Home / Entrepreneur / Seberapa Penting Mentalitas CEO?
ceo

Seberapa Penting Mentalitas CEO?

Saya menerima dua kunjungan co-founder startup di sela waktu luang saya. Dan keduanya entah kebetulan atau tidak membahas hal yang sama yaitu perilaku CEO dari startupnya.

Sebenarnya saya sudah memahami bahwa ada perbedaan posisi sebagai founder dan CEO. Namun kebanyakan para founder startup terkadang menyamakan kedua posisi itu secara otomatis. Artinya jika seseorang adalah founder startup maka otomatis dia harus menjadi CEO juga. Kebiasaan memang demikian adanya namun bukan berarti keharusan. Itu yang sebenarnya perlu disadari oleh seorang founder dan juga co-founder yang lain.

Apa perbedaan seorang founder dengan CEO? Mengapa saya mengatakan bisa berbeda? Seorang founder adalah inisiator awal dari sebuah startup. Dia memulai dari sejak ide sampai sebuah produk dikembangkan. Pada tahap ini, jika sudah merasa pantas. bisa dikatakan seorang founder merangkap sebagai CEO atau Chief Executive Officer. Intinya dia adalah penanggung jawab penuh dari operasional dan eksekusi perusahaan tersebut.

Seorang CEO bertanggung jawab dalam kegiatan harian dari sebuah startup. Tugas ini mempunyai batasan dan ketentuan yang ketat juga sesuai visi dan misi dari startup yang ditentukan oleh para founder dan co-founder. Jika seorang CEO berasal dari founder maka sebenarnya otomatis dia sudah mengetahui dan memahami semua yang dibutuhkan oleh sebuah startup untuk beraktifitas. Setidaknya dari sisi operasional.

Namun kapan seorang CEO yang berasal dari posisi founder sebelumnya harus turun tahta atau bergeser? Tidak mudah menjawab hal ini karena posisi ini sebenarnya lebih menitik beratkan ego dari CEO atau founder tersebut. Bagaimana tidak, seorang yang bertindak sebagai boss harus mau lengser dan menyerahkan tanggung jawabnya kepada orang lain. Tapi kenyataan dilapangan banyak founder yang tidak cocok jadi seorang CEO.

Hal apa saja sebagai contoh dimana seorang founder kurang layak sebagai CEO? Ini dia beberapa hal yang krusial:

  • Ragu membuat keputusan penting bagi kepentingan semua tim
  • Lebih asyik mengurusi satu bidang kesukaannya dan cenderung mengabaikan hal lain yang krusial
  • Tidak mau mengevaluasi progress secara berkala dan mengambil sikap antisipasi
  • Tidak terbuka terhadap masukan dan kritik, terutama dari co-founder lainnya
  • Tidak menguasai bahkan tidak mau belajar skill  menjadi pemimpin
  • Minim skill manajerial

Satu atau kombinasi dari beberapa faktor diatas akan membuat seorang CEO menjadi tidak efektif sesuai yang diharapkan. Bisa saja ditahap awal seorang founder masih memiliki keleluasaan karena startupnya memang baru di fase awal. Namun sejalan dengan waktu dan kompleksitas bisnis yang dijalankan, seorang CEO juga dituntut skill yang mumpuni.

Artinya seorang founder harus mau belajar skill baru untuk meningkatkan kemampuan sebagai CEO. Dan seorang CEO bukanlah transformasi dari seorang founder. Tapi seorang CEO adalah transformasi dari seorang spesialis menjadi seorang generalis. Yang mampu mengatur garis besar dan operasional dari waktu ke waktu.

Kedua co-founder yang mengadu kepada saya menyatakan persetujuannya terhadap pendapat saya diatas. Mereka memberikan penjelasan mengapa kondisi tersebut tergambarkan dari kedua founder masing-masing startup. Saya tidak dapat memberikan saran lain kecuali menyatakan untuk melakukan perubahan di startup masing-masing dengan jalan melakukan komunikasi dalam bentuk diskusi.

Seorang founder harus berani membuat perubahan penting dan sebagai CEO harus berani meletakkan jabatannya jika melihat co-founder lain lebih mampu dan bisa berperan. Dalam arti kata, pembagian saham tidak ada perubahan namun operasional startup lebih terjamin kedepannya.

Memangf tidak mudah bagi seorang pemimpin muda untuk membuang egonya. Tapi itu pula sebuah kualitas dari seorang pemimpin: Mau berkorban demi kepentingan tim.

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.