Home / Entrepreneur / Startup Lokal: Latah atau Serius?

Startup Lokal: Latah atau Serius?

Saya tergelitik untuk menulis artikel ini setelah membaca artikel blog dari mas Adam Ardisasmita yang berjudul “Dua Kehilangan Besar Bagi Startup Indonesia”. Suka atau tidak memang dukungan eksternal bisa membuat ekosistem startup lokal lebih dinamis. Menyedihkan juga melihat dukungan itu hilang atau setidaknya tidak seperti dulu lagi. Tapi itulah siklus hidup atau siklus bisnis, pasti ada perubahan secara berkala.

Perubahan akan selalu menjadi teman setia startup yang mau bergerak serius. Sayangnya saya masih melihat banyak startup yang kurang serius alias latah. Sejak beberapa tahun lalu ketika startup mulai populer, tiba-tiba mendirikan dan menjalankan startup menjadi salah satu hobby populer di anak-anak IT. Mendirikan startup menjadi “lifestyle”, sialnya kebanyakan betul-betul menjadikannya hanya sebagai gaya hidup semata.

Apakah salah? Saya ragu menjawabnya. Tapi kalau anda hanya menjadi konsumen dari sebuah kebiasaan/habit maka apa yang anda akan dapatkan dari itu? Dalam hal mendirikan startup ya hanya sekedar portofolio yang akan menghiasi CurriculumVitae ketika lulus jadi sarjana dan bisa sedikit pamer kepada pewawancara ketika sedang interview saja. Selain itu?  Ya, tidak ada lagi saya kira karena mertua jaman sekarang juga belum familiar sekali dengan istilah startup.

Sinisme Mimpi
Saya tidak bermaksud sinis dengan keterangan saya sebelumnya.  Tapi berdasarkan pengamatan saya selama ini, banyak sekali startup yang masih “bermimpi” dan bukan “mengeksekusi” alias bangun dari tidur/mimpinya. Saya akan jelaskan apa yang saya maksud dengan bermimpi. Anda sudah punya beberapa teman yang sepakat untuk membuat satu produk dan yakin akan produk anda tersebut bisa sukses. Itu yang saya sebut mulai bermimpi. Lalu anda sesegera mungkin membuat produk/layanan tadi. Itu juga  masih saya sebut bermimpi. Kemudian, anda mulai menjual dan terus bertahan dengan melakukan berbagai perbaikan untuk produk anda. Itu juga masih saya sebut dalam mimpi.

Lalu sampai dimana anda bermimpi? Ya sampai anda dan tim anda merasa lelah dan akhirnya menyerah karena produk anda gagal laku. Itu baru saya sebut bangun dari mimpi. Sebenarnya disinilah saya yakin bahwa anda mulai belajar. Kalau anda lanjutkan saya yakin anda baru masuk ke tahap eksekusi yang sebenarnya. Sialnya  saya banyak menemukan kondisi di lapangan dimana founder sering sekali menolak untuk bangun dan terus bermimpi dengan visi dan misi yang mengambang. Kegagalan dianggap sebagai sesuatu yang dihindari. Sebagian ada yang menerima tapi secepat mungkin move on ke hal lain dan kembali bermimpi lagi.

 

Latah Itu Viral
Jadi pengekor itu mudah kok. Cukup bermodal kartu nama 25ribu sekotak dengan jabatan CEO, CFO, Co-founder, atau apalah. Kemudian lanjutkan dengan kalimat “Fitur tambahan sedang kami kerjakan, semoga bulan depan demonya sudah selesai….”.

Selanjutnya cari lomba, event atau program bantuan dari berbagai sumber yang bisa mendanai kegiatan anda. Kalau menang ya syukur, kalau kalah ya setidaknya sudah ada beberapa foto selfie buat dipost di timeline sosmed.

Tidak lama akan banyak komen, like, dukungan semu dari berbagai sumber. Dinikmati saja selagi bisa, toh tahun depan bisa diulang lagi dengan tim yang berbeda, produk yang lain, lomba atau event dari lembaga baru. Anda bisa melakukan 2-3 kali model seperti ini semasa kuliah akan bagus di CV anda nantinya bukan? Di mata pewawancara, anda akan tampak sebagai individu yang aktif, dinamis, berani mencoba hal baru, dsb… dsb…

Apakah siklus diatas salah? Tidak baik?

Jawaban saya: Tidak ada yang salah. Toh CV yang baik memang harus dipoles, dan trik diatas cocok untuk anda lakukan dengan rencana kerja yang baik. Jadi 3-4 semester sebelum tamat bisa anda program untuk mempercantik portofolio anda.

Tapi kalau anda memang serius di dunia startup maka cara diatas seharusnya tidak anda lakukan. Kalau ada dari anda yang melakukannya maka hentikanlah karena itu hanya merugikan diri anda dan tim anda kedepannya.

 

Berjalan Lebih Lelah daripada Berdiri
Setelah anda mendirikan startup maka menjalankannya dengan baik dan benar sangat melelahkan sebenarnya. Selain komitmen dan keseriusan anda, banyak hal yang anda harus pertimbangkan, pelajari dan lakukan.

Gambar dibawah ini bisa menggambarkan beberapa tahap yang anda harus lalui ketika menjalankan startup. Sekedar melihat gambar bisa gampang. Tapi bila anda perhatikan teks yang dibold dan coba anda renungkan sejenak apakah anda sudah mengerti artinya, sudah anda rencanakan item tersebut, sudah anda eksekusi, sudah anda evaluasi, sudah anda perbaiki? Maka saya yakin tidak segampang melihat di awal bukan?

how to start a startup

 

Dari contoh tahap perjalanan startup digambar tersebut, anda lihat batasan waktu? Kenapa tidak ada? Coba anda cari jawabannya dan tuliskan di kolom komentar dibawah ini. Saya tertarik mendengar pendapat anda.

Oh ya, bagaimana pula dengan kondisi dari startup anda saat ini? Sudah sampai tahap apa dan bisakah anda share sedikit pengalaman dan pembelajaran yang anda dapatkan? Atau startup anda masih bermimpi ada perusahaan / lembaga pemerintah yang harus mengompori startup anda agar berjalan?

NB:
Saya tertarik melihat kondisi startup saat ini dimana ada lebih 600-an proposal ide/produk/bisnis masuk ke Indigo Incubator 2015.  Muncul keinginan saya untuk membandingkan dampak kehilangan 2 entiti pendukung startup yang disebut mas Adam dengan kondisi terkini dimana selain Indigo Incubator, DDB Accelerator dan kini yang terbaru The NextDev dari Telkomsel.

 

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.