1).

Besarnya Tim
Anda bisa membuat game di Unity seorang diri. Sementara di Unreal dan Cryengine hampir sulit membuat game kalau  mengandalkan diri sendiri. Bukan tidak bisa, tapi jauh lebih sulit.

Unreal dan CryEngine secara default memang ditujukan kepada tim developer dan jika jumlahnya semakin banyak maka secara teoritis akan membuat durasi pembuatan semakin cepat dengan kualitas game yang semakin bagus.

Salah satu yang membuat Unity sangat populer adalah kemudahan seorang developer atau bisa disebut tim kecil yang mampu membuat game dengan waktu yang cepat dan biaya yang relatif jauh lebih murah dibanding kedua game engine lainnya.

Artinya, semakin besar tim anda maka akan menuntut manajemen yang lebih detail dan efisien. Dan faktor ini yang sering tidak pernah diperhitungkan studio kecil. Kelebihan studio besar adalah dukungan teknis dari  manajemen baik operasional maupun prosedur standar yang sudah baku.

 

Penutup
Lalu game mana yang sesuai buat anda? Dengan membaca artikel 1 dan 2, saya harap anda sudah tidak lagi memperhitungkan faktor teknis saja sebagai filter dalam memilih game engine. Ingat, game development tetap sebuah bisnis dan didalam bisnis beberapa aspek lain sangat menentukan.

Selain kemampuan platform yang didukung, penggunaan bahasa pemrograman/scripting, dan faktor teknis lainnya, anda harus berhitung dengan benar dengan beberapa faktor yang saya sebutkan diatas untuk mendukung rencana anda dalam pengembangan game ke level akhir.

Salah memilih, akan membuat anda kehilangan waktu, kehilangan momentum yang berakibat berkurangnya semangat dan tentu peluang sukses lebih menipis.

Catatan penutup: artikel ini bukan bentuk dukungan atau pembelaan saya kepada Unity, malah sebenarnya saya adalah penggemar berat Unreal. Hanya saja, dengan artikel ini saya berharap para developer pemula paham konsekwensi menggunakan game engine seperti Unreal dan CryEngine. Jadi memperhitungkan aspek lain ketika memilih kedua game kelas berat seperti itu akan lebih memperkuat mental mereka dalam menjalani karir sebagai game developer.

 

 

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.