Home / Entrepreneur / Unggul Mana: Kreativitas vs Disiplin?
kreativitas dan disiplin

Unggul Mana: Kreativitas vs Disiplin?

Ada pendapat yang mengatakan bahwa kreativitas tidak boleh dibelenggu dengan disiplin karena bisa merusak esensi kebebasan dan luasnya petualangan imajinasi yang didapat. Benarkah demikian? Apakah disiplin itu hanya membuat kekakuan?

Mungkin anda sependapat karena mungkin membayangkan banyak seniman yang cenderung unik baik dari pikiran dan tampilan. Itu sebenarnya contoh yang usang menurut saya. Kini seniman banyak yang berpenampilan formal atau komplit bak selebritis dengan gaya bicara yang bahkan mengalahkan gaya orang kantoran.

Asumsi yang mengatakan kreativitas harus dibebaskan juga tidak sepenuhnya benar. Untuk melakukan proses imajinatif dan menghasilkan ide yang brillian memang membutuhkan suasana yang mendukung, salah satunya adalah bebas dari ketegangan dan ketidaknyamanan. Disitulah kebebasan ada untuk kreativitas. Namun, jika sepenuhnya ide dan imajinatif dibebaskan, maka banyak hal yang tidak baik bisa muncul. Jadi disini bisa dikatakan, sebuah hasil imajinasi harus diarahkan (dibatasi)  untuk tujuan yang baik.

Mungkin permasalahan muncul ketika persoalan ini masuk ke ranah persepsi. Sebuah ide bisa dipersepsikan berbeda oleh dua pihak atau lebih sesuai dengan sudut pandang mereka. Bahkan ide yang baik pun bisa menghasilkan pendapat yang berbeda satu sama lain dari sudut para pengamat. Jadi apakah sebuah ide hasil pemikiran kreatif harus dibatasi juga untuk penggunanya? Tentu saja. Disaat ini banyak ide yang bermunculan dan ada kecenderungan bahwa ide-ide tersebut hanya bisa diterima oleh sekelompok orang dan jarang bisa memuaskan banyak orang. Butuh waktu dan proses yang cukup lama untuk membuat pemikiran atau ide tersebut dapat berkembang dan digunakan semua pihak. Tetap ada kemungkinan tapi tidak banyak.

kreativitas dan disiplin

Disisi lain, disiplin dianggap sebagai satu bentuk kegigihan untuk mencapai satu tujuan tertentu. Bisa banyak artinya, tapi bayak yang sepakat bahwa disiplin bisa menempa seseorang yang memiliki keterbatasan untuk mencapai satu tingkat yang lebih tinggi bahkan lebih. Jadi disiplin digunakan sebagai tangga untuk pencapaian yang lebih. Bukankah itu adalah salah satu tujuan imajinasi/kreativitas juga?

Hmmm menarik juga ketika kita menyadari bahwa keduanya memiliki persamaan yaitu meningkatkan pemikiran ke level yang lebih tinggi. Bagaimana jika bisa disatukan daripada alih-alih dipertentangkan? Apakah kedua hal yang sekilas bertolak belakang ini bisa disinergikan?

Mungkinkah kreativitas yang ditopang oleh disiplin bisa menghasilkan output yang lebih brillian atau powerfull? Seperti gambar diatas yang menggambarkan seorang penulis pemula berkultivasi dari posisi penulis pemula sampai jadi penulis terkenal. Kita tidak  menampik bahwa kreativitas yang dituangkan dalam bentuk tulisan haruslah bebas dan luas cakupan imajinasinya. Bisa melewati ambang batas waktu, negara, zaman dan hal lainnya agar bisa menjadi satu pemikiran yang brillian. Tapi tanpa disiplin menulis maka bisa jadi dia menyerah ditengah jalan.

Sejalan dengan kegagalan yang dihadapi, penulis pemula itu harus gigih terus untuk menghasilkan tulisan yang bagus. Tentu saja tulisan itu adalah hasil kreativitas yang luas pula. Kalau anda lihat di infografik tersebut, penampilan penulis juga berubah seiring perkembangan dirinya. Artinya, dia juga mengadaptasikan diri secara ekonomi dan penampilan yang menunjang performance diri didepan penggemarnya. Apakah perbaikan terus menerus itu bukan bagian dari disiplin?

Dan ketika dia sukses, apakah disiplin itu berhenti disitu saja? Dan penulis itu tidak menghasilkan tulisan bermutu lagi? Anda pasti berpendapat bahwa dia harus terus meningkatkan baik mutu dan jumlah tulisan bukan? Ya, itulah disiplin. Apakah kreativitasnya sudah cukup? Malah sebaliknya, semakin luas sesuai dengan kemampuan (pengalaman) yang dimilikinya.

Jadi, mudah disimpulkan bukan? Disiplin sangat menunjang pencapaian kreativitas diri kita.

Lagipula, kira-kira alasan apa Tuhan menempatkan otak kiri dan otak kanan bersebelahan di kepala kita? Hmm…. saya tertarik mendengar pendapat anda…

 

 

 

 

 

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.
Samuel Henry says:

Sayangnya banyak yang tidak bisa membedakan, mana disiplin diri dan mana yang aturan… atau mungkin aturan lebih dipilih karena ada akibat langsung ya?