Home / Entrepreneur / Menjalankan Startup Yang Bukan Sekedar Hobby?

Menjalankan Startup Yang Bukan Sekedar Hobby?

Menurut pandangan saya, beberapa startup tanpa sadar didirikan dan coba dijalankan dengan semangat “hobby” alias sambilan saja. Apapun alasannya seperti: ikut dengan trend disekitar, termotivasi dengan lomba, pengen narsis dengan skill teknis, atau apapun itu. Jangan salah, saya tidak mengatakan hal ini buruk. Namun dititik tertentu anda dan co-founder lain akan berhenti di satu persimpangan: menjalankan startup dengan lebih serius atau berhenti membuang waktu dengan sia-sia?

Jika berhenti, maka anda akan masukkan pengalaman tadi ke portofolio/CV. Lumayanlah untuk menambah seksi isinya ketika mengirimkan surat lamaran. Tapi artikel ini tidak dibuat untuk hal tersebut. Saya lebih memfokuskan kepada teman-teman yang ingin lanjut dengan lebih serius.

Yang harus dilakukan untuk naik level dari hobby ke tingkat serius?

Yang akan saya berikan pemaparan disini tidak saja sebagai strategi tapi juga bisa dianggap sebagai model untuk menjalankan startup yang lebih “serius”. Langkah praktisnya adalah sebagai berikut:

  • Awali dengan riset/survey pasar: Sebelum mendevelop, buat rencana produk/layanan yang memiliki solusi untuk masalah yang tepat. Jadi hindari membuat sebuah solusi untuk masalah yang anda “anggap” ada, tapi buktikan dengan riset atau lakukan aktivitas GOOTB (Get Out Of The Building). Seringkali masalah yang anda anggap serius ternyata tidak ada apa-apanya di mata calon pelanggan anda. Sering sekali startup bermasalah dibagian ini. Maklum saja, karena latar belakang teknis maka pekerjaan yang cenderung membutuhkan skill extrovert ini suka dihindari, setidaknya ditahap awal sampai nanti kebentur baru berpikir ulang. Catatan: Bukan meremehkan, namun jika produk anda terlalu berinovasi alias tidak ada kompetitor sama sekali, kemungkinan besar adalah pasar untuk produk anda tidak ada dan ini adalah lampu merah buat anda. Memiliki kompetitor membuat sudut pandang dan ruang inovasi tersendiri dan tentu hindari untuk sekedar meniru mereka.
  • Tentukan pelanggan yang tepat: Tidak ada lagi saat ini yang disebut dengan tipe pelanggan “untuk semua kalangan”. Anda harus memilih dengan baik target pelanggan anda. Bisa jadi dari segi umur, jenis kelamin, pendidikan, demografi, habit tertentu, dsb. Semakin fokus maka anda akan semakin tepat mendevelop produk yang akan menjadi solusi bagi masalah mereka. Target pelanggan bisa dibuat profilnya dengan model customer persona. Silahkan browsing agar anda tahu apa yang dimaksud dengan customer persona. Sekali anda paham, maka selanjutnya anda akan mudah mempetakan target pelanggan anda menurut kriteria tertentu. Catatan: Anda harus bisa membuat asumsi seperti apakah mereka mau membeli jika ada harganya? Berapa kira-kira mereka mau membayar? Bagaimana agar banyak yang membeli?
  • Develop produk/layanan secepat mungkin: Hindari membuat berbagai fitur yang berbasis “menurut saya” tapi buatlah dari sudut pandang pelanggan yang membutuhkan “solusi seperti ini yang perlu ada”. Dengan kata lain, tidak usah memaksa produk menjadi sempurna ditahap awal, tapi sebaiknya dari awal semua fitur yang dibangun memang berdasarkan kebutuhan utama dari target pelanggan. Dengan demikian, anda bisa memastikan bahwa produk yang anda buat itu memang memberikan arti kepada sekelompok orang. Catatan: Strategi apa yang perlu digunakan: Agile Development atau apa? Tool pembantu lain yang bisa meningkatkan produktivitas tim saya?
  • Uji coba produk anda kepada sekelompok orang: Pastikan mereka ini adalah gambaran dari target pelanggan anda dan pastikan pula mereka menggunakan produk anda dengan baik dan benar. Dampingi dan bimbing mereka, serta dapatkan berbagai feedback dari mereka untuk memperbaiki dan mengembangkan produk anda secara kontinyu. Mereka dikenal sebagai early adopter. Merekalah yang menjadi teman anda diawal dan sekaligus menjadi penguji dan pada akhirnya sekaligus menjadi mitra pemasaran. Catatan: Bagaimana membuat komunitas sejak awal untuk produk ini? Tools apa yang bisa menganalisa, mengotomatisasikan feedback dan membuat report agar mempermudah tim saya mengolahnya? Bagaimana mengubah aktivitas mereka menjadi data?
  • Lakukan promosi pemasaran untuk produk anda: Tidak usah lebay mempromosikan startup anda, tapi fokus dan raihlah sebanyak mungkin target pasar yang berpotensi sebagai pelanggan anda. Jika memang produk yang anda buat berarti bagi orang yang membutuhkannya, maka dengan sendirinya produk anda akan berkembang. Dorong pemasaran ini dengan memberitakan melalui berbagai saluran pemasaran yang bisa anda buat dengan relatif murah kalaupun tidak gratis. Video dan artikel adalah salah satunya. Tentu tidak sulit mendapatkan testimoni dari para pengguna pemula tadi. Ini akan jauh lebih meyakinkan daripada startup anda mengumbar dan menjadi penggombal dengan memamerkan fitur produk sendiri. Catatan: Menggunakan mailing list? Video? Blog? Social Media? Gratis atau berbayar? Freelance, outsource atau in-house? Bagaimana mendapatkan testimoni? Tracking aktivitas pemasaran?

Ya, sejak awal startup anda harus bersiap melakukan hal diatas semua. Eksekusi memang sangat penting, tapi jauh akan lebih baik jika direncanakan sejak awal. Nah, jika produk anda saat ini sudah cukup sukses, maka bisa anda lanjutkan ke skalabilitas. Kita akan bahas di artikel lain tentang cara menjalankan startup tentunya.

 

Startup Saya Belum Berhasil

Kalau produk/layanan yang dibuat startup anda saat ini belum berhasil, maka lakukan analisa dengan poin-poin diatas. Dibagian mana menurut anda masih bermasalah? Kira-kira apa penyebabnya dan apa solusi yang terpikirkan oleh anda dan anggota tim?

startup sebagai hobby

Mau tahu dibagian mana anda bisa menghemat waktu? Fokuskan saja dibagian awal yaitu riset. Lakukan dengan secepat mungkin (dan memang secara teknis bisa dilakukan dalam hitungan hari atau maksimal 1 minggu). Kalau tidak cocok maka ganti ide anda dengan yang lain. Jangan menjadi anak manja dan memaksakan diri untuk bertahan. Ditahap riset awal, gagal menemukan masalah itu biasa. Dan biasanya dilanjutkan dengan sulitnya menemukan model/konsep solusi yang cocok kepada target pelanggan.

Lebih baik anda melakukan riset awal ini berkali-kali. Kalau gagal maka anda sudah menghemat waktu anda karena menghindari waktu pengembangan yang relatif lama dan juga memasarkan produk yang dipaksakan ke pasar.

 

Startup Itu Hanya Awal

Ya, mendirikan dan menjalankan startup itu hanyalah awal dari perjalanan panjang bisnis anda. Jadi jangan terlalu menganggapnya sebagai hal yang rumit, tapi jangan pula meremehkan proses yang bisa anda lakukan untuk mencapai keberhasilan.

Mungkin beberapa startup terus bertahan di tahap ini dengan berbagai alasan. Menurut saya ada 2 kemungkinan: mereka memang sangat persistent bertahan (ini bisa jadi salah satu keunggulan juga hehehe) atau gagal move on sih… Pastikan persentase faktor pertama jauh lebih besar dibanding yang kedua ya.

Untuk naik ke level berikutnya tidak akan lebih mudah jika produk anda tidak memiliki makna bagi penggunanya. Tidak akan mudah pula dipasarkan jika untuk sekelompok target pengguna pun menolak solusi yang anda tawarkan. Apalagi menarik perhatian investor untuk mendanai pengembangan selanjutnya. Jadi, apakah anda sudah melakukan semua tahap yang saya sebut diatas dengan baik dan benar?

Jika startup anda memiliki masalah, silahkan mengirimkan email ke: samuelhenry[at]gmail.com. Saya akan coba menganalisa dan memberikan saran. Yang anda hadapi mungkin juga dihadapi banyak teman-teman startup lainnya. Kenapa kita tidak berbagi bukan?

 

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.