Home / Entrepreneur / Networking & Startup

Networking & Startup

Beberapa kali saya menjumpai kasus di lapangan dimana seorang founder sebuah kurang memaksimalkan jaringan perkenalan yang dimiliki. Hal ini saya anggap sebagai salah satu kelemahan yang sering diremehkan oleh para pelaku startup.

Pada dasarnya startup adalah entitas bisnis. Dan bisnis tetap memiliki fundamental sebagai bentuk transaksi, pertukaran antara produk ataupun jasa dari berbagai pihak. Untuk mencapai kesepakatan itu dibutuhkan sebuah komunikasi dan tidak heran tentu semua diawali dengan adanya relasi.

Produk Saja Tidak Cukup

Memiliki sebuah produk atau layanan saja tidaklah cukup. Itu baru permulaan saja. Ibarat analogi toko, anda masih hanya punya sesuatu untuk dijual. Ya, sebagian ada yang tertarik membeli setelah lewat di toko anda. Apakah anda cukup puas hanya bertransaksi kepada orang yang melintas saja (kebetulan lewat) atau ingin lebih luas? Tentu jawaban logis ingin lebih luas, banyak, ramai, dsb. Untuk itu perlu komunikasi dan relasi bukan? Jadi sangat wajar jika seorang pebisnis dari mulai dia memiliki sebuah ide di kepala seharusnya sudah mulai mengkomunikasikan ide tersebut ke beberapa pihak.

Didalam metodologi lean startup, dikenal istilah idea validation, dimana ide itu divalidasi dengan mendengarkan pendapat dari calon pelanggan bukan diri sendiri. Tahap berikutnya adalah product validation, dimana produk anda kembali diuji kepada pelanggan dan anda sebagai pelaku usaha menangkap masukan dari komunikasi dengan mereka. Selanjutnya jika lolos, anda masuk ke tahap business market fit alias  level lanjutan dengan tingkat komunikasi yang lebih lanjut pula, karena pada tahap BMV ini anda seharusnya sudah memiliki pangsa  pasar yang mulai meluas.

Sudah bisa ditebak dari proses diatas, banyak komunikasi harus dilakukan dan diproses. Tapi bagaimana melakukannya dengan baik adalah persoalan lain. Banyak founder menganggap bahwa komunikasi tidak sepenting membangun produk. Atau dalam bahasa umumnya, membangun produk jauh lebih nyaman dan familiar dibanding jualan “mulut”.

Menurut penelitian, banyak startup yang gagal karena membuat produk yang tidak dibutuhkan pelanggan. Menurut saya kesalahan itu bisa ditelaah dengan baik yaitu: startup sering salah mengartikan produk yang sebenarnya diinginkan atau sebaliknya dibutuhkan pelanggan? Artinya, startup salah menterjemahkan kebutuhan itu dan tidak sulit ditebak juga akibat minimnya keahlian komunikasi. Kalau skill komunikasi minim, maka empati dan adaptasi juga cenderung minim. Ini juga termasuk kesalahan walau masih level bawah. Ada beberapa kesalahan yang lebih fatal.

Tingkat paling parah adalah tidak memahami sama sekali keinginan pelanggan. Tingkat parah kedua adalah salah mengartikan. Sehingga bukan hal yang aneh kalau produk yang dibuat pasti ada kesenjangan dengan yang dibutuhkan pelanggan. Untuk itulah selalu ada proses validasi berulang atau dalam praktiknya selalu diuji cobakan lagi ke pelanggan berkali-kali untuk mendapatkan insight yang lebih akurat.

Kesalahan Lain

Ada kesalahan lain yang juga cukup sering saya temui pada startup. Yaitu kurangnya kemampuan untuk presentasi atau menyajikan produk/layanan yang dimiliki. Ya, memang ada produk startup yang begitu hebat dan bermanfaat sehingga mampu berbicara sendiri dengan promosi minim dari pembuatnya. Tapi kembali ke alasan logis: berapa banyak produk yang seperti itu dan apakah produk anda sudah memiliki ciri-ciri awal sehingga bisa disebut bakal menjadi “the next candidate for star?” Atau itu hanya mimpi anda saja.

business-friendship

Banyak founder lupa bahwa kemampuan penyajian juga tidak kalah penting. Lihatlah bedanya produk Microsoft dan Apple sebagai contoh kasus. Bukankah produk Apple kita akui selain hebat dari sisi teknologi dan fungsi juga tidak kalah jeniusnya dari sisi desain? Mereka tidak cukup mengandalkan kemampuan hardware dan software saja, tapi juga dari sisi branding yang notabene adalah hasil dari satu proses komunikasi yang sangat panjang dan melelahkan dengan kustomer.

Bahkan ada yang mengatakan kalau produk yang bagus tapi dikomunikasikan buruk maka hasil maksimalnya adalah biasa-biasa saja. Jika produk biasa-biasa saja dikomunikasikan dengan baik kepada pelanggan maka hasilnya bisa melebihi produk bagus tapi promosi biasa tadi. Tapi jika produk buruk dipromosikan baik, maka pada akhirnya akan turun juga pamor dan bisnis bisa berhenti jika tidak ada perbaikan. Nah, semua sepakat jika produk buruk sekalipun bisa berpotensi bangkit hanya jika bisa berkomunikasi dengan pelanggan dan melakukan perbaikan.

Yang Perlu Diperhatikan

Tentu anda ingin tahu beberapa tips dan trik mengenai networking bagi pertumbuhan bisnis anda bukan? Saya berikan beberapa yang mudah dan praktis:

  • Berteman dengan banyak orang: Ya, kita bisa memilah pelanggan dan fokus ke segmen tertentu. Tetapi bila menyangkut jaringan pertemanan, maka carilah teman sebanyak mungkin dengan variasi yang meluas. Jangan terfokus ke sekelompok teman yang homogen. Memang enak dari sisi pergaulan, tapi dari sisi bisnis tidak akan memberikan perluasan jaringan yang berarti kepada anda.
  • Perbaiki skill komunikasi: ya, terbalik dengan pendapat kebanyakan orang: komunikasi bisa ditingkatkan. Bila ada yang mengatakan kalau dia adalah komunikator yang buruk, maka itu hanya alasan kemalasan saja. Atau alasan lain adalah orang yang tidak mau ambil resiko. Dibalik kata-kata yang terpatah-patah, orang masih lebih melihat siapa yang bicara, gaya bicara dan bahasa tubuh. Jadi percayakan diri anda pada 3 faktor itu dan latihlah kemampuan berbicara anda di depan publik.
  • Jalan panjang terkadang jadi jalan pintas: banyak orang mengambil jalan pintas demi menghemat hal tertentu. Tapi beberapa kenyataan dalam hidup bisa mengajarkan kepada kita kalau proses itu memang perlu dan banyak yang tidak seharusnya kita hindari. Lebih cepat, praktis tidak selamanya memberikan imbal balik yang maksimal dibanding jika kita menjalani proses dengan cara yang sewajarnya. Pertemanan juga begitu. Tidak ada persahabatan yang instan, jadi carilah sahabat dalam jangka lama. Biasanya mereka itulah yang menjadi pembimbing, pengawas bahkan tidak jarang menjadi penyelamat anda dimasa mendatang.

Jika anda bisa membangun pertemanan dan networking yang luas, maka hal positif akan bermunculan dengan sendirinya. Mentor bisa saja ditemukan di antara teman-teman bisnis. Ide dipoles bersama mitra kerja. Bencana diminimalkan dengan kerjasama antar kompetitor, bahkan keadaan yang buruk bisa diubah menjadi peluang.

Secara praktis, teman atau jaringan bisnis anda bisa menjadi penyelamat di masa-masa sulit. Baik untuk masalah darurat atau mungkin hanya menjadi sekedar teman curhat.

Dan ingat, berteman tidak sama dengan berhitung. Untung rugi bukan menjadi alasan utama bagi seorang founder dalam membuka jaringan pertemanan. Itulah makanya disebut seni hidup bukan kalkulasi hidup. Tidak semua bisa ditebak hasil akhir dari komunikasi yang anda lakukan. Ada yang berhasil, tentu ada pula yang gagal.

 

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.