Home / Edukasi / Studio Progress: Lots of Learning!

Studio Progress: Lots of Learning!

Setelah hampir 1 bulan mendampingi tim yang beraliansi dengan GITS Production, saya membuat report singkat di artikel ini.

Daily Coaching Model

Saya mencoba menerapkan strategi “Daily Coaching Model” agar bisa melihat progress dan cepat beradaptasi dengan perubahan/tantangan yang dialami semua tim setiap hari. Model ini saya pilih karena saya tidak yakin kalau model berkala lainnya (mingguan khususnya) akan efektif. Setidaknya di bulan pertama dan kedua, model ini akan sangat membantu untuk membangun sistem sekaligus kultur kerja.

Dokumentasi kegiatan GITS Production

Suasana kegiatan sehari-hari di Studio GITS

Tentunya banyak yang terjadi di awal kegiatan ini seperti:

  • model kerja yang harus disepakati
  • jadwal dan kuantitas kegiatan (karena sebagian dari mereka bahkan masih aktif kuliah)
  • pemahaman yang benar untuk setiap role/peran kerja
  • dsb

Kelemahan Secara Umum

Secara teknis, sebenarnya kualitas dari semua tim sudah cukup. Bahkan sudah ada yang berkualitas pro tapi masih bisa ditingkatkan lagi. Tapi saya melihat bahwa kekuatan ini tidak akan maksimal jika tidak dibarengi dengan manajemen dan sistem yang harus ditata sedemikian rupa sejak awal. Masalah ini tidak langsung dipahami oleh anggota dari semua tim secara baik. Sebagian menganggapnya  masih tidak terlalu penting karena mereka masih fokus dengan kuliah. Dan hal itu tidak salah sebenarnya. Hanya saja, sebagai startup, semua anggota tim harus dengan sadar mau belajar membuat kesepakatan tertentu untuk menentukan arah dan pengembangan sistem dari masing-masing studio agar sesuai dengan visi dan misi studio mereka. Sampai disini, masih ada kesulitan lain yang menghadang yaitu bagaimana membuat semua rencana diatas bisa diimplementasikan dalam skedul dan rentang waktu yang bisa diestimasi dengan baik.

Tantangan

Ada beberapa tantangan yang harus bisa diselesaikan tiap studio game secara umum yaitu:

  • membuat desain game yang menyenangkan sekaligus menjual
  • membuat skedul kerja yang efisien dan realistis
  • mengevaluasi kinerja setiap hari/minggu/tahap yang ditentukan
  • merilis game sesuai dengan target rilis

Sekilas tidak ada yang aneh dengan daftar diatas, tapi yang saya maksud adalah hasil dengan tingkat kualitas industri dan bukan kualitas amatir. Besar perbedaan antara keduanya. Dari pengamatan saya, kelemahan yang terbesar adalah di bidang skedul kerja dan desain yang menjual. Kedua aspek ini sangat menentukan sebenarnya, tapi sayangnya kebanyakan startup sangat lemah dalam hal ini. Kelemahan itu kebanyakan karena ketidaktahuan dan ketidakmampuan karena tidak adanya bimbingan yang dijadikan referensi atau tolak ukur kinerja. Disini saya mencoba memerankan sebagai pembimbing selain sebagai fasilitator tentunya. Dalam keseharian, mereka sebenarnya cepat belajar dan itu menjadi salah satu faktor penunjang keberhasilan.

Hasil Sementara

Sejauh ini, hasil yang didapat cukup menggembirakan. Dari penjadwalan, semua tim sudah mampu setidaknya membuat jadwal yang bisa diikuti oleh anggota. Tidak sempurna tapi sudah mulai mendekati model industri. Disisi desain, kita semua saling berinteraksi dan memberikan ide baik dengan model brainstorming, diskusi nyeleneh bahkan bercanda tentang ide-ide sinting. Saya berusaha menciptakan atmosfir kreatifitas sekaligus kompetisi agar masing-masing tim tergugah untuk bergerak maju. Seperti yang kita ketahui, dalam dunia startup, mudah sekali mendapatkan ide, semangat berlebih ketika mulai eksekusi, namun ditengah jalan mulai kedodoran dan hal ini sering membuat kegiatan bisa berhenti sebelum game selesai dibuat.

Memang masih banyak yang masih harus dipelajari terutama bagian penjadwalan. Tidak mudah menjadi sebuah startup. Dengan keterbatasan finansial dan kebanyakan dari anggota masih aktif kuliah, tantangan berikutnya adalah bagaimana mengatur waktu (time management) antara pribadi dan kegiatan tim.

Jujur saja, walaupun saya mencoba menerapkan standar industri kepada mereka, di beberapa bagian saya banyak beradaptasi juga. Saya memahami kendala jika kondisi riil di dunia nyata harus saya paksakan disini. Tapi disisi lain, saya terus mengarahkan tim agar bertindak sesuai dengan jadwal dan desain yang sudah dibangun dari awal. Artinya harus ada konsistensi dan disaat bersamaan mereka harus bisa mengimbangi berbagai masalah yang muncul dengan improvisasi. Disini skill teknis tidak lagi dominan, tapi harus digabung dengan kemampuan manajemen tim dan seni komunikasi baik internal tim juga dengan saya. Ya, masih banyak yang dipelajari 😀

 

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.