Home / Entrepreneur / Onani Teknologi

Onani Teknologi

Saya berdiskusi cukup lama dengan seorang CTO dari salah satu media besar nasional di hotel Tentrem Yogyakarta pada hari Selasa tanggal 26 Mei 2015 lalu. Obrolan seputar masalah dunia bisnis dan startup yang ada di Indonesia dan Jogja pada khususnya. Beliau datang khusus untuk berjualan “masalah” dan berkeinginan apakah ada startup di Jogja yang bisa diajak berkolaborasi untuk memberikan solusi.

Sambil menyeruput teh wedang yang hangat, obrolan kami sampai pada masalah perilaku Startup. Kebetulan saya selalu mencoba menggali kebutuhan dunia industri dan kemungkinan kolaborasi dengan startup untuk bootstrap tentunya.

Beliau menarik rokoknya dalam-dalam sebelum menjawab. “Pak Sam…” katanya memulai sambil mengeluarkan asap tebal.

“Saya menemukan bahwa sampai saat ini kebanyakan startup itu masih suka beronani dengan teknologi”

Onani teknologi? Saya tertawa dan menanyakan apa maksud dengan istilah itu?

“Lihatlah kondisi  belakangan ini. Apakah banyak startup yang membuat terobosan untuk masalah yang nyata? Rasanya tidak. Karena kebanyakan dari mereka hanya suka melampiaskan nafsunya untuk melakukan apa yang mereka sukai dan mereka anggap sebagai masalah”.

Hmm.. saya mulai paham maksud pembicaraan dia. Namun saya masih menunggu penjelasan tambahan lagi.

Dia menyambung, “Mereka selalu berpikir bisa menemukan masalah sendiri dan mencari solusinya. Lalu menawarkan kepada dunia dan berharap dunia yang akan mendukung proyek mereka. Padahal di kasus nyata kebanyakan tidak begitu. Contohnya perusahaan saya. Kami sudah mencari ke beberapa kota untuk menemukan startup yang bisa diajak berkolaborasi. Mau bentuk kerjasamanya apa, bisa dibicarakan”.

“Tapi masalah yang kami hadapi adalah masalah riil dan dalam skala atau jumlah user yang besar. Kami punya audiens sampai 50 juta user dan itu tentu jumlah yang menarik bukan buat startup?”

“Ya, itu jumlah yang besar malah… ” jawab saya segera.

“Itulah dia. Seharusnya jumlah itu sudah bisa membuat startup itu berpikir bahwa skalabilitas sudah lebih mudah dicapai karena akses bisa kami berikan. Tapi kenyataanya mereka tidak terlalu semangat. Malah lebih sibuk memamerkan produk dan fitur mereka sendiri. Padahal lebih baik saya kira mereka melihat bahwa masalah kami ini sudah benar-benar masalah yang butuh solusi. Bukan lagi menjadi uji coba seperti produk mereka”.

Sambil mencondongkan tubuhnya ke arah meja untuk meminum teh wedang dia berkata dengan perlahan,” Jadi saya mengatakan bahwa startup sekarang lebih suka onani teknologi dibanding meladeni pasar yang benar-benar nyata. Mereka memuaskan nafsu keinginannya sendiri bukan?” ujarnya sambil meminum teh.

Saya masih mengobrol lama dengan beliau. Sampai hampir tengah malam barulah saya pamit pulang. Selama obrolan, beliau juga memaparkan berbagai masalah yang dijajakan untuk coba saya tawarkan ke beberapa startup.

Beberapa diantara pernyataan beliau memang saya amini juga. Seperti startup lokal memang cenderung manja, setidaknya dengan dirinya sendiri. Tidak mau terbuka dengan saran dan masukan dari para praktisi padahal saran itu sangat bernilai untuk jangka panjang.

Beliau juga menanyakan apakah di JDV diajarkan mengenai agile development, Kanban, scrum, dsb? Saya menjawab ya. Dan beliau juga banyak bercerita tentang keadaan startup di berbagai negara karena beliau juga suka berkunjung ke pusat-pusat pengembangan teknologi luar negeri.

Bisa jadi komentar dan pembicaraan beliau sangat bagus kita jadikan salah satu tolak ukur sebenarnya. Apakah startup anda saat ini lebih berfokus kepada kepuasan pribadi atau memang memberikan solusi nyata kepada target pasar anda? Saya sering mendengar keluhan seperti ini dari beberapa pelaku industri lainnya. Tapi saya akui, istilah “onani teknologi” beliaulah yang membuat saya tergelitik menulis artikel ini.

Bagaimana menurut pendapat anda?

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.