Home / Edukasi / Tim Yang Kurang Lengkap – Learn From Failure Series

Tim Yang Kurang Lengkap – Learn From Failure Series

Jika anda sudah mengetahui faktor 1 dan kedua dari kegagalan startup adalah Membuat Produk Yang Salah dan Kehabisan Duit, maka faktor ketiga adalah Tim Yang Kurang lengkap.

Banyak founder yang mendirikan startup dengan komposisi tim yang tidak lengkap. Memang dari awal disebutkan bahwa startup bukanlah bentuk usaha yang langsung stabil dan tersebar komposisi dari pelakunya. Artinya biasanya startup muncul dari satu kalangan yaitu geek atau orang IT. Wajar saja kalau “bahasa” dan “gaya” mereka sama dan sejenis.

Tapi disini bukan soal kesamaan asal yang dibahas maupun persamaan karakter individu. Tapi lebih kepada komposisi pelaksana aktivitas atau skill dari usaha startup itu sendiri. Karena dari kalangan geek, maka semua merasa perlu memfokuskan diri ke bidang coding atau programming. Padahal tidak harus demikian adanya.

Sebagai entiti bisnis, startup juga tidak bisa lepas dari permasalahan bisnis. Bahkan bisnis adalah bagian yang terintegrasi dengan teknis. Jadi orang bisnis harus bergandeng tangan dengan bagian teknis. Sederhananya, jika founder memegang kendali teknis maka dia harus mencari mitra yang bisa memegang kendali bisnis biarpun sama-sama berlatar belakang teknis. Dan juga kelompok pendiri startup ini akan lebih lengkap bila muncul yang memegang bagian desain.

Desain disini bukanlah melulu masalah art atau tampilan visual. Tapi lebih kepada co-founder yang memfokuskan kepada pengaturan atau desain interaksi produk dengan user. Artinya, user dituntun untuk bisa menggunakan produk dengan semudah dan senyaman mungkin. User Experience adalah faktor yang utama yang harus diperhatikan dan dibangun oleh seorang UX Designer.

Ketiga bagian ini mewakili tiga komponen pelaksana didalam startup dan dapat dianggap ideal di awal. Sesuai dengan waktu akan ditambah dengan anggota tim yang lain. Jadi sejak awal komposisi yang ideal ini haruslah menjadi tujuan yang akan dicapai secepat mungkin.

Banyak dari startup yang tanpa sadar memilih rekan sejenis dan lupa membagi tugas dengan komposisi diatas tadi. Hasilnya apa? Karena tidak ada yang spesialisasinya berbeda, maka tidak ada faktor penyeimbang. Kalau ada ide membuat fitur, maka seluruh tim akan semangat dan melakukannya tanpa ada yang mengimbangi maupun mengevaluasi apakah fitur itu memang dibutuhkan user? Prioritaskah?

Dengan adanya variasi posisi dan bagian fokus pekerjaan, maka sebuah produk atau sebuah startup lebih berfunsi dengan baik karena akan ada keseimbangan secara tidak langsung yang disebabkan oleh perbedaan pemikiran akibat dari posisi kerja yang dimiliki. Contohnya, bagian bisnis akan bisa memberikan warning bila bagian teknis belum bisa memenuhi tenggat waktu (deadline) dari pekerjaan yang harus diselesaikan. Selain masalah finance yang menjadi pertimbangan dari bagian bisnis, juga faktor waktu untuk peluncuran dsb. Bagian bisnis akan terus mengkalkulasi hal-hal non-teknis dan menyesuaikannya dengan jadwal kerja dari bagian teknis.

Contoh kasus lain: Bisa saja sebuah fitur menjadi kurang diminati karena desain penggunaan kurang maksimal. Bagian dari startup yang memeriksa ini adalah bagian desain. Tentu tanpa ada yang menduduki posisi ini akan membuat produk menjadi kurang maksimal.

Idealnya, kerjasama dan kolaborasi dari 3 posisi inilah yang signifikan membuat sebuah produk lebih baik. Bila komposisi kurang lengkap maka potensi kesia-siaan akan lebih besar dan ini sama saja artinya akan buang waktu atau dana dengan percuma.

Pelajaran Yang Bisa Didapat:

  1. Bangun startup dengan memenuhi 3 bagian penting dari awal: bisnis, teknis dan desain
  2. Tiap posisi menjalankan fungsinya dengan tujuan untuk memaksimalkan produk yang dikembangkan
  3. Kesepakatan bukanlah tujuan akhir, tapi proses membuat produk lebih baik dengan menyesuaikan kepada jadwal dan dana yang tersedia menjadi acuan utama

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.