Home / Startup / Startup Talent War @Jogja

Startup Talent War @Jogja

Di tahun 2009, ketika saya baru menjejakkan kaki di kota Yogyakarta, ekosistem startup masih prematur dan baru. Bahkan bisa dikatakan belum berkembang signifikan. Yang berkembang adalah komunitas penggiat IT lokal atau kampus. Kini keadaan sudah jauh berbeda. Artikel ini akan memberikan ulasan terkini mengenai kondisi industri startup khususnya di kota Yogayakarta.

Ulasan ini tidak akan bisa saya tulis tanpa masukan dan diskusi antar mentor Jogja Digital Valley yaitu Mas Adit – @aditforever dan Mas Putro – @pranowoputro via WA beberapa hari lalu.

Awal Pertumbuhan

Pertumbuhan industri startup lokal Yogayakarta mulai menggeliat signifikan sejak tahun 2010-2011 lalu. Terjadi pergeseran ketika tim kecil yang selama ini eksis di komunitas lokal (saat itu dimotori oleh JogjaIT dimana saya dan mas Adit menjadi anggota penggerak) mulai berani eksis dan membuat startup sendiri.

Saat itu masih biasa setiap startup bergerak sendiri dan tidak terpadu dalam satu lokasi. Startup hanya muncul ketika ada event baik komunitas maupun eksebisi dari beberapa acara dinas pemerintah daerah DIY. Namun ketika Jogja Digital Valley muncul dan diresmikan pada tanggal 21 Agustus 2013 lalu, perubahan pasti perlahan terjadi. Sejak itu, selain penggiat IT kampus dan freelance, startup lokal Jogja kini punya episentrum baru.

jogja-digital-valley-pics

Walau dibesut oleh Telkom via program Indigo Incubator, JDV menjadi titik sentral bagi industri startup Yogyakarta dan terbuka untuk semua kalangan. Berbagai event diadakan disana, mulai dari program resmi Telkom sendiri sampai acara komunitas kecil. Bisa dikatakan adanya JDV membuat networking startup lokal lebih mudah dan gampang diakses semua pihak.

Era 2015

Kini keadaan sudah banyak berubah. Selain munculnya beberapa inkubator teknologi lain seperti I2TY yang dibesut oleh Kemenkominfo yang bekerjasama dengan STMIK AMIKOM Yogyakarta, muncul juga beberapa pusat startup lainnya. Beberapa diantaranya ada di kampus lokal seperti UGM. Ada juga yang mengambil langkah berbeda yaitu membuka kantor cabang di Yogyakarta langsung untuk mempermudah perekrutan di ranah lokal DIY.

Banyaknya kampus menjadi pilihan utama mereka karena kini kebutuhan untuk tenaga sumber daya sudah bisa dikatakan bersaing.

Pada era 2010, ketika saya menjadi konsultan teknis pendirian Gameloft Indonesia di DIY, masih cukup mudah mencari tenaga kerja karena supply-nya banyak. Pihak Gameloft hanya memfokuskan diri kepada talent yang  berkualitas. Dan ternyata cara itu berhasil, tidak sampai 3 tahun jumlah SDM yang direkrut sudah melebihi 500 orang.

Namun supply ini ternyata juga memasok SDM ke industri lain yaitu industri startup. Sejalan dengan perkembangan industri startup global yang semakin marak, maka semakin banyak pula VC dan perusahaan startup kelas dunia yang membuka cabang di Indonesia. Dan tentunya mereka membutuhkan SDM bukan?

Baik mas Adit maupun mas Putro mengamini kalau ekosistem startup lokal Yogyakarta sudah terbentuk dan mulai menampakkan geliat yang lumayan besar dibanding tahun lalu atau bila dibandingkan dengan kota lain seperti Bandung misalnya. Kini sudah banyak startup mencari talent dengan salary yang cukup menggiurkan. Kalau startup lokal Yogya sudah berani mulai dari 4 juta per bulan sebagai salary entry level. Sementara startup nasional/punya funding besar bahkan mulai dari 6 juta rupiah per bulan. Contoh kasus adalah Go-Jek yang sudah membuka kantor cabang di Yogyakarta.

Artinya, kini para pelaku startup sudah mempunya kelas tersendiri dan tidak semuanya lagi mengandalkan kekuatan kantong sendiri alias self funding seperti biasa terjadi di era tahun 2011 lalu. Banyaknya program inkubasi dan pendanaan serta lomba yang diadakan berbagai lembaga sebagai bukti mengapa masalah funding bukan lagi menjadi masalah utama saat ini.

Partisipasi Kampus & Pemerintah Daerah

Suka atau tidak kampus harus adaptif dengan perubahan ini. Menurut mas Adit pihak kampus harus mau mengakomodasi kebutuhan ini jika ingin mengakselerasi pertumbuhan industri lokal DIY khususnya industri startup. Saat ini kebanyakan kampus masih berorientasi membangun SDM IT dengan konsep proyek dan bukan startup. Padahal kedua konsep itu berbeda. Bila proyek berorientasi produk pesanan, maka produk dari startup adalah berdasarkan kebutuhan dan solusi.

Beberapa kampus memang sudah mengantisipasi dengan cepat. Contohnya UGM dan STMIK Amikom yang sudah menjadi langganan berbagai kompetisi startup dan program inkubasi baik nasional maupun lokal. Namun sebenarnya kemampuan kampus masih bisa ditingkatkan dan diperluas dengan menyiapkan SDM untuk menjadi karyawan di industri startup sebagai target spesifik.

Walau tidak secara langsung berinteraksi dengan industri kreatif dalam hal ini industri startup, saya melihat peran penting dari pemda sebagai wakil dari pemerintah. Jika pemda menaruh perhatian dan mau duduk bersama dengan dunia akademik dan bisnis (dalam hal ini adalah para pelaku startup dan Ventura Capital) maka sinergi diantaranya akan mempermudah pertumbuhan startup secara signifikan. Contoh kasus adalah inisiatif Sultan Hamengku Buwono X yang mengajak Telkom membuka pusat kreatif berbasis teknologi di Yogyakarta. Pihak Telkom tentu sudah menganalisa sebelumnya kalau di Yogyakarta banyak kampus berdiri sehingga menjamin ketersediaan tenaga SDM untuk startup maupun industri berbasis IT.

Pola sejenis juga sudah diimplementasikan di kota lain seperti Malang. Solo, Makassar, dsb. Dalam hal ini saya mewakili mentor dari Indigo Incubator bisa mengatakan bahwa Telkom sudah membuka banyak cabang DiLo (Digital Lounge) diberbagai kota di Indonesia selain pusat inkubasi BDV Bandung, JDV Jogja dan JakDV Jakarta. Saya melihat bahwa akselerasi ini tidak akan melambat sampai 5 tahun kedepan karena ekosistem startup di Indonesia sedang berkibar dengan baik.

Realita di Lapangan

Mengapa terjadi talent war di lokal Yogyakarta? Sebagai kota kreatif, persepsi bahwa kota Yogyakarta adalah tempat yang nyaman dan kondusif bagi berdirinya kantor startup memang tidak terbendung. Kini kota Yogyakarta sudah dikenal bahkan sampai tingkat global. Jika pada tahun 2010 saya masih sendirian membantu berdirinya Gameloft sebagai entiti bisnis dari global, kini sudah puluhan orang yang bertindak seperti saya baik untuk ventura capital global dan lokal. Juga untuk perusahaan startup besar yang membuka cabang di kota gudeg ini. Contoh kasus seperti Go-Jek caban Yogya. Hanya dalam waktu 5 tahun percepatan itu sangat terasa. Bagaimana pula 5 tahun kedepan?

Salah satu bukti bahwa Yogyakarta sudah dilirik oleh pasar global bisa saya ambil dari diajaknya kolega saya mas Putro mewakili startupnya Kulina ke acara tahunan Web Summit 2015 di Dublin sebagai Alpha Startup. Jika anda mau tahu, Kulina ini bahkan belum muncul di pertengahan tahun 2015 lalu. Hanya dalam beberapa bulan sudah mendapatkan undangan ke level global seperti itu merupakan satu tanda nyata kalau industri startup lokal Yogya sedang bergerak mantap.

Tentu kondisi ini diketahui banyak pihak. Dan untuk menemukan talent yang tepat tidaklah mudah karena sekarang mereka berebut mencari talent yang berkualitas mumpuni. Dan wajar saja kalau muncul pasar salary yang berjenjang untuk beberapa kelas startup. Seperti yang saya sebutkan dengan entry level dimulai dari 4 juta maka menjadi karyawan sebuah startup tidak lagi pilihan yang buruk. Mendirikan startup sudah menjadi alternatif yang baik kalau anda tidak ingin masuk menjadi karyawan dan jika startup anda sukses mendapatkan funding maka memilih karyawan pun sudah tidak menjadi masalah karena di kota Yogyakarta sudah tersedia banyak talent yang berkualitas.

Tapi, kondisi ini bukan berarti tidak memiliki masalah. Menurut mas Putro, karena startup yang dibackup funding besar tidak memikiki tim HR yang berasal dari orang lokal Yogyakarta sehingga memiliki masalah untuk masuk ke kampus-kampus lokal, pilihan untuk membajak talent berkualitas sudah menjadi pilihan logis.

Jadi kondisi terkini adalah, para pelaku entry level bekerja di startup pemula dan  membuat produk. Dalam kurun waktu 1-2 tahun mereka berpindah dari satu startup ke startup lainnya. Dan pada akhirnya, ketika portofolio mereka sudah bagus, mereka pindah ke startup berfunding besar, tentu dengan permintaan gaji yang besar juga.

Burukkah kondisi itu kepada ekosistem secara keseluruhan.

Menurut mas Adit kondisi itu tidak akan berdampak buruk. Malah akan membentuk kelas-kelas tersendiri. Karena selain startup lokal dan startup funding besar, ada juga jenis startup lain yang unik yaitu startup asli khas Jogjakarta alias software house. Jenis ini sudah dikenal jauh lebih lama bahkan sebelum industri startup marak di tanah air. Anda mungkin pernah mendengar jargon: Buat aplikasi gampang sama anak Jogja. Harganya murah tapi berkualitas.

Yang membahagiakan saya dan teman-teman mentor lainnya adalah perubahan yang terjadi saat ini sangat positif. Tidak ada perlambatan yang mengganggu pertumbuhan startup di lokal Yogya. Malah perebutan talent semakin terasa dan marak disana-sini. Sama seperti nature dari dunia startup yaitu kompetisi dan survival, maka sudah sewajarnya kompetisi menjadi teman para pelaku di industri startup tersebut. Tidak perlu dicemaskan berlebihan.

 

Note: Tulisan ini saya salin dari artikel saya di Kompasiana.com

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.