Home / Entrepreneur / Startup vs Perusahaan Besar

Startup vs Perusahaan Besar

Saya menerima email dari salah satu founder startup menyatakan problem yang dihadapi beberapa waktu yang lalu. Kutipan dari emailnya yang akan menjadi pembahasan disini: “…masalahnya apakah perusahaan-perusahaan besar macam PLN, Telkom, Polisi dan lain-lain mau bekerja sama dan memakai produk kita sedang kita bahkan belum besar sama sekali”.

Startup vs Perusahaan Besar, sebuah topik menarik bukan? Waduhh… tidak mudah berkompetisi dengan mereka! Saya kira banyak pelaku startup yang juga berpikir demikian. Memang benar dalam banyak hal startup tidak mampu melakukan apa yang dengan mudah dilakukan oleh perusahaan besar. Masalah modal yang sedikit, resources yang terbatas, nama brand/produk yang belum dikenal adalah bebeberapa masalah yang pasti terpikirkan langsung bukan?

Mark-Cuban-QuoteSekilas kalau kita memikirkan pemikiran seperti ini maka posisi startup sangat tidak berimbang bukan? Peluang anda baru ada kalau produk startup anda sangat laris dan disukai oleh pasar. Jika pasar tidak membutuhkannya atau produk anda tidak memiliki keunikan dan keunggulan dibanding milik kompetitor maka tinggal menunggu waktu saja untuk startup anda lenyap.

Sekarang anda jadi semakin pesimis?

Hehehe… itu sebenarnya hanyalah masalah mindset saja. Anda perlu mengubah pola pikir atau setidaknya membuka wawasan baru tentang masalah tersebut. Selalu mencari sisi optimis dan tidak mudah menyerah maka anda bisa melihat memang ada beberapa hal yang bisa menjadi keunggulan startup. Alih-alih fokus kepada kelemahan, mending perhatikan dan manfaatkan berbagai keunggulan tersebut. Apa saja keunggulannya? Ini dia:

Tim Kecil Yang Solid

Jumlah tim yang kecil membuat beberapa keuntungan seperti ikatan antar anggota yang lebih kuat dan akrab. Empati yang cenderung lebih mudah dan interaksi sosial yang bagus dalam kelompok internal. Bukankah sering tim meluangkan waktunya bersama-sama ketika kerja, menghadiri event dan juga hangout? Menurut anda perusahaan besar bisa seperti itu? Bisa jadi ya, tapi levelnya jauh berbeda dengan startup. Ikatan internal yang kuat secara emosional membuat startup lebih lincah dalam operasional. Manfaat terbesar dari ikatan itu adalah produktivitas. Individu terbukti lebih produktif bila merasa menjadi bagian penting dari sebuah kelompok.

Birokrasi Yang Minim

Satu hal yang sangat berbeda dengan perusahaan adalah masalah birokrasi. Ya, startup juga punya aturan dan ketentuan tapi bila dibandingkan dengan perusahaan besar maka akan jauh berbeda, lebih sedikit dan praktis. Perusahaan besar cenderung membuat birokrasi yang rumit dan akibatnya memperlambat proses operasional/kerja. Aturan seperti: harus mengikuti kebijakan formal, ketentuan dokumentasi dan konsolidasi staff dalam jumlah yang besar, kebijakan harus melalui persetujuan manajemen dan direksi, hal-hal inilah penyebab kelambanan tersebut. Dampaknya yang paling mudah dilihat adalah efisiensi birokrasi yang lebih lamban dibanding dengan startup.

Lebih Lincah dan Gesit

Dari dua faktor diatas, wajar saja kalau startup menjadi entiti bisnis yang lebih lincah dan gesit dibanding perusahaan besar bukan? Manfaatkan keunggulan ini dengan baik. Masalah lain dari perusahaan besar adalah kelambanan yang diakibatkan model bisnis yang ketat dan harus mengikuti prosedur. Bila ada perubahan maka membutuhkan waktu yang tidak cepat karena harus ada persetujuan dari manajemen misalnya. Sementara startup? Perubahan bisa direspon dengan cepat dan tidak khawatir dengan masalah birokrasi, manajemen, dan hal lain yang ruwet. Seharusnya startup bisa merespon berbagai masalah dengan lebih cepat. Selain menghemat waktu, dampak lain juga akan terkena seperti biaya dan hal ini sangat membantu startup yang tidak memiliki modal besar bukan?

Harga Lebih Bersaing

Walaupun perusahaan besar bisa memberikan harga lebih bersaing ketika berkompetisi dengan perusahaan besar lainnya bukan berarti startup kalah di dalam hal harga. Selain perbedaan jumlah resources yang dimanfaatkan, jumlah staff yang bekerja, faktor biaya overhead (biaya tidak tetap) jadi keunggulan dari startup. Jumlah tim startup yang kecil, peralatan yang seadanya (bahkan minim dibanding perusahaan besar tapi bisa membuat produk sejenis) dan fleksibilitas mengatur overhead membuat startup bisa bersaing dalam masalah harga. Seperti yang dibahas diatas, startup lebih mudah bernegosiasi dengan klien dibanding perusahaan besar yang lebih lamban merespon permintaan yang ada.

Lebih Fokus

Startup hanya memiliki satu produk unggulan yang menjadi fokus utama di awal operasionalnya. Sementara perusahaan besar cenderung banyak dan selalu menambah produk lainnya seiring dengan waktu. Dalam kondisi seperti ini, startup bisa berkompetisi karena fokus yang terarah sementara perusahaan besar cenderung menyebar perhatiannya ke berbagai produk yang dimiliki. Jumlah tim yang kecil tidak menjadi kelemahan bila bisa dimanfaatkan dengan baik dalam mendevelop sebuah produk yang unggul.

 

david-vs-goliathDengan ke-lima faktor diatas maka posisi startup anda kini tidak terlalu buruk bukan? Ibarat kisah Daud dan Goliath, faktor keunggulan diatas harus bisa anda manfaatkan sebaik mungkin. Sekilas memang tidak meyakinkan bila dibandingkan dari besarnya resouces dan pengaruh perusahaan besar dengan produknya yang sudah dikenal publik terlebih dahulu. Tapi dunia bisnis selalu mencari yang lebih baik, lebih bernilai dan unik serta tentu lebih murah. Kalau produk anda bisa memenuhinya maka pertandingan bisa lebih fair untuk anda ikuti.

Pada akhirnya pembahasan ini akan berujung kepada satu pertanyaan: Dengan semua faktor keunggulan yang dimiliki startup dibanding perusahaan besar, apakah anda kini memandang isi gelas itu setengah kosong atau setengah berisi? Atau anda berniat mengisinya sampai penuh?

 

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.