Home / Entrepreneur / Yang Tersulit: VALIDASI

Yang Tersulit: VALIDASI

Mengalahkan diri sendiri adalah bagian yang paling sulit dalam sebuah aktivitas usaha. Apalagi jika kita sering ditanamkan agar selalu percaya diri dan pantang menyerah. Tapi pada kenyataannya paham itu tidak bisa digunakan dengan gampang.

Sudah sifat dasar manusia untuk mempertahankan pendapatnya dan juga terikat secara emosional dengan hal yang dibangunnya dari awal atau dengan menggunakan tangannya sendiri. Demikian juga dengan ide bisnis atau ide-ide lainnya. Kita memang bisa berbicara dengan rendah hati jika ada orang memuji betapa hebatnya ide tersebut, tapi dengan cepat kita bisa mempertahankannya mati-matian ketika ada orang mengkritik bahkan memandang remeh.

Pada dasarnya ide hanyalah sebuah cetusan pikiran. Berawal dari berbagai induksi baik pemahaman maupun pengalaman langsung atau tidak langsung yang kita alami. Kita mengkalkulasinya dengan sedemikian rupa dan pada satu tahap tertentu kita setuju dan berpendapat bahwa ide itu bisa digunakan serta bermanfaat. Tapi ibarat persepsi, sebuah ide juga memiliki arti yang berbeda kepada tiap orang.

Masalah utamanya adalah bagaimana meyakinkan orang lain bahwa ide itu juga bagus seperti kita memandangnya. Pemahaman atau persetujuan tidak datang seketika dan memiliki banyak tahapan atau proses. Istilahnya proses itu dianggap sebagai bagian dari pembuktian atau validasi.

Memvalidasi sebuah ide memerlukan ketentuan tertentu. Salah satunya adalah kelepasan kita dari ide tersebut secara emosional. Artinya, kita tidak boleh marah atau kesal jika orang lain menganggap ide itu buruk. Sebaliknya kita harus mencari alasan dengan benar, mengapa dikatakan buruk?

Validasi adalah proses yang tersulit bagi startup karena tidak hanya melawan pengaruh emosi yang sangat kuat, namun juga harus melewati keinginan “ingin cepat” atau instan yang sering menggoda startup untuk membypass proses yang seharusnya dilakukan dengan layak. Memvalidasi ide dengan baik adalah tuntutan yang sangat krusial bagi perkembangan sebuah startup. Jika kita tidak mau dengan jujur menerima atau belajar dari sudut pandang orang lain (kompetitor, calon pelanggan, dsb) maka kita akan mudah terjungkal karena proses validasi adalah langkah awal untuk menguji apakah proses yang kita lakukan bisa membuktikan bahwa ide itu berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut.

Kalau ditahap awal ide yang kita miliki sudah tidak bisa kita buktikan berpotensi? Lalu bagaimana di tahap berikutnya? Sangat tidak rasional kalau kita menganggap bahwa orang lain yang tidak belajar mengerti betapa hebatnya ide yang kita miliki. Itu hanya bentuk dari pemaksaan yang tidak kentara saja. Namun hasilnya akan sama: kegagalan.

Jika kegagalan ini tidak kita terima dengan jujur ditahap awal, lalu apakah yang akan muncul nanti? Tidak lain adalah rasa frustrasi. Mungkin beberapa waktu kita bisa menipu diri sendiri dan berkeras bahwa ide kita adalah baik dan unggul tanpa kita bisa buktikan. Salah satu cara pembuktian yang cukup praktis dan sederhana adalah dengan menanyakan kepada orang lain yang kita anggap memang membutuhkan solusi sesuai dengan ide yang kita miliki.

Jika mereka memang suka, apakah mereka mau membeli? Apakah ide kita itu termasuk penting bagi mereka?

Tentu anda bertanya: berapa lama dan berapa banyak orang yang harus setuju kepada ide yang kita miliki? Sederhana saja, katakan anda baru yakin jika sudah ada 10 orang yang anda temui dan 7 diantara setuju bahkan ada sebagian yang terang-terangan ingin membeli, maka itu adalah satu tanda yang baik.

Tapi sebaiknya kita memvalidasi bukan dengan janji-janji muluk akan solusi yang kita tawarkan. Validasi di tahap ini untuk startup adalah membuktikan bahwa ide kita itu datang dari sebuah permasalahan yang layak untuk dipecahkan. Ide kita juga meliputi solusi yang mereka idam-idamkan atau setidaknya lebih bagus dari solusi yang ada saat ini.

Memvalidasi ide membutuhkan “harga”, selain tenaga dan upaya, juga waktu dan kesabaran untuk menunggu hasil yang pantas untuk diyakini.

Meyakini sesuatu harus diimbangi dengan upaya membuktikannya secara nyata dan terukur yang bisa dibuktikan oleh pihak lain. Jadi bukan rekayasa dan modifikasi tertentu.

Nah, apakah anda sudah pernah memvalidasi ulang ide-ide terbaik anda?

 

About Samuel Henry

Saya seorang Gamer. Itu pekerjaan utama saya, sementara sampingan yang lain adalah Pembicara baik untuk bidang Teknologi & Softskill, juga sering menjadi Coach & Trainer untuk bidang IT, saya penulis buku, dan saat ini saya menjadi Mentor di Jogja Digital Valley (JDV) Hobby saya menulis, melukis dan menggambar serta mendengar musik. Saya suka topik kreativitas, karena saya percaya kita mendapat anugerah kreatif agar kita tidak lupa menjadi bagian dari Pencipta.