Home / Internet / Penting Mana: Konten atau Kecepatan Internet?
indonesia_culture

Penting Mana: Konten atau Kecepatan Internet?

Saya membaca beberapa artikel dari Kompas Tekno: Kecepatan Internet Indonesia Peringkat 115 Dunia , Di Asia, Kecepatan Internet Indonesia Paling Lambat , Terendah Se-Asia, Seberapa Parah Koneksi Internet di Indonesia? Semuanya asyik membahas mengenai infrastruktur. Bagaimana dengan konten?

Sayangnya sampai sekarang konten masih tetap dinomor duakan oleh semua pihak, baik user maupun provider internet itu sendiri. Dalam hal ini para developer masuk kedalam kategori provider sebagai penyedia jasa layanan dalam bentuk konten. Walaupun pertumbuhan jumlah pengguna internet melonjak terus dan kini sudah melebihi 60 juta user, namun konten lokal masih sangat terbatas dalam artian persentasenya sangat jauh dibanding konten luar. Kok bisa begitu?

Mengapa konten lokal sedikit? Kebanyakan pengguna internet Indonesia bukan pengguna internet yang “dewasa” atau “matang”. Bahkan bisa dikatakan pengguna internet Indonesia walaupun sudah melebihi 60 juta masih masuk kategori user ABG. Jumlah 60 juta itu diperoleh dengan melihat penggunaan atau alat akses yang ada yaitu: mobile gadget. Kalau berbicara mengenai penggunaan alat akses seperti PC (dari kantor, rumah, warnet, dsb) maka jumlah ini akan melorot tajam. Lalu ada apa dengan gadget seperti smartphone dan yang sejenis. Bisa kita duga bahwa penggunanya tidak akan banyak membuat konten dan lebih sebagai penikmat konten saja.

Secara sederhana, dari 60 juta itu, kebanyakan adalah pengguna kelas ringan yang menggunakan internet untuk tujuan “konsumsi” mulai dari mengakses berita, video, chatting, dsb. Tidak ada yang salah dengan itu, kita juga menjadi pengguna layanan sejenis. Yang ingin saya katakan adalah, sampai saat ini, tipikal pengguna internet Indonesia hanya menjadi follower dan consumer saja. Apa yang sedang ramai dan menjadi trend di internet akan segera dikonsumsi dan diduplikasi tanpa adanya perkembangan berarti.

Dalam jangka pendek tidak ada yang salah dengan itu. Semakin banyak pengguna internet akan membuat penduduk semakin melek dengan teknologi, dimana hasil sampingnya adalah semakin cerdasnya bangsa kita. Tapi kekhawatiran akan hal lain juga muncul dengan semakin terimbasnya budaya asing kedalam perkembangan budaya lokal. Kita tidak usah menganggap bahwa budaya asing itu semua buruk, atau kita tidak apriori dengan budaya luar karena banyak budaya yang baik dan pantas untuk ditiru. Tapi sampai saat ini, trend penggunaan internet semakin meninabobokkan para user menjadi consumer saja tanpa pernah dididik menjadi produser.

Suka atau tidak, internet bisa bersifat candu, dimana kita mudah terperangkap menjadi penikmat dibanding penyedia. Tingkat kecerdasan para pengguna internet Indonesia sebenarnya tidak kalah dibanding dengan pengguna luar, namun kalau kita tilik dari analisa kebudayaan maka akan tampak perbedaan yang cukup signifikan. Antara lain:

  • Budaya Menulis: Kita kalah disisi ini. Budaya lisan kita masih lebih kuat dibanding budaya tulis. Sederhana saja buktinya, lihat acara televisi yang sampai saat ini masih bercokol di berbagai acara talkshow. Bahkan talkshownya pun masih bisa dikatakan bersifat “gossip style” dibanding dengan yang bermakna dan mencerahkan.
  • Budaya Sosial: Kita malah sangat kuat disisi ini. Lihat saja Facebook dan Twitter, kita masuk 5 besar secara global. Artinya? Kita terbiasa menggunakan internet untuk berhubungan dengan kerabat, teman, dsb dibanding menggunakannya sebagai media promosi diri melalui konten yang kita buat. Bedakan dengan pengguna yang membuka toko atau layanan jasa lainnya. Itu lebih kepada produk fisik/jasa profesional. Yang kita inginkan adalah konten ide/pemikiran/analisa dan pemikiran kreatif lainnya.
  • Budaya Kritis: Maaf, untuk budaya ini kita masih jauh dari kondisi ideal. Hingga saat ini kita masih masuk kedalam kategori budaya caci-maki. Tidak pernah menawarkan solusi. Kalaupun ada yang berani berbicara dengan level lebih serius, segera akan mendapatkan cemoohan dari user lain. Etika dan kesopanan tidak mendapatkan porsi yang cukup dikalangan netters Indonesia. Apakah karena banyak penggunanya adalah ABG? Atau generasi muda yang sudah terkontaminasi dengan budaya luar? Wallahualam… Anda sendiri yang menyimpulkan.

Saya bukan ahli budaya, tapi analisa saya diatas saya kira akan mudah diamini oleh semua orang. Siapapun yang serius melihat perkembangan internet sejak awal tahun 2000-an akan memberikan respon yang tidak jauh berbeda. Jadi, tidak heran kenapa sekarang banyak sekali penyalahgunaan internet dan akibat negatifnya bisa sangat fatal seperti yang kita baca di berbagai media online maupun media offline.

Kalau kita meniru budaya caci-maki diatas, maka kita bisa menyalahkan banyak pihak atas pengaruh negatif internet. Mulai dari orang tua, pendidik, pemerintah, provider internet, sampai si user itu sendiri. Masalahnya, internet seperti pedang bermata dua. Bagi yang paham kekuatannya akan menggunakannya dengan maksud yang baik dan menghindari sisi negatifnya. Tapi bagi yang “belum tahu” secara mendalam akan kekuatannya maka cenderung akan terpengaruh dan mudah terimbas dengan hal negatif.

Bagaimana mengatasinya? Salah satunya adalah dengan menyediakan banyak konten lokal. Dan membuat konten lokal bukan tugas pemerintah. Maaf saja, infrastruktur internet kita saja sampai sekarang masih lemot. Bagaimana kita mengharapkan mereka bisa mengurus konten lokal? Hehehe….

Begini saja, kita mulai dari diri kita sendiri. Kalau anda membaca artikel ini maka anda sudah pasti memiliki perhatian dengan masalah konten lokal. Setuju atau tidak dengan pendapat saya, bisa saya pastikan anda pasti melihat perlunya konten lokal diperbanyak.

Jadi, bagaimana memperbanyak konten lokal? Saya memulainya dulu dengan membuat blog dan memberikan semua ide dan produk saya secara online disana. Saya ceritakan semua bagaimana ide itu datang, proses pematangannya sampai akhirnya ide itu terealisasi. Sayangnya blog itu sempat hilang karena masalah di hosting server dan saya juga kehilangan backupnya. Blog saya bermula sejak tahun 2005-2012. Lalu di tahun 2013 ini saya buat website baru dengan berbagai model konten. Ada yang berbentuk artikel, ada video, juga bentuk slide dari power point, dsb.

Saat ini sedang trend videoblog sebagai salah satu bentuk konten yang disukai user. Mudah diunggah ke Youtube dan dibagikan via FB, Twitter dan berbagai media sosial lainnya. Jadi kalau anda punya “sesuatu” seperti ilmu, pengalaman, teori baru, analisa pribadi untuk berbagai topik? Kenapa tidak anda bagikan kepada pengguna internet Indonesia?

Tools sudah banyak tersedia, bahkan gratis. Anda bisa membuatnya dengan mudah tanpa biaya mahal. Mungkin memulainya dengan artikel? Atau anda menggunakan handphone anda untuk merekam anda berbicara tentang topik yang anda kuasai? Bagikan tips dan trik dari pengalaman anda dengan ebook atau webinar? Anda bisa memilih sendiri….

Budaya Pede dan Budaya Berbagi sudah waktunya kita tumbuhkan agar kita berani membuat berbagai konten lokal. Anda setuju?

Lepas dari infrastruktur yang masih lemot, saya kira jauh lebih baik jika kita – para pengguna internet lokal – sebaiknya lebih memfokuskan untuk belajar memperbanyak konten lokal yang dimulai dari diri sendiri. Jangan terlalu mengharapkan orang lain. Lebih baik kita memegang kendali sendiri daripada hanya sekedar berharap bukan?

Featured Image by Widjana

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.