Home / Startup / To Clone or Not to Clone?
gojek

To Clone or Not to Clone?

Beberapa startup lokal mencoba membuat model bisnis yang sama (clone) dengan startup yang terbukti sukses di luar negeri. Apakah keputusan ini bijak? Dan apa saja yang perlu diperhatikan?

Beberapa waktu lalu saya melihat kecenderungan pelaku startup mencoba meniru kesuksesan dari produk aplikasi di luar negeri. Banyak diantaranya memang berasal dari kalangan startup juga. Contoh yang paling nyata adalah aplikasi dengan konsep “Uber for X”. Apakah Uber for X? Anda bisa melihat gambar dibawah ini sebagai info sekilas tentang model tersebut.

what-on-earth-is-uber-for-x_54a148e40e53e_w1500

Startup lokal yang terkenal menerapkan model seperti itu adalah Go-Jek. Jadi anda bisa menebak, Uber for Ojek, itulah konsep dasarnya. Lalu kenapa saya mengangkat topik ini? Karena kita bisa memandang model bisnis ini dari beberapa sudut pandang. Menarik bukan?

Beberapa pihak melihat Gojek sebagai fenomena unik dan contoh sukses sebuah startup yang berkiprah di pasar lokal dengan bantuan funding yang besar. Sebagian lagi mulai meragukan model bisnisnya karena saat ini banyak media mengabarkan bahwa perusahaan Gojek masih dalam keadaan rugi dan mengalami banyak kendala dengan pengemudi ojek sebagai mitra mereka.

Sebagian lagi melihat proses yang dialami Gojek adalah natural dan merupakan bagian dari bisnis. Tapi banyak yang tetap menolak dan tidak suka dengan konsep mereka, terutama dari kalangan kompetitor seperti ojek tradisional. Menurut anda sendiri, bagaimana posisi Gojek saat ini?

Terlepas dari kontroversi yang mengikuti Gojek, model bisnis yang mereka ikuti dari Uber tetap disukai beberapa kalangan pelaku startup lokal dan ditiru dengan masuk ke segmen atau industri yang berbeda. Kita tidak akan membahas industri mana yang paling banyak, tapi saya lebih menganalisa apakah startup anda cocok  meniru konsep seperti itu?

Beberapa Hal Yang Perlu Diperhatikan

Katakanlah startup anda tertarik dan ingin meniru konsep Uber for X tadi. Apa saja yang perlu anda perhatikan?

  1. Target Konsumen: Banyak startup yang mengabaikan hal ini. Mereka pikir dengan meniru konsep bisnis Uber for X maka target konsumen sudah pasti ada. Kalau tidak, kenapa banyak yang sukses menerapkannya? Walaupun sudah banyak yang berhasil, anda perlu memeriksa ulang di pasar dan lingkungan operasional anda apakah potensi pelanggan cukup besar? Bisa menghidupi operasional anda?
  2. Riset dan Data Pasar: Walau dalam konsep Lean Startup anda harus melakukan aktivitas GOOTB (Get Out Of The Building) dan menemukan bahwa ada kebutuhan akan masalah tertentu yang akan anda selesaikan dengan konsep bisnis anda, hal penting lain yang perlu anda dapatkan adalah data dari berbagai riset dan info terkait industri, pasar potensi dan demografis lingkungan dimana target konsumen anda berada. Data dari pemerintah, lembaga statistik dan yang lain akan membantu mempercepat validasi pasar yang anda kejar.
  3. Kompetitor: Yang saya maksud bukan startup lain yang sudah terlebih dahulu memberikan solusi sejenis, tapi lebih kepada kompetitor lain yang sudah menjadi pemberi solusi saat ini.  Anda harus bisa memvalidasi bahwa solusi yang anda berikan saat ini akan jauh lebih bermanfaat dibanding solusi yang sudah ada. Dengan kata lain, jika potensi pasar dari survey dan hasil riset positif, buktikan dengan mengetahui bahwa kompetitor anda bisa dikalahkan dengan solusi yang akan anda beri.
  4. Monetisasi: Fokuslah kepada sistem monetisasi dalam skala kecil sekalipun. Walau model funding seperti yang diterima Go-Jek mencengangkan dan membuat anda iri, kemungkinan untuk terjadi seperti itu tidaklah mudah. Jadi ingat dari awal bahwa anda berniat membangun bisnis dan bukan bertujuan agar startup anda didanai. Pemodal relatif lebih tertarik kepada startup yang sudah terbukti mendapatkan penghasilan walau masih kecil.

Keempat poin itu adalah titik awal yang perlu anda perhatikan ketika memutuskan akan mengikuti konsep bisnis Uber for X atau model sejenis lainnya (clone). Mengkloning bisnis tidaklah tindakan haram dan sudah banyak dibuktikan berhasil oleh berbagai perusahaan dari berbagai jenis usaha dan model bisnis. Tapi meniru mentah-mentah dan hanya memodifikasi seperlunya tetap mengandung resiko besar.

Mengkloning sebuah bisnis bisa dianggap sebagai shortcut. Tapi anda tetap harus melakukan pekerjaan rumah anda terlebih dahulu untuk memastikan kalau solusi yang sejenis ingin anda terapkan di startup anda.

 

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.