Home / Entrepreneur / StartupTalk 1: Uber & Gojek

StartupTalk 1: Uber & Gojek

Tentu anda setidaknya sudah mendengar mengenai masalah Uber & Gojek di Indonesia dalam hal perizinan dan kemudian diikuti dengan permasalahan Gojek dengan pengojek lokal . Sudah banyak pandangan dan komentar dari pengamat IT dan lainnya. Disini saya mencoba memberikan perspektif berbeda atau setidaknya narasumber berbeda yaitu dari kalangan pelaku startup itu sendiri.

Startup Memandang Uber & Gojek

Kenapa dari kalangan startup? Saya menginginkan bagaimana mereka memandang masalah ini? Apakah ada sesuatu yang bisa diambil pelajaran dari kedua masalah diatas tersebut terhadap kegiatan mereka yang notabene sama yaitu dari sisi sebagai developer. Bukan tidak mungkin bakal ada lagi aplikasi yang bisa menjadi disruptive innovation seperti Uber atau Gojek di Indonesia bukan?

sagaSekedar informasi, sampai saat ini sudah banyak negara yang menolak keberadaan Uber. Tapi ada juga  beberapa yang menerimanya. Artikel ini khusus mencoba melihat dari kacamata startup, yang dalam kesempatan ini saya berbincang dengan Mas Saga Iqranegara. Selain sebagai pelaku Startup, mas Saga juga memegang posisi sebagai manajer operasional dari Jogja Digital Valley (JDV). Sengaja saya memilih mas Saga dengan dasar bahwa sudut pandangnya mampu menjadi perwakilan suara dari para pelaku startup lokal. Percakapan saya edit demi alasan kepraktisan ruang tanpa mengurangi esensi utamanya.

 

Samuel Henry (SH): Menurut mas saga bagaimana pandangan mas Saga sebagai pelaku startup jika produk yang startup anda buat mengalami masalah seperti Uber? Padahal dari sisi bisnis produk itu bermanfaat dan menguntungkan tapi disatu sisi dianggap melanggar izin atau ilegal?

Saga Iqranegara (Saga): Legal atau ilegal itu kan masalah hukum. Produk yang kita buat memang manfaatnya besar buat orang lain, tapi kita juga harus juga melihat apakah terbentur dengan masalah hukum. Karena soal hukum atau legalitas tidak selalu mengenai buruk atau baik. Setiap negara punya standar masing-masing. Akan jadi bumerang juga akhirnya dan mubazir effort yang kita buat kalau ternyata yang kita buat tidak dianggap legal di negara tertentu.

uber

SH: Ada yang membandingkan masalah Uber ini dengan AirBnB. Ada pertanyaan kenapa Uber dianggap ilegal padahal bisnisnya sama-sama menohok industri sebelumnya yang sudah mapan. Dan ada pula membandingkan dengan contoh lokal seperti Gojek yang dianggap bagus dan menguntungkan penggunanya tapi malah bermasalah dengan kompetitornya yaitu pengojek lokal.

Saga : Seperti yang saya sebutkan tadi bahwa ilegal atau tidaknya itu tergantung hukum di satu negara. Bahkan mungkin di negara Amerika sendiri tidak semua negara bagian bisa sepakat setuju terhadap satu produk misalnya padahal sudah dalam satu negara. Jadi perlu diperhatikan sejak awal apa efek dari produk yang kita buat terhadap masyarakat atau segmen konsumen yang kita targetkan. Jangan kita hanya membuat produk yang menjadi solusi dan bermanfaat tapi harus bisa bertanggung jawab dari efeknya kepada masyarakat.

SH: Jadi dari awal perlu diperhitungkan apakah ada sekelompok masyarakat yang dirugikan atau hukum yang tidak bisa mengakomodasikan atau dianggap bertabrakan?

Saga : Ya. Seperti itu.

SH: Kalau misalnya ada yang dianggap tidak cocok atau bertabrakan, apakah kita langsung mengganti produknya ke bentuk lain, melakukan pivot dan menyiasatinya atau terus melanjutkan dan melihat hasilnya di lapangan?

Saga : Tergantung kita mau menyasar pasar yang mana? Karena legal atau ilegal itu kan tergantung peraturan dari satu wilayah? Contohnya kalau kita menyasar pasar global maka tidak mungkin semua negara melarang. Jadi kita fokus ke negara yang tidak melarang dulu. Sambil kita mengkalkulasi apakah ada potensi negatif yang bisa diperbaiki untuk negara yang melarang tadi. Karena masalah seperti ini bisa jadi memiliki kaitan dengan latar belakang manusia dan budaya setempat.

Mungkin di negara maju, hal seperti Uber sudah dianggap tidak masalah atau aman karena masyarakatnya mungkin sudah sadar penegakan hukum, teratur dan baik. Tapi apakah model seperti itu bisa dilaksanakan di Indonesia atau negara berkembang? Belum tentu!

SH: Kenapa?

Saga : Karena perilaku dan budaya yang berbeda. Apa yang sukses di luar negeri tidak serta merta sukses bila diterapkan di Indonesia.

SH: Jadi, bisa saja dianggap bila di negara tertentu masalah tidak muncul maka bisa diteruskan?

Saga : Ya.

gojekSH: Nah, saat ini kan model bisnis seperti Uber ditiru oleh startup lokal dengan konsep uber untuk ojek yaitu GOJEK. Dan walaupun belum ada izin resmi dan tidak mengalami masalah dengan pemerintah setidaknya untuk saat ini, tapi malah bermasalah dengan kompetitornya yaitu pengojek lokal. Nah, yang saya mau fokuskan adalah masalah kloning startup. Menurut mas Saga apakah model meniru seperti ini baik atau tidak? Setidaknya saat ini?

Saga: Kalau dari saya sih tidak masalah dengan model kloning seperti itu selama ada penyesuaian dan modifikasi untuk suatu pasar. Jadi jangan hanya meniru saja karena hasilnya bisa dipertanyakan nanti.

Demikian sebagian dari hasil perbincangan saya dengan mas Saga. Saya sendiri menduga akan muncul beberapa trend kloning untuk membuat berbagai model “Uber untuk X” di Indonesia. Saya setuju bahwa perlu dibuat penyesuaian dan modifikasi agar peluang berhasil lebih besar dan kegagalan bisa diminimalkan.

Bagaimana menurut anda? Apakah anda punya pandangan lain? Atau sudah ada pengalaman sejenis seperti ini?

 

Note Link: FB Saga Iqranegara

 

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.